
Abigail masih berada di halte bus, air matanya bahkan tidak berhenti mengalir. Dia sudah duduk di sana begitu lama dalam keadaan basah, entah kenapa bus tidak juga lewat sedari tadi bahkan taksi pun tidak. Mungkin karena hujan yang semakin deras, jalanan bahkan terlihat begitu sepi.
Dia benar-benar tidak menyangka Sarah dan Harold menjalin hubungan dan yang paling tidak dia sangka adalah pengkhianatan sahabat baiknya. Setiap penghinaan yang diucapkan oleh Harold benar-benar menyakiti perasaannya belum lagi dengan pengkhianatan yang Sarah lakukan.
Apa mereka sudah bersama sejak lama tanpa dia ketahui? Ternyata cinta yang Harold ucapkan untuknya selama ini benar-benar palsu belaka dan dia sudah tertipu akan hal itu. Tidak saja ditipu oleh Harold, tapi dia juga ditipu oleh orang yang sudah dia anggap sebagai sahabat baik.
Abi memandangi hujan yang tidak juga reda, tubuhnya bahkan sudah menggigil karena dingin. Sepertinya dia tidak punya pilihan lian selain meminta bantuan Justin, walau dia tidak mau merepotkan pria itu tapi dia tidak mau mati di halte bus, jangan sampai dia menjadi mayat paling gemuk yang ditemukan di halte dan jangan sampai karena hal itu dia menjadi bahan tertawaan Sarah dan Harold.
Abi mengeluarkan ponselnya yang basah, entah kenapa dia jadi ragu. Apakah Justin akan memandangnya seperti Harold? Jijik dengan bentuk tubuhnya, apakah Justin seperti itu juga? Ponselnya kembali di simpan, sebaiknya dia pulang setelah hujan reda karena dia takut Justin seperti Harold.
Gadis itu kembali memandangi air hujan tapi kemudian dia mengambil ponselnya kembali. Semoga saja Justin tidak seperti Harold. Lagi pula mereka teman, tidak memiliki hubungan spesial walau dia sempat berpikir, jika gadis yang disukai oleh Justin adalah dirinya.
Saat itu Justin masih rapat, perhatiannya tertuju pada ponsel yang dia letakkan di atas meja saat benda itu berbunyi. Dia bahkan tidak ragu menjawabnya ketika melihat nama Abigail. Justin mengangkat tangannya, meminta semua untuk tidak berbicara dan setelah itu Justin menjawab telepon dan Abi.
"Justin, apa kau sibuk?" tanya Abi tanpa basa basi.
Justin melihat ke arah karyawannya lalu dia menjawab, "Tidak!"
"Jika begitu bisakah kau menjemput aku? Maaf aku tidak bermaksud merepotkan tapi tidak ada bus dan taksi yang lewat akibat hujan yang semakin deras," ucap Abigail.
"Di mana kau sekarang?"
"Halte bus yang ada di dekat rumah Sarah."
"kenapa kau di sana? Kenapa kau tidak ke rumah Sarah saja?" tanya Justin heran.
"Aku tidak mau, aku tidak mau bertemu dengannya lagi, aku juga tidak mau bersahabat dengannya lagi!"
__ADS_1
Justin mengernyitkan dahi, apa yang telah terjadi? Dia dapat mendengar tangisan Abigail. Kenapa Abi berada di Halte bus di tengah-tengah hujan seperti ini? Sepertinya ada yang tidak beres, entah kenapa dia punya firasat seperti itu.
"Aku akan ke sana, jangan pergi ke mana pun dan tunggu aku di sana baik-baik!" ucap Justin.
"Aku tunggu, maaf merepotkan."
Justin mematikan ponsel dan berjalan mendekati kursi di mana jasnya berada. Dia akan segera pergi karena dia tidak ingin membuat Abi lama menunggu.
"Ben, gantikan aku!" pintanya.
"Hei, kau mau ke mana?" tanya Ben heran.
"Gantikan saja tanpa banyak bertanya! Jika ada yang tidak becus langsung pecat!" setelah berkata demikian, Justin keluar dari ruang rapat.
