
Waktu sudah menunjukkan pukul 22:00 malam, namun Indira masih setiap berdiri di balkon kamar, menatap ke arah pantai yang diselimuti kegelapan. Sepertinya mendengar suara bisingnya deburan ombak serta belain angin malam menjadi alternatif untuk mengurasi perasaan negatif yang ia rasakan.
Indira menghela napas panjang mengurangi rasa sesak dalam dada. Tangannya terulur mengusap perut buncitnya.
"Mama janji akan membuat kamu bahagia meski kita hidup hanya berdua saja..." lirih Indira mengukir senyuman yang menyiratkan luka dan kesedihan.
Bagaimana tidak. Bayangkan saja ia terpaksa menikah dengan majikannya sendiri yang berstatus pria beristri dan menjalani hubungan ini sembunyi-sembunyi. Kalau boleh jujur, Indira benar-benar lelah dengan ini semua termasuk harus berpura-pura di hadapan Airin.
Sebuah selimut menutupi tubuh Indira membuat wanita itu menoleh menatap seseorang di belakangnya. Tanpa ragu Dafi memeluk sang istri dari belakang lalu menancapkan dagunya di bahu Indira.
"Ini sudah sangat malam, tidak baik berada di luar," ucap Dafi penuh perhatian namun ucapannya tak di gubris oleh Indira.
Perhatian yang Dafi berikan bagai angin lalu bagi Indira walau pun terkadang hanyut dan terbawa perasaan dengan perhatian yang suaminya berikan.
Wanita itu enggan merespon ucapan suaminya. Matanya terus menatap ke arah pantai meski diselimuti kegelapan. Dafi menghela napas berat merasa diacuhkan.
"Marah?"
Mendengar itu Indira menoleh sekilas pada suaminya. Namun, tetap enggan merespon ucapan pria itu. Dafi semakin mempererat pelukannya pada tubuh Indira. Namun kali ini Dafi tampak tak suka ketika Indira menolak cumbuannya.
"Saya salah apa dengan kamu, Indira? Jangan dingin seperti ini, saya tidak suka."
Indira memejamkan matanya sejenak merasakan gemuruh dalam dada. Bahkan suaminya tak pernah sadar atas kesalahan yang dilakukan.
"Apa perlu saya sebutkan, Tuan?" Indira membalikkan badannya menghadap Dafi sepenuhnya."Saya tahu, saya memang istri siri bahkan hubungan yang kita jalani terkesan sangat jahat dibelakang nyonya Airin_"
"Lalu kamu maunya apa? Saya sudah bertanggungjawab dengan menikahimu. Memenuhi apapun yang kamu inginkan. Lalu, apalagi?"
Indira terdiam beberapa saat.
"Apa Tuan bisa mengatakan yang sebenarnya tentang hubungan kita berdua dengan nyonya Airin? Saya lelah terus bersembunyi dalam kebohongan seperti ini?" Kali ini biarkan ia egois. Walau ia tahu permintaannya ini akan menyakiti beberapa pihak terutama Airin.
Dafi langsung bungkam dengan permintaan Indira. Ia belum siap untuk hal ini terutama mendapatkan kekecewaan dan kemarahan Airin.
__ADS_1
"Jangan sekarang Indira, tunggu waktu yang tepat. Tolong pahami posisi saya," ucap Dafi lembut, berusaha membujuk istri keduanya tersebut.
Dafi menarik lembut tubuh mungil Indira dalam pelukannya seraya mencium puncak kepala Indira. Sementara wanita itu kembali menelan kekecewaan. Sudah ia duga suaminya takkan seberani itu untuk melakukan apa yang ia minta. Tanpa suaminya mengatakan pun ia sudah tahu bahwa menjaga perasaan Airin lebih penting.
"Sekarang ayo tidur, malam ini kita tidur berdua," ucap Dafi seraya menguraikan pelukannya. Pria itu tersenyum menatap wajah Indira tanpa menyadari raut kekecewaan di sana.
Wanita muda itu hanya pasrah kala Dafi membawanya ke kasur.
"Setelah pulang dari Bali kita periksa kondisi kandunganmu. Nanti kita akan pulang ke rumah bibi Nunu, pasti kamu sangat merindukan paman dan bibi kan?"
Indira hanya bisa mengangguk dalam pelukan Dafi. Ia tahu ucapan yang suaminya lontarkan tak lain untuk mengalihkan pembahasan yang mereka berdua debatkan.
