Mengandung Anak Dari Majikanku

Mengandung Anak Dari Majikanku
IRSM: Antara khawatir dan Menyesal


__ADS_3

Di bawah panasnya terik matahari yang menyengat, Indira terus melangkahkan kakinya menyusuri jalan raya. Tatapan mata wanita itu tampak kosong namun sorot matanya menyiratkan kesedihan mendalam. Ia menatap ke sekeliling arah, bingung akan pergi ke mana di tambah ini pertama kalinya ia  ke Bali dan ia benar-benar asing di sini. Sakit hati dan kekecewaan yang di rasakan membuat Indira nekat melarikan diri.


Bahkan ia tidak membawa barang dan uang sepeser pun, hanya selembar pakaian yang melekat di tubuhnya. Namun, setiap ia teringat ucapan suaminya di rumah sakit itu, ia ingin semakin melarikan diri lebih jauh lagi dari suaminya sampai tidak bisa di temukan.


Indira terus melangkahkan kakinya tanpa alas, membiarkan telapak kaki telanjangnya menginjak-nginjak batu krikil dan merasakan perih panasnya aspal. Mata sembab, hidung memerah, dan tampilan yang tak karuan menjadi pemandangan yang tampak menyedihkan.


"Aku harus ke mana..." lirih Indira. Andai ia berada di Jakarta ia tahu jalan pulang ke kampung halamannya. Tapi sekarang situasinya ia berada di Bali. Tempat yang baru ia sambangi.


Takut, sedih, dan marah bergejolak menjadi satu dalam benak Indira.


"Ke mana dia?" Dafi tampak frustasi bercampur khawatir. Pria itu memelankan laju mobilnya, menatap ke arah trotoar. Ia yakin Indira tidak terlalu jauh melarikan diri.


Setelah memastikan Indira tak ada di rumah sakit, Dafi beralih menyusuri jalan raya. Namun, satu hal yang membuat kekhawatiran Dafi semakin besar. Indira tak mengenal tempat ini bahkan wanita muda itu baru pertama kali ke Bali. Ia bertekad hari ini Indira harus cepat ia temukan.


Dafi menepikan mobilnya, ia mengeluarkan ponsel di saku celana lalu menghubungi asistennya yang ada di Jakarta. Ia tidak mungkin bisa menemukan Indira seorang diri dalam waktu singkat.


"Selamat siang, Bos. Ada yang bisa saya bantu? "


"Kamu cepat ke Bali dan bawa beberapa anak buah!"


Naldo, tampak mengkerutkan keningnya mendengar perintah Dafi. Tiba-tiba saja diperintah untuk ke Bali.


"Apa terjadi sesuatu, Bos?"


Dafi berdecak."Cepat ke sini jangan banyak bertanya!" Setelah mengatakan itu Dafi langsung mematikan sambungan telpon dengan raut wajah yang tampak kesal.


Ia mengusap wajahnya kasar begitu frustasi. Mungkin karna ucapan dan permintaannya di rumah sakit tadi Indira sampai melarikan diri seperti ini. Ia akui, ia brengsek dan pencundang karna belum berani mengakui status Indira sebagai istri kedua pada Airin, termasuk anak yang Indira kandung.


Dan sekarang Dafi menyesal sudah mengatakan seperti itu pada Indira. Ia bertekad setelah menemukan Indira ia akan mengatakan yang sebenarnya pada Airin. Tak peduli akan semarah dan semurka apa Airin padanya. Sungguh, ada rasa tak rela dan sakit dalam hati Dafi dengan kepergian Indira.

__ADS_1


Pria itu kembali menjalankan mobilnya, melanjutkan mencari keberadaan istri keduanya tersebut.


Tak terasa hari sudah malam namun sampai sekarang Dafi masih sibuk mencari keberadaan Indira. Apalagi kota ini sangat luas dan ia juga tak terlalu hafal, hanya bermodalkan google maps.




"Sudah kami cari ke mana-mana tapi wanita itu belum kami temukan, Bos," ucap Naldo. Setelah sampai di Bali langsung diperintah mencari wanita muda yang ia sendiri tidak kenal.


Dafi yang menyandarkan punggungnya di pintu mobil mendesah lelah."Cari dia sampai dapat, kalau perlu seluruh wilayah kota ini kalian telusuri."


