
"Kamu cari mobil dengan plat nomor yang sudah aku kirimkan. Dan aku juga sudah mengirim foto Indira. Secepatnya kalian harus menemukannya."
"Baik Bos!"
Sambungan telpon terputus setelah Dafi mengakhirinya. Ada sedikit rasa lega dalam benak Dafi setidaknya ia tahu Indira kembali ke Jakarta walau ada rasa penasaran dalam benaknya, bagaimana bisa Indira kembali ke Jakarta apalagi wanita itu tidak membawa uang seperti pun. Tapi yang terpenting Indira baik-baik saja. Ia masih memutar rekaman CCTV tersebut, pandangan matanya menyiratkan sesuatu ketika memandangi wajah Indira.
"Aku mau setelah Indira ditemukan dia tidak usah bekerja di sini lagi!" Suara serak Airin mengisi ruang kamar yang hening tersebut.
Dafi berbalik badan menghadap Airin yang menatap marah bercampur cemburu. Wanita dewasa itu berusaha menahan kemarahannya melihat sikap suaminya tapi kali ini ia sudah tidak bisa lagi.
"Sayang, bagaimana pun Indira tanggungjawab kita. Dan setelah Indira ditemukan aku ingin mengatakan sesuatu termasuk tentang anak yang Indira kandung," balas Dafi disertai senyuman tipis.
Kening Airin mengernyit."Maksudnya apa? Apa kamu tahu pria yang sudah menghamili Indira?" Airin menatap penuh penasaran pada suaminya.
"Kamu akan tahu jawabannya setelah Indira kembali ke rumah ini."
Dafi melangkah maju mendekati Airin lalu memeluk wanita tersebut. Airin membalas pelukan suaminya, membenamkan wajahnya di dada kokoh Dafi. Kemarahan yang membara dibenak Airin perlahan padam.
"Maafkan aku Airin, bila nanti aku akan mengecewakanmu. Sungguh, aku tidak ingin melepaskan Indira," batin Dafi.
Pria itu semakin mengeratkan pelukannya lalu mencium puncak kepala Airin. Menikmati kehangatan pelukan hangat yang memberikan kenyamanan.
"Ingin makan sesuatu? Kamu belum makan apapun dari tadi siang," ucap Dafi penuh perhatian seraya menguraikan pelukannya.
Airin menggeleng tanpa melepaskan kedua tangannya yang masih setia melingkar di pinggang Dafi."Tidak, aku tidak lapar."
"Ya sudah, sekarang bersihkan tubuhmu. Setelah itu istirahat."
Dafi mengecup bibir ranum Airin yang menciptakan senyuman tipis dibibir wanita cantik tersebut. Perhatikan yang suaminya berikan selalu membuat hati Airin menghangat.
__ADS_1
•
•
"Maaf, kak, cafe ini tidak menerima karyawan baru. Kakak bisa cari di tempat lain."
Salah satu karyawan cafe mengembalikan surat lamaran kerja Indira. Wajah wanita muda itu yang terlihat berkeringat itu tampak kecewa. Ini tempat ke-5 yang ia datangi untuk melamar pekerjaan dan lagi-lagi ditolak.
"Saya sangat butuh pekerjaan. Apa tidak bisa menambah satu karyawan lagi?Jadi tukang cuci piring atau bersih-bersih tidak apa-apa."
Indira masih berusaha memohon meski sudah ditolak. Ia berharap hari ini mendapatkan pekerjaan apalagi uang simpanannya semakin menipis karna ia pakai untuk menaiki transportasi.
Karyawan wanita itu menggeleng tegas."Tidak bisa, kak. Silahkan kakak pergi dari sini pekerjaan saya masih banyak," ucapnya dengan nada suara yang tampak jengkel.
Indira menghela napas berat. Dengan berat hati ia meninggalkan cafe yang lumayan ramai itu. Namun, sebelum kakinya benar-benar keluar dari cafe tersebut suara seorang pria yang memanggil membuat Indira menoleh. Tampak seorang pria melangkah menghampiri Indira.
Mendengar itu Indira mengangguk semangat. Pria berkumis tipis itu tersenyum.
"Pas sekali, aku sedang mencari wanita muda sepertimu untuk bekerja di tempatku. Gajinya juga sangat besar," ucap pria tersebut.
"Memangnya pekerjaannya apa?" Indira bertanya dengan mata berbinar.
"Pekerjaannya sangat mudah. Tapi berapa usiamu?"
"19 tahun."
"Apa sudah menikah?"
Indira tertegun mendengar itu. Terdiam beberapa saat hingga ia menjawab pertanyaan pria asing itu."Belum." Kali ini ia terpaksa berbohong untuk mendapatkan pekerjaan.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Sekarang ikut aku, mulai hari ini kamu bisa bekerja di tempatku."
Kedua alis Indira bertaut. Semudah itu ia diterima?
"Tapi pekerjaannya seperti apa? Saya belum tahu pekerjaan yang anda tawarkan." Tiba-tiba saja hati Indira merasa janggal dan perasaannya tak enak.
"Pekerjaannya sangat mudah. Kamu hanya menjadi wanita penghibur di club. Dan kamu juga bisa mendapatkan bonus lebih. Lagipula kamu memiliki wajah dan bentuk tubuh yang menarik," ucap pria itu memperhatikan lekuk tubuh Indira.
Indira menggeleng. Ia memang butuh pekerjaan tapi bukan berarti melakukan pekerjaan seperti itu.
"Maaf, bila pekerjaan seperti itu saya tidak mau!" balas Indira tegas.
"Apa susahnya menerima pekerjaan ini. Kamu hanya melayani pria setelah itu mendapatkan banyak uang. Sekarang sangat susah mencari pekerjaan!"
Indira menggeleng, ia tidak ingin melakukan pekerjaan haram itu. Tak ingin semakin lama berbicara dengan pria asing yang tak dikenal itu Indira memilih pergi. Suara teriakan pria itu memanggilnya namun ia tak menghiraukannya dan terus melanjutkan langkahnya.
Indira menghentikan langkahnya ketika merasa ada seseorang yang tengah mengikutinya. Ia menoleh ke belakang namun yang ia dapatkan beberapa orang pejalan kaki. Sepertinya itu hanya perasaannya saja. Indira menghela napas panjang lalu kembali melanjutkan langkahnya tak tentu arah.
Ia menatap lalu lalang kendaraan dengan tatapan kosong. Hari sudah mulai sore tapi ia belum mendapatkan pekerjaan.
"Aku harus lebih semangat lagi, semoga di tempat selanjutnya aku diterima!" Indira berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Indira kembali melanjutkan langkahnya dan seorang pria kembali mengikuti.
_______
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komentar. See you di part selanjutnya.
__ADS_1