Mencintaimu Apa Adanya

Mencintaimu Apa Adanya
Chapter 56


__ADS_3

Beberapa waktu telah berlalu, Harold dan keluarganya sudah tidak datang mencari Abigail lagi karena perusahaan mereka sudah jatuh. Kabar kebangkrutan perusahaan mereka menjadi berita utama di setiap majalah bisnis yang ada.


Mereka benar-benar kalah telak hanya karena kalah bersaing dengan perusahaan kecil yang Justin dirikan untuk melawan perusahaan mereka. Hal itu benar-benar tanpa diduga, kehancuran mereka bahkan masih menjadi buah bibir bagi para pengusaha yang pernah menjalin kerja sama dengan mereka.


Harold dan kedua orangtuanya sudah pindah, mereka tidak sanggup mendengar cibiran yang diberikan untuk mereka. Dulu mereka begitu angkuh dan selalu beranggapan jika mereka adalah keluarga kaya raya dan bermartabat tapi siapa yang menduga, hanya dalam beberapa bulan saja perusahaan mereka langsung jatuh ke dalam dasar jurang.


Entah ke mana mereka pergi, yang pasti mereka pergi dalam penyesalan terutama Harold, tidak saja menyesali perusahaannya yang telah jatuh, tapi dia juga menyesal telah meninggalkan Abigail dan menyia-nyiakannya. Jika dia tidak meninggalkan Abi waktu itu, apa semua ini akan terjadi?


Sepertinya tidak karena dia tidak akan berhadapan dengan Justin dan perusahaannya tidak akan jatuh tapi semua yang sudah terjadi tidak akan kembali lagi. Hanya penyesalan saja yang tersisa atas semua yang telah terjadi.


Tidak mereka saja, Sarah juga tidak jauh berbeda. Dia benar-benar lelah dikejar oleh penagih hutang. Dia bahkan dipecat karena para penagih hutang itu mengejarnya sampai ke butik.


Terkadang dia pergi mencari Abi tapi sayangnya, Abi tidak menghiraukan dirinya apalagi dia sangat sibuk mempersiapkan pernikahannya. Sarah tidak berdaya, tidak ada satu teman pun yang mempedulikan dirinya. Sekarang dia benar-benar menyesal mengkhianati persahabatannya dengan Abi, seharusnya dia tidak menghancurkan persahabatan mereka dan mungkin saja dia tidak akan jadi seperti itu saat ini.


Semua penyesalan atas apa yang telah mereka lakukan harus mereka rasakan, mereka jatuh pada titik terdalam tapi tidak dengan Abigail. Pengkhianatan yang dia dapatkan telah mengubah dirinya apalagi dibantu oleh pria yang menyukainya sejak lama.


Banyak yang telah mereka lewati bersama dan hari ini adalah hari pernikahan mereka berdua. Abi sudah terlihat cantik saat itu, dia berada di sebuah ruangan bersama dengan ibunya menunggu acara dimulai.


Sebuah gaun indah dia kenakan, mahkota bertahta berlian sudah berada di atas kepala. Tidak hanya itu, kalung dan juga anting-anting yang bertabur berlian mempercantik penampilannya hari itu.


Acara pernikahan mereka akan diadakan di taman terbuka di sebuah hotel dan tentunya itu hotel milik ayah Justin. Mereka akan mengadakan pesta taman, dan saat malam mereka akan mengadakan pesta di dalam hotel.


"Bagaimana dengan penampilanku, Mom?" tanya Abigail.


"Tidak perlu gugup, kau terlihat begitu sempurna," puji ibunya.


"Apa Daddy sedang mengawasi Justin?" tanya Abi lagi.


"Abi, Justin dan Harold tidak sama. Justin tidak akan meninggalkanmu di acara pernikahan kalian seperti yang Harold lakukan. Sudah banyak yang dia lakukan untukmu, apa kau tidak mempercayainya?"


"Bukan begitu, Mom. Aku sudah pernah ditinggalkan saat seperti ini jadi ini adalah rasa takut yang ada di hati."


"Baiklah, tapi kau tidak perlu khawatir karena Justin tidak akan meninggalkan dirimu."


Abi mengangguk dan tersenyum, dia tampak sudah tidak sabar agar acara itu cepat dimulai.


Di luar sana, para tamu undangan sudah berdatangan. Mereka yang diundang tentu tamu penting. Ben dan istrinya yang sedang hamil juga datang. Para tamu sudah duduk di tempat mereka masing-masing. Taman sudah di sulap dengan begitu cantik, bunga-bunga berwarna putih sudah tersusun rapi di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh Abigail menuju altar nanti.

__ADS_1


Seorang pendeta juga sudah siap, kedua orangtua Justin juga sudah berada di tempat mereka. Acara sebentar lagi akan dimulai, Justin sudah naik ke atas altar saat itu karena dia sudah tidak sabar menjadikan Abigail sebagai miliknya.


Ayah Abigail kembali ke dalam ruangan untuk memanggil putrinya. Dia harap putrinya sudah siap karena acara sudah akan dimulai.


"Girl, apa kau sudah siap?" tanya sang ayah.


"Apa sudah waktunya?" tanya Abigail.


"Yes, lima menit lagi."


"Oh my God, aku tiba-tiba jadi gugup," ucap Abi.


"Tidak perlu gugup, Sayang. Kau harus percaya diri," ucap ibunya.


"Thanks, Mom. Sepertinya aku sudah harus keluar," ucap Abi tapi sebelum dia beranjak, sang ibu memeluknya.


