
Terdengar suara lantang penuh kepercayaan seorang Dafi kala mengucapkan ijab qobul. Rumah beton sederhana itu menjadi saksi pernikahan siri antara Dafi dan Indira yang dilaksanakan sore hari. Tampak beberapa orang kepercayaan Dafi hadir dalam pernikahan tersebut sebagai saksi. Napas Indira memberat kala wali nikah yang tak lain pamannya sendiri mengucapkan kata sah atas pernikahan yang berhasil mengikatnya dalam sebuah hubungan sakral ini.
Dafi sengaja mempercepat pernikahannya dengan Indira sebelum istri pertamanya, Airin kembali ke Jakarta. Tidak ada gurat kebahagiaan di wajah sepasang pengantin baru tersebut. Jika pernikahan adalah hal membahagiakan bagi para pasangan pada umumnya, ini sebaliknya. Keduanya sama-sama tak bahagia karna nyatanya mereka berdua menikah karna terpaksa. Demi makhluk kecil yang kini tumbuh di rahim Indira.
Indira memejamkan matanya rapat kala sapuan lembut bibir Dafi mengecup keningnya. Membuat dadanya bergemuruh hebat. Saat mencium tangan majikannya yang kini berubah status menjadi suaminya itu pun Indira begitu gugup serta telapak tangan yang berkeringat.
"Kalian berdua telah sah menjadi suami istri. Dan semoga pernikahan kalian berdua terus terjalin sampai kematian walau hanya pernikahan siri." ucap pak penghulu yang ada di sana.
Raut wajah Dafi tampak tenang dan mengangguk dengan seulas senyum kala mendengar ucapan pak penghulu tersebut. Bibi Nunu memeluk Indira yang diam tertunduk memendam perasaan yang saat ini ia rasakan sekarang. Antara bahagia dan sedih atas pernikahan siri ini.
Tanpa mengatakan apapun bibi Nunu tahu apa yang keponakannya rasakan saat ini. Bila waktu bisa di ulang ia takkan menawarkan keponakannya sendiri untuk menggantikan dirinya bekerja di rumah tuan Dafi. Masalah yang Indira hadapi sekarang benar-benar menghancurkan masa depannya. usianya terbilang masih sangat muda untuk berperan sebagai istri apalagi sekarang Indira sedang mengandung.
"Saya harap Tuan Dafi bisa memegang janji untuk membahagiakan Indira dan memperlakukan Indira seperti istri sebagai mestinya."
Ucapan paman Abdi seolah peringatan untuk Dafi. Apalagi paman Abdi tahu status Dafi merupakan pria beristri dan sekarang keponakannya menikah dengan pria tersebut karna terlanjur hamil. Mau menolak mentah-mentah pernikahan ini pun tidak mungkin. Seperti pribahasa mengatakan maju kena mundur kena.
"Kalian berdua tenang saja. Saya akan menepati janji saya. Indira akan bahagia dengan saya," balas Dafi meyakinkan.
Paman Abdi dan bibi Nunu kompak mengangguk. Ucapan Dafi sedikit melegakan benak mereka berdua. Mereka tidak ingin hidup keponakan satu-satunya semakin hancur setelah menikah dengan Dafi.
"Tapi, sampai kapan Tuan Dafi merahasiakan pernikahan ini?" tanya bibi Nunu. Karna sebelum melakukan ijab qobul Dafi ingin pernikahannya dirahasiakan sampai ia sendiri yang memperkenalkan Indira pada keluarganya.
__ADS_1
"Tidak perlu memikirkan hal itu. Yang penting saya bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan."
Indira hanya diam mendengarkan obrolan ketiganya. Tatapan wanita muda itu begitu sendu namun sorot matanya memancarkan kesedihan.
•
•
Ranjang kayu itu berdecit ketika Dafi mendudukkan dirinya di sana. Kamar yang diyakini kamar Indira itu berukuran kecil dan pengap. Bahkan kasur di atas ranjang itu terasa keras seolah tak berbusa, tidak seperti kasurnya yang sangat empuk dan nyaman. Tempat tinggal wanita muda itu sangat menyedihkan bagi Dafi yang terbiasa hidup dalam kemewahan dan serba ada.
"Bagaimana bisa kamu tahan tinggal di sini?" ucap Dafi yang masih sibuk mengamati kamar sang istri. Indira yang mendengar itu hanya diam. Ia sibuk mengeluarkan pakaian miliknya dari tas.
"Apa kamu mendengar apa yang saya bicarakan?" Dafi sedikit kesal ketika Indira tak menjawab pertanyaan nya.
"Saya sudah terbiasa tinggal di sini. Sedangkan Tuan terbiasa tinggal di tempat yang serba mewah."
Jawaban Indira menyentil hati Dafi. Wanita muda itu melangkah menghampiri suaminya lalu ikut duduk di ranjang itu.
"Maaf bila rumah ini tak semewah milik Tuan Dafi. Dan mungkin terlihat sangat jelek." Indira kembali melontarkan ucapannya.
Tanpa ingin menunggu balasan dari suaminya, Indira merebahkan tubuh kurusnya di atas kasur yang terasa keras itu. Dafi yang melihat itu menatap sang istri dengan pandangan yang sulit diartikan.
__ADS_1
Satu jam berlalu namun Dafi tak bisa tertidur. Ia melepaskan baju yang melekat di tubuhnya. Udara malam ini terasa sangat panas di tambah kamar yang ia tempati sangat kecil. Dafi menoleh menatap Indira yang tertidur sangat nyenyak saking nyenyaknya sampai tak merasakan gerah.
Dafi bisa melihat buliran halus keringat yang keluar dari pori-pori wajah Indira. Ia benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana wanita tersebut tidur dengan keadaan seperti ini. Terlalu larut memandangi wajah Indira, Dafi tersentak ketika suara dering ponsel.
Pria itu segera mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Hallo sayang?"
"Mas, maaf aku telpon kamu malam-malam seperti ini. Tiba-tiba saja aku sangat merindukan mu." ucap Airin di sebrang sana.
Dafi mengulas senyum."Aku juga sangat merindukanmu, sayang. Kalau bisa pulang secepatnya."
"Mungkin lusa aku pulang, Mas. Tinggal beberapa pemotretan lagi setelah itu selesai."
Terlalu asyik mengobrol dengan sang istri, pria itu tak menyadari Indira mendengarkan obrolannya dengan Airin. Wanita tersebut tidak tidur sama sekali, ia hanya memejamkan mata. Dan entah mengapa dada Indira terasa sesak mendengar setiap kata-kata manis yang Dafi tujukan pada Airin. Tangan Indira terulur mengusap perut datarnya. Apa ini bawaan dari janin yang ia kandung hingga tumbuh rasa cemburu pada majikannya sendiri, Airin?
_________
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. See you di part selanjutnya:)
__ADS_1