
Pesta masih berlangsung, Abi sudah mengganti gaun pengantinnya dan menggunakan gaun malam. Acara sudah berpindah ke ballroom yang ada di hotel, para tamu menikmati pesta yang disuguhi makanan lezat dari koki handal yang bekerja di restoran ibu Justin.
Semua makanan yang tersedia tidak habis-habisnya, semua tamu bisa menikmati apa saja yang mereka suka. Abi bahkan makan beberapa jenis makanan yang ada. Jika saat itu dia adalah Abi yang dulu, dia rasa dia tidak akan pulang sebelum semua makanan itu habis tapi sekarang sudah berbeda, dia bahkan sudah tidak bisa makan banyak karena pola makannya yang sudah berubah.
Pesta yang belum selesai membuatnya lelah, Abi lebih memilih duduk sendiri sedangkan Justin masih berbincang dengan beberapa tamu. Sebenarnya dia sudah tidak tahan, rasanya sudah ingin segera membawa Abigail pergi apalagi ini adalah malam pernikahan mereka tapi dia juga tidak bisa mengusir para tamu yang ingin berbincang dengannya.
Mata Abigail melihat sana sini dan tiba-tiba dia jadi teringat dengan Sarah. Entah bagaimana dengan wanita itu sekarang, walau dia berlagak tidak peduli tapi dia sedikit mengkhawatirkan mantan sahabatnya itu.
Abigail termenung, dia bahkan tidak menyadari ketika Justin menghampirinya. Justin memandanginya dengan tatapan heran, dia ingin mengajak Abi pergi karena ayah dan ibu mereka yang akan mengambil kendali. Bagaimanapun Abigail sudah terlihat lelah.
"Abi, apa yang kau pikirkan?"
Abi tidak menjawab karena dia masih melamun.
"Hei!" Justin memegangi tangannya sampai membat Abi terkejut.
"Kenapa kau melamun?" tanya Justin lagi.
"Bosan," jawab Abi karena dia memang bosan.
"Mau berdansa?"
"Tidak, kakiku sakit gara-gara high heels ini!" jawab Abi sambil menunjuk sendal hak tingginya yang tinggi.
"Jika begitu ayo pergi istirahat."
"Pestanya?"
"Daddy yang akan mengambil kendali."
Abi tersenyum saat Justin mengulurkan tangan. High heels yang dipakai pun dilepaskan karena dia rasa kakinya sudah terluka, Itu karena dia tidak pernah menggunakan heels apalagi saat tubuhnya masih gemuk. Flat shoes selalu menjadi pilihan tapi hari ini, dia harus menggunakan sendal hak tinggi itu hampir satu hari penuh.
"Berikan padaku," pinta Justin.
"Aku bisa membawanya," tolak Abi.
"Berikan" pinta Justin.
Abi memberikan heels-nya dan setelah itu, Justin menggandeng tangannya. Mereka melewati tamu undangan untuk menuju lift. Sebuah kamar exclusive sudah disiapkan untuk mereka beristirahat sehingga mereka tidak perlu pergi ke mana-mana dan tentunya mereka menaiki lift khusus yang langsung terhubung dengan kamar itu.
"Apa kakimu masih sakit?" tanya Justin.
__ADS_1
"Tidak," jawab Abi sambil menggeleng.
Justin melihat angka di lift, tinggal beberapa lantai lagi. Sepertinya dia harus memberikan obat di kaki Abi nanti. Lift sudah berhenti, pintu juga sudah terbuka. Kunci kamar sudah berada di tangan dan saat itu Justin berjongkok di depan Abigail.
"Sini aku gendong," ucapnya.
Abi tidak membantah, dia naik ke atas punggung suaminya tanpa ragu. Justin menggendongnya keluar dari lift dan menuju kamar mereka. Kamar itu memang kamar spesial, bahkan jarak kamar lumayan jauh dari kamar yang lain karena ukuran kamar juga begitu luas.
Justin membawa Abi masuk ke dalam kamar yang akan mereka tempati, mata Abi melihat sana sini, dia jadi gugup saat Justin menurunkannya di sisi ranjang.
"A-Apa kita akan tidur di sini?" tanya Abi dengan wajah memerah.
"Yes, apa kau mau tidur di luar?" goda Justin.
"Tidak, aku kira kita akan pulang."
"Kita akan pulang besok jadi malam ini kita menginap di sini."
"Ba-Baiklah, aku mau mandi!" Abi melarikan diri, menuju sebuah pintu yang dia rasa itu adalah kamar mandinya.
"Hei, kakimu!" teriak Justin tapi Abi sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Abi memegangi jantungnya yang berdebar, wajahnya bahkan memerah. Dia sungguh malu memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ju-Justin," Abi menutupi tubuhnya dengan terburu-buru.
"Aku juga mau mandi," jawab Justin seraya mendekati istrinya dengan senyum di wajah.
"Ta-Tapi, aku?" Abi semakin gugup, dia bahkan melangkah mundur karena Justin terus mendekatinya.
"Tidak perlu malu, Abi. Kita akan saling melihat karena kita sudah menjadi suami istri."
