Mengandung Anak Dari Majikanku

Mengandung Anak Dari Majikanku
IRSM: Kecemburuan Dafi


__ADS_3

"Jangan kurang ajar!"


Indira menyorot tajam dengan napas memburu menatap Dafi yang dengan kurang ajarnya menyentuhnya. Baru semalam berada di rumahnya sudah bertindak kurang ajar.


Jika Indira menampilkan wajah penuh kemarahan beda lagi dengan Dafi yang tampak tenang. Seolah apa yang ia lakukan adalah hal yang biasa. Dan bagi pria itu hal yang wajar lagipula Indira masih berstatus istrinya.


''Aku mengizinkanmu bermalam di sini bukan berarti aku memaafkan mu!" Dengan dada turun naik Indira mengatakan hal tersebut.


Sakit hati yang Indira rasakan masih terasa sampai sekarang walau sudah bertahun-tahun. Di tambah kembalinya Dafi membuat rasa sakit dalam hatinya semakin nyata.


"Saya tidak bermaksud apa-apa, Indira. Apa salah saya menyalurkan kerinduan saya dengan cara seperti ini?" balas Dafi.


Indira menggeleng pelan."Semenjak aku pergi dari rumah itu, aku sudah mengganggap kita tidak memiliki hubungan apapun lagi!"


Dafi melangkah mendekat pada Indira. Tatapan pria itu semakin melembut menatap sang istri."Walau kamu mengatakan beribu-ribu kali kita berpisah, status kamu tetap menjadi istriku," ucap Dafi terdengar lembut namun penuh penekanan di setiap kalimat yang terlontar.


Kedua tangan Indira terkepal. Apapun yang wanita itu ucapkan Dafi selalu ada jawaban yang mampu membungkam mulut Indira beberapa saat. Dan baru hendak kembali membalas ucapan suaminya, suara ketukan pintu yang cukup keras membuat suara Indira tertahan di tenggorokan.


Ia melirik ke arah pintu luar. Tanpa ingin melanjutkan ucapannya Indira memilih beranjak dari hadapan Dafi lalu melangkah menuju pintu.


Saat pintu di buka bola mata Indira sedikit melebar melihat sosok Jo berdiri di depan pintu. Pria itu tersenyum cerah dengan tampilan yang selalu rapi.


Tanpa sadar Indira meneguk ludahnya kasar. Jo datang di waktu yang tidak tepat di mana Dafi berada di rumahnya.


"Hei. Kamu kenapa Indira? Sakit?" tanya Jo ketika melihat wajah Indira yang tampak pucat dan cemas.


Sementara Indira yang mendengar itu menggeleng cepat."Ti-tidak. Ada apa kamu datang ke sini?" Kini Indira balik bertanya berusaha menutupi kegugupannya.


"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Bukankah sudah biasa aku datang ke sini. Dan kamu juga sudah tahu, aku datang ke sini ingin bertemu dengan Faza. Di mana anak itu?"


Jo celingukan menatap ke dalam rumah Indira.


"Faza masih tidur, mungkin lain waktu saja kamu ke sini lagi, Jo," ucap Indira berusaha tenang dan berharap pria itu pergi. Ia tidak ingin Jo sampai tahu keberadaan Dafi di rumahnya.


Jo menghela napas berat, sebenarnya ia ke sini bukan hanya ingin menemui Faza tapi ingin menemui Indira. Dalam saku jas hitam yang dikenakan ia sudah menyiapkan cincin untuk melamar Indira. Ia ingin mengungkapkan perasaannya dan melamar Indira. Faza menjadi alasan agar ia bisa semakin dekat dengan Indira. Rencananya hari ini ia ingin mengajak keduanya pergi ke sebuah tempat.


"Jo? Kamu tidak apa-apa?" Kali ini Indira tampak cemas melihat Jo terdiam dengan kening mengkerut seolah tengah memikirkan sesuatu yang serius.

__ADS_1


"Tidak apa-apa." Jo menggeleng lemah. Ia menghela napas panjang."Nanti sore aku akan ke sini lagi. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan."


Kening Indira mengkerut penuh penasaran mendengar itu."Ingin membicarakan apa?"


"Kamu akan tahu sendiri. Ini makanan untuk kalian berdua."


Jo memberikan kantong kresek putih berisi makanan yang langsung di sambut oleh Indira.


"Ini sangat merepotkan, Jo. Lain kali jangan bawa makanan terus."


"Tidak apa-apa."


Sedangkan seseorang yang sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya dari dalam rumah tampak terbakar cemburu dengan hati yang memanas. Marah dan tak suka tergambar jelas dari wajah tampan Dafi. Apalagi Dafi sudah mengetahui Jo memiliki perasaan berlebih pada istrinya.


Indira kembali menutup pintu setelah Jo berpamitan dan pergi. Baru berbalik badan wanita itu dibuat terkejut dengan kemunculan Dafi yang berdiri di hadapan nya. Pria itu melirik kantong kresek yang istrinya pegang.


