Mengandung Anak Dari Majikanku

Mengandung Anak Dari Majikanku
IRSM: Permohonan Indira


__ADS_3

Indira mengendarkan pandangan matanya ke setiap sudut kamar hotel yang ia tempati sekarang. Pria itu mengajaknya ke sebuah hotel dan memesankan satu kamar untuknya. Bukan hanya itu Indira juga diberikan satu lembar pakaian ganti karna pakaian sebelumnya cukup kotor.


Pintu kamar terbuka membuat Indira menatap ke arah pintu. Ia menundukkan kepalanya canggung ketika pria itu masuk ke dalam kamar dengan membawa kantong kresek putih sedang.


"Bagaimana? Apa masih kedinginan?" Pria itu membuka obrolan mereka berdua dengan sebuah pertanyaan.


Indira menggeleng sebagai jawaban. Ia melirik pria itu mengeluarkan makanan dalam plastik putih tersebut. Aroma sedap ayam bakar seketika membuat perut Indira keroncongan dan menciptakan suara di perutnya, membuat pria itu terkekeh geli mendengarnya. Wajah indira seketika memerah diliputi rasa malu teramat. Ia mengusap perutnya.


"Sabar ya, Nak. Bunda tahu kamu juga lapar," gumam Indira pelan tanpa mengalihkan tatapan matanya dari ayam bakar yang sangat mengoda tersebut.


"Ini, makanlah. Aku membelikan makanan ini untukmu." Pria itu memberikan sepiring nasi dengan tiga ekor ayam sekaligus.


Indira terdiam sejenak sebelum menerima makanan yang pria itu berikan. Senyuman pun tak mampu Indira tahan ketika diberikan makanan. Bahkan mendapatkan makanan enak saja sudah membuat wanita muda itu bahagia dan sejenak melupakan kesedihan yang dirasakan.


"Kenapa kamu bisa sampai ke tempat ini? Lalu, apa kamu masih bekerja dengan Dafi?"


Pertanyaan beruntun dari pria yang tak lain Jo, sahabat Dafi membuat Indira menghentikan pergerakan tangannya kala hendak memasukkan potongan daging ayam ke dalam mulutnya.


Jo mengernyitkan keningnya melihat ke terdiaman Indira. Sesaat kemudian Indira menampilkan senyuman tipis yang menyiratkan makna yang Jo sendiri tak akan tahu.


"Saya tidak bekerja lagi di sana." Hanya jawaban itu yang terlintas di kepala Indira walau pada akhirnya Jo akan mengetahui semuanya apalagi ia memiliki koneksi dengan Dafi.


Jo manggut-manggut mendengarnya namun tak lama ia kembali mengulang pertanyaan nya."Lalu, kenapa bisa ada di Bali?"


Secuil rasa kesal mulai muncul dibenak Indira ketika Jo kembali bertanya. Bukannya tak suka, kesedihannya masih terasa tapi diminta menjelaskan tentang sesuatu yang bersangkutan dengan kesedihan yang dirasakan.


"Boleh saya makan? Saya lapar..." lirih Indira menatap pedih daging ayam bakar yang belum sempat ia makan.


"Ah, silahkan makan. Maaf aku banyak bertanya," ucap Jo yang mendadak tak enak hati karna terlalu penasaran.

__ADS_1


Indira makan dengan lahap bahkan sampai tersedak menyantap makanan yang Jo berikan. Ia memang sangat kelaparan apalagi berjalan cukup jauh dan itu membuat tenaganya begitu terkuras.


Jo menopang dagunya dengan kedua tangan, memperhatikan Indira yang makan sangat lahap. Bulu mata lentik alami, netra coklat berair, dan wajah yang tampak imut membuat Jo tak ingin berpaling untuk melihat keindahan yang Tuhan ciptakan.


Sementara Indira yang merasa diperhatikan tampak tak peduli, ia fokus mengisi perutnya yang kelaparan apalagi di dalamnya ada malaikat kecil yang butuh asupan makanan juga.


"Kamu sepertinya sangat kelaparan sekali," ucap Jo terkekeh geli." Perutmu saja terlihat buncit karna kekenyangan," sambungnya.