Naldo meneguk ludahnya kasar. Pria berusia 24 tahunan itu melirik dua pria yang bertugas mencari keberadaan Indira. Mustahil mereka bertiga bisa menemukan wanita muda dengan bermodalkan ciri-ciri fisik yang Dafi sebutkan.


"Maaf sebelumnya, Bos. Tapi bagaimana bisa kami menemukan wanita yang Bos cari dengan cepat bila hanya menyebutkan ciri-ciri fisiknya, setidaknya Bos memiliki foto wanita itu."


Dua pria berpakaian hitam mengangguk membenarkan ucapan Naldo. Yang ada mereka bertiga akan salah orang karna memiliki ciri-ciri fisik yang sama.


"Aku tidak mau tahu kalian bertiga harus mencarinya dan malam ini harus dapat! Sangat mudah mengenali Indira dengan ciri fisik yang aku sebutkan."


"Kamu selalu bisa aku andalkan sekarang seperti orang bodoh!" sembur Dafi pada Naldo dengan raut wajah yang begitu mengerikan. Bahkan dua anak buah yang melihat kemarahan sang bos yang tiba-tiba meledak tampak takut.


"Ba-baik, Bos. Kami bertiga akan secepatnya menemukan wanita itu," balas Naldo tersendat-sendat. Walau ia tidak tahu apa hubungan sang bos dengan wanita tersebut. Tapi yang jelas Naldo bisa menyimpulkan wanita asing itu sangat penting.


Dafi berdecak ketika suara dering ponsel miliknya berbunyi. Ia menghela napas panjang ketika melihat nama sang penelepon. Dengan raut wajah yang tampak masam Dafi menerima panggilan telpon tersebut. Naldo dan dua anak buah yang lain berdiri di hadapan Dafi, menunggu instruksi selanjutnya.


"Hallo, Airin."


"Mas, kamu di mana? Kenapa sampai sekarang tidak pulang ke villa? Aku dari tadi menunggu kamu pulang, Mas!"

__ADS_1


Suara Airin di sebrang sana begitu memekikkan telinga Dafi, membuat pria itu sedikit menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.


"Mungkin aku pulang larut malam atau tidak pulang sama sekali ke villa."


"Aku tidak mau tidur sendirian di villa, Mas. Dan alasan Mas tidak pulang ke villa kenapa?"


Dafi menghela napas berat dan kembali berucap."Indira kabur dari rumah sakit dan aku harus menemukan dia secepatnya."


Airin tampak terkejut mendengar pernyataan suaminya. Ia membekap mulutnya, apa jangan-jangan Indira kabur karna masalah ketahuan hamil di luar nikah.


"Tapi, aku tetap tidak mau tidur sendirian di villa. Sebaiknya lapor ke kantor polisi saja, Mas."


Dafi menggeleng sambil memijit pangkal hidungnya."Tidak bisa. Untuk melapor ke kantor polisi harus menunggu 2x24 jam. Nanti aku usahakan malam ini pulang."


"Tapi Mas_"


Belum sempat Airin menyelesaikan ucapannya Dafi sudah mematikan sambungan telpon. Membuat Airin yang berada di villa berdecak kesal.




Seorang wanita terbaring di pinggir trotoar dengan posisi memeluk dirinya. Bibir wanita itu gemetar begitu tersiksa dengan angin malam yang menusuk tembus ke pori-pori. Wajah wanita itu terlihat sangat pucat.


Indira menyipitkan matanya ketika cahaya lampu mobil menyorot ke arahnya. Dan tak lama seorang pria turun dari mobil. Melihat pria itu menghampirinya membuat Indira berusaha bangkit dan ingin melarikan diri namun sayang tenaganya begitu lemah.


"Ayo ikut aku, di sini kamu bisa mati kedinginan," ucap pria itu tersirat kekhawatiran.


Pria itu menggendong Indira yang sudah tak ada tenaga untuk menolak. Hangat, satu hal yang Indira rasakan dalam dekapan pria itu. Dengan hati-hati pria itu memasukkan Indira ke dalam mobil.

__ADS_1


"Pakai ini..." Pria itu melepaskan jas hitam yang melekat di tubuhnya lalu memakainya pada Indira.


__ADS_2