"Ta-Tapi aku malu," Abi memalingkan wajah, peghinaan Harold mengenai tubuhnya kembali teringat.
"Kenapa?"
"Aku takut kau jijik setelah melihat tubuhku."
"Bodoh, sudah aku katakan aku tidak jijik jadi biarkan aku melihatnya," Justin semakin mendekati Abigail, sedangkan wajah gadis itu semakin merona.
Gaun yang digunakan untuk menutupi tubuhnya disingkirkan, Abi menutup kedua matanya dengan terburu-buru dan hal itu membuat Justin semakin ingin menerkamnya.
__ADS_1
"Lihatlah, bagian mana yang menjijikkan?" Justin membelai tubuh Abi dari pinggang lalu turun ke bawah.
"Kau ... Kau tidak jijik?" Abi memandanginya, dia sungguh ingin tahu.
"Tentu tidak!" Justin merapatkan tubuh mereka berdua, ciuman lembut didaratkan di pipi Abigail sedangkan tangannya berada di punggung dan sedang membuka kait bra yang masih Abi gunakan.
Abi memejamkan mata, dia tidak mau memikirkan apa pun lagi. Bra yang dia pakai sudah jatuh ke bawah, Justin masih memberikan ciuman di wajah, sedangkan tangannya menurunkan satu-satunya penghalang yang sedang Abi gunakan.
"Ba-Bagaimana jika kita mandi terlebih dahulu?" ajak Abigail.
"Ide bagus!"
Justin melepaskan handuk yang melilit di pinggang dan setelah itu, Justin menggendong Abi menuju shower sambil mencium bibirnya. Jantung Abigail berdebar, apalagi ketika Justin menurunkannya dan tangannya mulai membelai tubuhnya.
Erangan pelan Abigail terdengar saat tangan Justin mengusap dadanya lalu memberikan remasan lembut. Jarinya bahkan bermain di sana tanpa ragu. Ciuman mereka semakin dalam, api gairah sudah membakar mereka berdua. Tidak mau berlama dengan kegiatan mandi yang menyiksa, Justin menyalakan shower dan mandi dengan terburu-buru.
Tubuh mereka juga dikeringkan dengan terburu-buru dan setelah itu, Justin membawa Abigail keluar dari kamar mandi dan membawanya menuju ranjang. Tubuh Abigail dibaringkan dengan perlahan, gadis itu menutup wajahnya saat Justin memandangi tubuhnya.
"Justin, apa yang kau lihat?" tanya Abigail karena dia begitu malu.
"Melihat tubuhmu, Sayang. Aku benar-benar tidak jijik dan bagiku tubuhmu terlihat indah."
"Benarkah?"
"Yes," Justin menunduk dan mencium bibir Abigail kembali.
Ciuman mereka kembali panas, kedua tangan Abigail juga sudah melingkar di tubuh Justin. Tangan Justin juga sudah bergerak, menyelusuri tubuh Abigail. Menyentuh setiap bagian tubuh sensitif Abi sehingga gadis itu mendesah nikmat.
Tidak saja dengan tangannya, Justin juga menikmati tubuh Abi dengan bibir dan lidahnya. Mereka tenggelam dalam gairah yang menggulung-gulung dan ketika Justin menyatukan tubuh mereka, terdengar teriakan Abigail karena rasa sakit yang dia rasakan tapi rasa sakit itu tidak lama, ******* Abigail terdengar saat Justin menggerakkan tubuhnya.
Jantung yang berdetak cepat, erangan mereka dan ******* napas mereka yang berat, menandakan jika mereka sangat menikmati permainan panas mereka bahkan permainan itu belum juga berakhir karena puncak kenikmatan dari permainan mereka belum juga datang.
Satu kaki Abigail sudah berada di atas bahu Justin, sedangkan pria itu bergerak semakin cepat. Mereka berdua sudah terlihat kacau bahkan ranjang hotel yang mahal jadi bergoyang.
"Justin!" Abi memanggilnya dan mencengkeram lengan suaminya dengan erat.
Justin menunduk, dan memberikan ciuman di bibir Abigail tapi gerakannya semakin cepat. Justin terus bergerak dan tidak lama kemudian, erangan mereka berdua terdengar. Mereka terengah-engah, Justin memberikan ciuman lembut di pipi Abigail.
"I love you," bisiknya dan setelah itu dia berbaring di sisi Abigail.
Abigail tersenyum, walau masih terasa sedikit sakit tapi dia sangat menikmatinya. Abi masuk ke dalam pelukan Justin, mereka berdua terlihat bahagia. Mereka akan beristirahat sebentar dan setelah itu, mereka akan menikmati malam panas mereka yang masih panjang.
__ADS_1
#Sebenarnya aku mau nulis mp mereka yang berkesan tapi ya, gak bakal naik babnya karena tulisan aku di cek manual sebab itu gak bakal naik sedangkan penulis lain di cek by sistem sehingga bab vulgar mereka bisa naik jadi seadaanya aja ya. Aku gak mau buang tenaga dan waktu untuk menulis hal yang sai-sia, udah capek-capek bab gak naik, nyesek. Mending waktunya aku pake buat nulis kisah disebelah. 😌