Mencintaimu Apa Adanya

Mencintaimu Apa Adanya
Chapter 53


__ADS_3

Abigail dan Justin sedang sibuk mempersiapkan pernikahan mereka beberapa hari belakang. Itu sebabnya Sarah tidak bisa bertemu dengan Abigail karena dia ingin membujuk Abigail sesuai dengan permintaan Harold.


Ternyata tidak dia saja yang ingin bertemu dengan Abigail, kedua orangtua Harold juga ingin bertemu dengan gadis itu dan membujuknya. Sebelum mereka datang, Sarah datang terlebih dahulu. Dia harap bisa bertemu dengan Abigail hari ini.


Abi memang ada di rumah, dia tidak berencana pergi ke mana pun karena Justin sedang ada pekerjaan penting jadi Justin memintanya untuk tidak pergi ke mana-mana. Abi memang tidak pergi ke mana pun, dia lebih memilih beristirahat di rumah apalagi setiap hari dia dan Justin sibuk mempersiapkan pernikahan mereka.


Hari ini dia berencana tidur sampai sore. Abi tidak tahu saat itu Sarah datang mencarinya, dan yang menyambut Sarah adalah ibunya.


"Mau apa kau datang?" tanya ibu Abi dengan sinis.


"Aku ingin bertemu dengan Abi, Aunty," Sarah bersikap manis, apa pun yang terjadi dia harus bertemu dengan Abigail dan membujuknya.


"Dia sedang pergi dengan Justin!"


"Ke mana?"


"kau tidak perlu tahu!"


"Please, Aunty. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Abi," pinta Sarah memohon.


"Tidak, pergi kau! Apa kau mau aku lempar dengan es batu?" tanya ibu Abi dan dia sudah terlihat kesal.


"Aunty, please. Aku sangat menyesal telah mengkhianati persahabatan kami," Sarah menangis dan itu adalah air mata buaya yang dia tumpahkan agar tujuannya tercapai.


"Tidak perlu menangis, pergi sana!" pintu ditutup dengan kasar, sedangkan Sarah mengumpat kesal.


Mau tidak mau Sarah pergi dari sana tapi dia akan kembali lagi untuk bertemu dengan Abigail. Dia tidak akan menyerah untuk bertemu dengan Abi karena jika dia gagal, maka rumah dan mobilnya melayang.


Ibu Abi masuk ke dalam sambil menggerutu, hal itu membuat Abi sangat heran. Dia baru saja keluar dari kamar untuk mengambil air karena haus.


"Ada apa, Mom?"


"Sarah, dia ingin bertemu denganmu."


"Untuk apa?"


"Entahlah, aku tidak bertanya. Jangan terlalu banyak bicara dengannya, pasti dia datangan dengan tujuan tidak baik."


Abi mengangguk dan meneguk air minumnya. Dia juga tidak mau bertemu dengan Sarah lagi, karena sudah tidak ada yang perlu mereka bicarakan.


Setelah meneguk air minumnya, Abi keluar dari dapur. Dia ingin masuk ke dalam kamarnya tapi suara bel yang berbunyi menghentikan niat Abi. Abi melihat ibunya yang sibuk jadi mau tidak mau dia berjalan menuju pintu, mungkin itu Sarah yang kembali lagi.

__ADS_1


Pintu dibuka, Abigail terkejut melihat kedua orangtua Harold berdiri di depan pintu tapi kedua orang itu lebih terkejut lagi ketika melihat sosok Abigail yang berubah drastis.


"Abigail?" ibu Harold terlihat tidak percaya, dia bahkan melihat Abi dengan teliti.


"Abi, siapa yang datang?" tanya ibunya seraya menghampiri putrinya. Dia tampak terkejut melihat kedua orangtua Harold berada di depan pintu.


"Mau apa kalian ke sini?" tanya ibu Abi dengan sinis.


"Kami ingin berbicara dengan Abigail," jawab Ibu Harold.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, sekarang pergi!"


"Nyonya, kami ingin meminta bantuan Abigail untuk membujuk Justin Wycliff agar dia mau membantu perusahaan kami!" ucap ayah Harold tanpa basa basi.


"Masalah perusahaan kalian tidak ada sangkut pautnya dengan putriku jadi pergi temui Justin, bukan putriku!" jawab ibu Abigail dengan sinis.


"Hanya Abi yang bisa membantu kami, Nyonya. Jadi kami mohon bantuan darinya."


"Tidak!" terdengar suara ayah Abigail dan pria itu sudah berdiri di belakang putrinya.


"Abi, masuk ke dalam. Ini urusan kami dan kau tidak perlu berbasa basi pada orang yang sudah memandang rendah dirimu!" perintah sang ayah.


"Abigail, kami ingin berbicara denganmu!" ucap ibu Harold.


"Masuk!" perintah ayahnya dan setelah Abi masuk, pintu langsung di tutup oleh ayahnya.


"Ijinkan kami berbicara dengannya!" pinta ibu Harold, dia bahkan hendak menerobos masuk tapi ditahan oleh suaminya.