"Well, i am the bos now!" Ben duduk di kursi Justin dan memandangi rekan kerja yang ada di sana lalu dia berkata, " Oke guys, yang tidak becus akan aku kirim ke Amazon dan menjadi pawang ular pitonn di sana!" ucapnya bercanda. Kapan lagi bisa menakuti mereka semua? Dan lihatlah, semua saling pandang lalu menunduk.
Kedua tangannya bahkan terasa membeku, dia melihat ke arah mobil yang sesekali lewat dan berharap jika itu adalah Justin. Mungkin bukan pilihan baik meminta bantuan pria itu tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia tidak akan mau ke rumah Sarah lagi karena mulai sekarang, mereka bukan sahabat lagi.
Matanya benar-benar sudah terbuka lebar, sahabat yang dia anggap begitu baik ternyata tidak lebih dari pada iblis. Semua penghinaan yang Harold berikan, akan dia ingat sampai kapan pun juga.
Justin mencari halte yang dimaksud oleh Abi, matanya tidak lepas dari setiap halte bus yang dia lewati. Ketika sudah melewati rumah Sarah, dia tampak terkejut melihat Abi sedang duduk sendiri di halte bus sambil memeluk dirinya yang basah. Apa yang telah terjadi dengan gadis itu?
Justin membawa mobilnya dengan cepat, dia tidak tega melihat keadaan Abigail. Apa pun yang terjadi, dia rasa ada hubungannya dengan si mantan. Mobil Justin berhenti, pria itu keluar tanpa mempedulikan air hujan yang membasahi tubuhnya.
"Abi, kenapa kau di sini dalam keadaan basah?" tanya Justin.
"Justin," Abi mendekatinya, tanpa Justin duga Abi memeluknya sambil menangis.
__ADS_1
"Justin, mereka pengkhianat!" ucap Abigail.
"Siapa?" tanya Justin ingin tahu.
"Sarah dan Harold, mereka pengkhianat!" Abigail menangis, menumpahkan kesedihannya.
Justin diam, dia sangat ingin tahu tapi dia tidak bisa membiarkan Abigail dalam keadaan basah terlalu lama. Jangan sampai gadis itu sakit apalagi dia bisa merasakan jika tubuh Abi menggigil dan terasa dingin. Justin memegangi wajah Abigail, wajahnya tampak pucat dan matanya terlihat membengkak akibat terlalu lama menangis.
"Kita bicarakan hal ini nanti, tapi sebaiknya keringkan tubuhmu terlebih dahulu. Jangan sampai kau sakit," ucap JustinĀ seraya menghapus air matanya.
Abigail mengangguk, Justin melepaskan jas yang dia pakai dan menggunakannya di bahu Abi. Justin meraih tangan gadis itu dan membawanya menuju mobil. Dia akan membawa Abi pulang karena dia ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di antara Abi dan Sarah juga Harold.
Jika pria bernama Harold itu keterlaluan, maka dia tidak akan sungkan apalagi jika sampai menghina Abigail.
Abi termenung selama di mobil. dia bahkan tidak begitu fokus memperhatikan jalanan sehingga dia tidak sadar jika Justin tidak membawanya pulang ke rumahnya. Rasanya benar-benar menyakitkan saat mengingat penghinaan Harold dan juga pengkhianatan Sarah.
Abi terkejut saat Justin memanggilnya karena saat itu mereka sudah tiba. Abigail melihat sana sini, dia terlihat linglung karena mereka tidak berada di rumahnya.
"Justin, kau bawa aku ke mana?" tanya Abi dengan ekspresi heran.
"Rumahku," jawab Justin seraya mengulurkan tangan.
"Ke-Kenapa kau bawa aku ke sini?"
"Aku ingin tahu apa yang telah terjadi tapi keringkan dulu tubuhmu."
Abigail mengangguk dan menerima uluran tangan Justin, matanya melihat sekeliling dan dia jadi teringat sesuatu. Bukankah Justin tinggal di dekat stasiun yang ada di Broklyn?
__ADS_1
Justin menggandeng tangan Abi menuju rumah pribadinya, sedangkan Abi terkejut melihat rumah mewah berlantai dua yang ada di depannya. Sebenarnya siapa Justin? Bukankah dia hanya pelatih fitnes saja?