"Jangan dekat-dekat dengan Jo, saya tidak suka. Dan jangan menerima apapun pemberian Jo lagi!" Dafi dengan terang-terangan memperlihatkan kecemburuan dan ketidaksukaan nya pada pria itu.


Indira hanya melirik sekilas pada suaminya lalu hendak melangkah pergi namun dengan cepat pria itu mencekal pergelangan tangan Indira.


Indira memberontak dan menyorot tajam pada Dafi. Meskipun begitu pria itu tak melepaskannya.


"Kamu harus tahu, Indira. Jo menyukaimu, dan saya tidak mau Jo semakin mengharapkanmu!" ucap Dafi memperingatkan.


"Kalau dia menyukaiku apa masalahnya? Dia yang selalu membantuku dan orang pertama yang peduli dengan putraku!"


"Mau sebaik apapun dia saya tetap tidak menyukainya. Kamu itu masih istri saya dan jaga batasan kamu dengan pria lain. Kalau perlu saya akan mengatakan pada Jo bahwa kamu itu istri saya!"


Indira terperangah dengan kecemburuan dan ke posesif Dafi. Seharusnya pria itu berterima kasih dengan Jo karna kalau tidak ada Jo mungkin Faza tidak akan ada di dunia ini. Yaa, sebelum melahirkan ia mengalami pendarahan dan Jo orang pertama yang menolongnya.




Wajah Dafi terlihat segar setelah membasuh mukanya. Ia membenarkan pakaian yang melekat di tubuhnya, sebentar lagi ia akan pergi untuk menyelesaikan urusannya di perusahaan cabang setelah itu ia akan kembali lagi ke sini.


"Om ...." Faza tampak semangat memanggil Dafi. Bocah 4 tahunan itu tampak segar setelah Indira baru saja memandikannya.

__ADS_1


Dafi tersenyum seraya menghampiri Faza. Ia bersimpuh di hadapan sang putra yang terus menampilkan senyuman lebarnya.


"Hari ini Om harus pulang tapi nanti akan kembali lagi ke sini," ucap Dafi sambil memegang kedua bahu Faza."


"Kenapa? Om di sini saja. Kita main berdua. Aza punya banyak mainan," balas bocah laki-laki itu seolah berat harus di tinggalkan Dafi.


Pria itu tersenyum seraya mengusap lembut puncak kepala Faza."Hanya sebentar,  setelah itu Om akan ke sini lagi. Nanti Om belikan mainan."


Mendengar itu seketika kedua mata Faza berbinar dan dengan cepat ia mengangguk. Mainan adalah senjata terampuh bagi anak-anak termasuk Faza.


"Yeyy ... terima kasih Om. Nanti beli mainannya yang seperti ini, sama kayak Om Jo belikan."


Wajah Dafi seketika mendatar ketika Faza menyebut nama sahabatnya tersebut. Faza juga memperlihatkan beberapa mainan yang dibelikan Jo membuat perasaan Dafi bergejolak. Entah sepenting apa Jo dalam kehidupan putranya.


"Nanti Om belikan. Kalau perlu yang lebih bagus dari ini," ucap Dafi setelah diam beberapa saat.


"Beneran ya, Om!"


Dafi mengangguk.


Kini, Dafi bangkit dan beralih menatap Indira.


"Jangan ke mana-mana, saya pergi sebentar. Keputusan saya sudah bulat untuk membawa kalian berdua pulang ke Jakarta."


Napas Indira tercekat. Jujur, ia tidak ingin kembali ke kota itu lalu kembali bertemu dengan Airin. Ia  mengingat jelas bagaimana Airin mengusir dan memintanya untuk pergi sejauh mungkin sampai Dafi tidak bisa menemukannya. Apakah takdirnya memang sudah seperti ini menjadi istri kedua? Dan terus terbelenggu dengan pernikahan ini?


Melihat ke terdiaman Indira membuat Dafi menghela napas berat."Tidak perlu takut, semuanya akan baik-baik saja." Dafi berucap dengan lembut berharap Indira lebih tenang.


Ia belum mengatakan tentang perceraiannya dengan Airin. Menunggu waktu tepat untuk mengatakan semuanya pada Indira.


"Selamat pagi, Bos!" Naldo begitu semangat menyapa Dafi ketika pria itu keluar dari rumah kontrakan yang di tempati Indira.


Sementara Dafi hanya mengangguk samar merespon sapaan Naldo.


"Saya menyuruh kamu datang ke sini untuk menjaga istri dan anak saya. Cukup berjaga di depan rumah. Jangan biarkan Indira keluar dari rumah ini!" titahnya.


Dafi benar-benar takut Indira kembali melarikan diri. Ia tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Indira setelah ia pergi meninggalkan rumah ini apalagi sikap Indira yang benar-benar berubah padanya.

__ADS_1


__ADS_2