"Setelah kalian mempermalukan kami, apa lagi yang kalian inginkan?" tanya ibu Abigail.


"Dengar, Nyonya. Apa yang telah kami lakukan memang salah dan kami minta maaf," ucap ayah Harold.


"Tidak perlu basa basi, katakan saja apa yang kalian inginkan!" ayah Abi terlihat kesal.


"kami butuh Bantuan Abigail untuk membujuk Justin Wycliff agar dia mau membantu perusahaan kami. Hanya dia yang bisa menolong kami sekarang jadi kami mohon pada Abigail, bantulah kami karena perusahaan kami sudah di ambang batas," pinta ibu Harold memohon. Mau tidak mau dia harus melakukan hal ini karena dia tidak mau perusahaan mereka bangkrut.


"Perusahaan kalian mau di ambang batas atau tidak, apa hubungannya dengan Abigail? Kalian yang sudah membuangnya, kalian bahkan mempermalukan kami sehingga kami menjadi bahan cibiran hari itu dan sekarang, kalian ingin Abigail membantu kalian? Walau putriku polos tapi dia tidak bodoh!"


"Tolong maafkan perbuatan kami dan bantulah kami," pinta ibu Harold lagi.


"Tidak! Sebaiknya pergi karena Abi tidak akan membantu kalian!" usir ibu Abigail, seharusnya dia membawa centong nasi keluar.

__ADS_1


"Please, Nyonya. Kami mohon satu kali ini saja," ibu Harold benar-benar memohon, dia bahkan memegangi tangan ibu Abi tapi wanita itu menepisnya dengan cepat.


"Sampai kapanpun, putriku tidak akan membantu kalian jadi pergilah! Jangan mempermalukan diri kalian!" ibu Abi memutar langkah dan membuka pintu, dia muak melihat kedua orangtua Harold.


"Please Nyonya, hanya Abi yang bisa membantu!" ibu Harold masih memohon karena ini kesempatan mereka jadi jangan sampai mereka kembali tidak membawa hasil. Ibu Abi sudah masuk, sedangkan ayah Abigail masih berada di luar.


Dulu mereka memperlakukan putrinya sesuka hati dan sekarang mereka memohon bantuannya, apa mereka tidak memiliki rasa malu sama sekali?


"Sebaiknya pergi, jangan sampai aku melemparkan kalian ke dalam baling-baling pesawat!" ucap ayah Abi.


"Tuan, aku tahu telah terjadi kesalahpahaman di antara kita. Bagaimana jika kita berbincang?" ajak ayah Harold.


"Tidak ada yang perlu di bincangkan jadi sebaiknya kalian pergi!"


"Tuan, tolonglah sekali ini saja," pinta ibu Harold memohon.


"Tidak!" jawab ayah Abi sambil memutar langkah.


"Tolong bantulah kami, Abigail!" teriak ibu Harold putus asa.


Teriakannya semakin terdengar saat ayah Abi masuk ke dalam dan menutup pintu. Kedua orangtua Harold masih memohon di luar sana, tapi ayah Abi tidak peduli. Setelah menghina dan mempermalukan putrinya, beraninya mereka datang dan meminta bantuan setelah tahu Abi menjalin hubungan dengan Justin?


Mereka sangat bersyukur Abi tidak jadi menikah dengan Harold karena hampir saja mereka memiliki besan yang begitu memalukan.


"Bagaimana, Dad?" tanya Abigail saat ayahnya menghampiri mereka.


"Tidak perlu dipikirkan, anggap mereka orang gila. Aku sangat bersyukur kau tidak jadi menikah dengan Harold karena aku akan sangat malu memiliki besan seperti mereka berdua!" ucap sang ayah.


"Seharusnya aku membawa centong nasi tadi," ucap sang ibu.


"Aku bahkan ingin melempar mereka ke dalam baling-baling pesawat!" ucap sang ayah pula.


"Memangnya kau bisa, Dad?" tanya Abigail.


"Tentu saja, buat papan pengungkit lalu injak arah yang berlawanan. Biarkan mereka terlempar dan menabrak pesawat, mereka harus merasakan kekuatan lemak di perut ini!" ucap ayah Abi seraya menepuk perutnya yang buncit dan dipenuhi lemak.


Abi dan ibunya tertawa, sepertinya bukan ide buruk. Mereka bisa membuat sebuah papan pengungkit sebagai pengganti papan yang ada di lantai lalu ketika Sarah, Harold dan kedua orangtuanya datang, ayahnya tinggal menginjak ujung papan yang berlawanan lalu mereka akan terpental jauh.


Mereka tertawa saat membayangkan hal itu, sedangkan di luar sana, kedua orangtua Harold frustasi. Apa perusahaan mereka benar-benar tidak memiliki harapan lagi?


#Aku akan kebut kisah ini dan aku selesaian ini dulu ya baru kerjain Damian, bulan depan aku udah mau fokus ke Fi**zo jadi aku mau segera selesaian tulisan yang ada di sini#

__ADS_1


__ADS_2