Indira hampir tersedak mendengar ucapan Jo. Ia melirik bagian perutnya, yang tercetak jelas bentuk perutnya. Mau ia sembunyikan percuma karna ukuran pakaian yang pria itu berikan sedikit menampakkan bentuk tubuhnya. Tapi bersyukur, perut buncitnya tidak terlalu menonjol.


"Terima kasih Tuan sudah memberikan tempat untuk bermalam dan makanan. Bila saya ada uang, saya akan menggantinya," ucap Indira benar-benar berterima kasih pada Jo. Andai pria itu tidak datang, ia tidak tahu bagaimana nasibnya.


Jo tersenyum, tanpa sungkan ia mengusap bahu Indira senyuman tulus dengan tatapan hangat.


"Tidak perlu diganti, aku tulus membantumu. Awalnya aku ingin menelpon Dafi untuk _"


"Jangan!" Indira langsung menyela ucapan Jo ketika menyebut nama pria yang menjadi penyebab rasa sakit yang ia rasakan."Saya tidak memiliki hubungan kerja lagi dengan tuan Dafi, jadi tak perlu menghubungi dia."


"Kalau begitu aku pergi dulu, kalau butuh apa-apa ketuk saja pintu kamar hotel sebelah, aku tidur di sana."


Jo bangkit dari tempat duduknya. Bersiap-siap hendak beranjak dari tempat ini. Membiarkan Indira untuk istirahat. Sebelum benar-benar pergi dari kamar itu, ucapan Indira menghentikan langkah Jo.


"Tuan, apa boleh saya minta tolong satu kali lagi?" Sungguh, Indira tak ingin merepotkan pria di hadapannya tapi sekarang situasinya ia benar-benar bingung harus mengadu kepada siapa lagi di tempat asing ini.


"Minta tolong apa?"


Indira terdiam sejenak, meneguk ludahnya kasar."Bisakah Tuan memesankan tiket ke Jakarta untuk saya? Saat ini saya tidak memiliki uang sama sekali dan di sini saya tidak mengenal siapa pun," ucap Indira penuh harap.


"Tunggu sebentar, kamu ingin pulang ke Jakarta tapi yang membuat aku bingung kamu ke Bali dengan siapa sebelumnya?"

__ADS_1


Indira meremas dress yang ia kenakan dengan raut wajah yang tampak bingung ingin menjawab apa. Yang jelas ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


"Saya mohon tolong bantu saya. Kalau perlu saya menjadi asisten rumah tangga di rumah Tuan. Saya ingin pulang." Indira kembali memohon dan menghiraukan pertanyaan Jo sebelumnya. Saat ini yang ia inginkan pulang ke Jakarta.




Liburan ke Bali yang seharusnya berjalan lancar menikmati waktu luang dengan pergi ke tempat - tempat wisata yang memanjakan mata kini malah sebaliknya. Airin yang sudah menyiapkan list pergi ke tempat-tempat yang ia ingin sambangi bersama suaminya harus gagal. Karna Indira kabur semuanya gagal.


"Mas..." Airin melangkah lebar menghampiri Dafi yang baru kembali ke villa setelah pagi menjelang.


Tampilan Dafi tampak kacau dengan kedua kantong mata yang menghitam dan itu sudah menjelaskan pria itu tidak tidur semalamannya. Bahkan tatapan mata pria itu tampak redup.


"Kenapa baru kembali? Lalu, apa Indira ketemu?"


Dafi menghela napas dalam setelahnya menggeleng."Aku belum menemukannya."


"Entah apa yang dipikirkan Indira sampai memilih kabur seperti ini. Padahal dia cukup mengatakan siapa ayah dari anak yang dia kandung. Bukan menghindar seperti ini dan sekarang menyusahkan kita berdua!"


Airin tidak bisa menyembunyikan kekesalannya di tambah waktu liburannya di Bali tidak lama karna ia harus kembali bekerja.


Lagi-lagi Dafi menghela napas panjang untuk mengurangi rasa sesak di dada. Pikirannya benar-benar berkecamuk dengan kepergian istri keduanya. Dan ucapan yang Airin lontarkan tentang Indira membuat ia ingin mengakui anak yang Indira kandung sekarang tapi keadaannya sekarang tidak tepat. Karna bisa saja membuat situasi semakin memanas.


Dan Dafi tak pernah menduga kepergian Indira memberikan efek sangat besar dalam hidupnya.


_______


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. See you di part selanjutnya 🥰


__ADS_2