"Mommy sangat berharap, kau bahagia setelah menikah dengan Justin. Jadilah istri yang baik untuknya, kali ini kau tidak salah memilih karena kami bisa melihat jika dia begitu mencintaimu tapi jangan karena dia begitu mencintaimu lalu kau bisa seenak hatimu. Kau harus menjaga perasaan suamimu dan jangan sampai mengecewakan dirinya."


"Pasti, Mom. Semua yang telah terjadi menjadi pelajaran paling berharga dalam hidupku dan aku, tidak akan mengecewakan Justin."


"Bagus, sudah saatnya," pelukan mereka terlepas, ibunya memperhatikan penampilan Abi sebelum putrinya keluar.


Mereka tidak bisa berlama-lama, karena sudah waktunya. Mereka keluar dari ruangan, ibu Abi berpisah dengan mereka karena dia sudah harus berada di tempat pesta berbaur dengan kedua orangtua Justin. Abi dan ayahnya sudah siap memasuki tempat acara, senyum Abigail tampak mekar saat sang ayah melihatnya.


"Apa kau sudah siap, Girl?"


"Of course, Dad," jawab Abi sambil tersenyum.


Musik pernikahan yang dimainkan dari piano terdengar, Abi dan ayahnya melangkah menuju altar dengan perlahan melewati bunga-bunga putih yang sudah tersusun rapi di sepanjang jalan dan juga melewati tamu undangan yang sudah berdiri menyambut kedatangan mereka.


Justin terlihat tampan dengan tuxedo putihnya, dia terlihat tidak sabar ketika Abigail melangkah semakin dekat. Walau wajah Abi ditutupi dengan sebuah kain tipis, tapi dia bisa melihat betapa cantiknya pengantin wanitanya saat ini.


Justin bahkan turun dari atas altar untuk menyambut pengantin wanitanya, uluran tangan Abi dapatkan dari calon suaminya yang tampan. Mereka berdua tersenyum dan naik ke atas altar sedangkan ayah Abi bergabung dengan istrinya.


Musik pernikahan sudah berhenti dimainkan, para tamu undangan juga sudah kembali duduk. Suasana hening karena acara pengucapan sumpah akan segera dimulai. Abi terlihat gugup, dia tidak menyangka akan menikah dengan pria yang dia anggap sebagai teman dulu dan Justin juga tidak menyangka akan mendapatkan gadis yang dia sukai begitu lama.


Pendeta mulai membacakan janji pernikahan untuk mereka, mereka tidak ragu sama sekali saat mengucapkan sumpah setia di hadapan pendeta, tamu undangan dan juga kedua orangtua mereka.

__ADS_1


Sebuah cincin berlian indah dikenakan di jari manis Abigail, sekarang Justin sudah bisa mencium pengantinnya yang cantik. Penutup yang menutupi wajah Abigail dibuka, mereka berdua tersenyum dan tampak bahagia.


"I love you," ucap Justin dan setelah itu, Justin mencium pengantinnya dengan mesra.


Suara tepuk tangan tamu undangan terdengar, mereka sudah sah menjadi suami istri. Setelah mencium bibir istrinya, Justin memeluknya dengan erat. Abigail benar-benar terlihat begitu bahagia, kali ini pernikahannya tidak gagal karena dia menemukan pria tepat yang begitu mencintainya.


Mereka turun dari atas altar, para tamu memberi mereka selamat begitu juga dengan Ben. Dia sudah tidak sabar memberikan hadiah yang sudah dia siapkan untuk sahabat baiknya.


"Selamat untuk kalian berdua, ini hadiah dariku," ucap Ben seraya memberikan sebuah amplop pada Abigail.


"Thanks, apa ini?" tanya Abi.


"Tiket untuk kalian pergi berbulan madu. Itu tempat spesial, kalian akan berbulan madu di padang Savana yang ada di Afrika. Sepertinya kalian cocok jadi orang primitif di kelilingi binatang liar yang ada di sana," goda Ben. Dia hanya bercanda, untuk menggoda Justin.


"Hm, sepertinya kau tidak mengatakan jika kau baru saja mendapat bonus seribu lima ratus dolar pada istrimu, Ben," ucap Justin.


"Hei, sstt ... ini rahasia!" Ben meletakkan jari di bibir tapi sayang, istrinya sudah mendengar.


"Ben, jadi kau baru mendapat bonus?" sang istri sudah menekuk kepalan tangan.


"Tidak Sayang, Justin asal bicara."


"Oh ya? Jangan menipu jadi berikan padaku!" pinta istrinya.


"Hei, itu bonus yang baru aku dapat!"


"Aku tidak peduli!" Ben sudah ditarik oleh istrinya pergi.


"Ingat kesepakatan saat kita menikah, uang suami adalah uang istri sedangkan uang istri tetap uang istri!" ucap istrinya.


"Apa? Kapan kita membuat kesepakatan seperti itu?!" tanya Ben tidak terima.


"Ketika kau tidur di malam pernikahan kita!" jawab istrinya.


Justin dan Abigail tertawa, mereka masih melihat ke arah Ben yang dibawa pergi oleh istrinya. Sepertinya kehidupan rumah tangga Ben menyenangkan.


Justin merangkul pinggang Abi, wanita yang menjadi istrinya sekarang. Sebuah ciuman di dahi dia berikan, sedangkan Abigail tersenyum dan terlihat bahagia.

__ADS_1


"Ayo kita menyapa yang lain," ajak Justin.


Abi mengangguk, mereka menyapa tamu yang lain dan menikmati pesta pernikahan mereka yang masih panjang.


__ADS_2