"Tuan..."
"Hmm?"
"Apa tidak bahaya Tuan tidur di sini?" tanya Indira yang tampak cemas.
"Jangan takut, Airin tidur sangat pulas." Lebih tepatnya Dafi sengaja memasukkan bubuk obat tidur dalam minuman Airin membuat wanita yang berprofesi sebagai model itu tidur lebih cepat dan sangat nyenyak.
•
•
"Cepat sedikit jalannya Indira," titah Airin yang tampak kesal kala Indira berjalan lambat.
Indira mempercepat langkah kakinya. Kedua tangannya menenteng tas belanjaan milik majikannya cukup banyak. Hari ini mall begitu padat oleh pengunjung lokal maupun turis asing, membuat Indira beberapa kali tak sengaja menabrak seseorang.
"Menurut mu apakah ini cocok untukku?" Airin memperlihatkan dress berwarna pink polos dengan renda cukup terbuka dibagikan dada, pada Indira. Kali ini wanita tersebut mampir ke toko pakaian yang menjual berbagai jenis dress.
Indira mengangguk seraya tersenyum."Apapun yang Nyonya pakai selalu cocok," balas Indira terselip pujian di dalamnya. Ia akui majikannya bukan hanya memiliki tubuh yang ideal tapi rupa yang sangat cantik.
Memikirkan itu membuat Indira meraba permukaan wajahnya. Sekarang ia paham kenapa Dafi tidak ingin mengakui ia pada keluarganya. Bukan hanya tidak cinta tapi status sosial.
__ADS_1
Sementara Airin yang mendengar itu semakin melebarkan senyuman nya.
"Sepertinya aku tertarik untuk membeli dress ini. Ayo kita ke kasir, belanjaan ku juga sudah sangat banyak." Airin melangkah lebih dulu meninggalkan Indira yang masih larut dalam lamunannya.
Namun, tak lama suara barang jatuh membuat Airin menghentikan langkahnya lalu dengan cepat berbalik badan. Tampak Indira jatuh tersungkur ke lantai, karna tidak fokus membuat wanita muda itu tersandung dengan kakinya sendiri.
"Indira, kamu tidak apa-apa?" tanya Airin yang segera menghampiri pembantunya tersebut.
Tidak ada jawaban dari Indira melainkan ringisan kesakitan. Ia memegangi bagian perutnya yang terasa nyeri bahkan kali ini nyeri di perutnya lebih sakit dibanding yang kemarin. Padahal hanya jatuh biasa tapi berdampak pada kandungannya bahkan Indira merasakan cairan keluar dari vag*nanya.
"Indira? Kamu baik-baik saja?" Airin mulai khawatir ketika tidak ada jawaban. Indira semakin memeluk perutnya." Kita ke rumah sakit, ya?"
Tawaran Airin langsung dibalas gelengan oleh Indira. Pergi ke rumah sakit sama saja membongkar rahasia kehamilannya pada Airin.
"Ti-tidak perlu Nyonya. Saya ingin pulang saja," balas Indira tersendat-sendat sambil menahan nyeri.
"Kita harus ke rumah sakit," ucapnya tak ingin di tolak.
Airin memanggil karyawan di toko pakaian tempat mereka berdua berada sekarang, untuk memapah Indira keluar dari mall. Seberusaha apapun Indira menolaknya nyatanya tidak bisa, Airin tetap bersikeras membawanya ke rumah sakit.
•
•
"Bagaimana dengan kondisi pembantu saya, Dok?" tanya Airin ketika dokter pria itu selesai memeriksa Indira.
Sementara Indira sudah panas dingin terbaring di atas brankar menatap ke arah dua orang tersebut.
"Semuanya baik-baik saja termasuk kandungannya. Tapi yang jelas, jatuh dalam posisi apa pun selama kehamilan bisa menyebabkan pergerakan janin yang tidak seharusnya. Bila kondisi tersebut terjadi signifikan maka ibu hamil berisiko mengalami keguguran." Jelas dokter pria itu rinci.
Airin terperangah mendengar hal tersebut. Raut wajah wanita itu tampak shock. Kini tatapannya mengarah pada Indira.
"Ha-hamil? Bagaimana bisa?" Setahu nya Indira belum menikah. Apa pembantunya tersebut memiliki kekasih? Hingga melakukan hubungan terlarang.
__ADS_1
Kini, tatapan Airin kembali menatap Indira dan kali ini pandangan wanita itu penuh tanya pada pembantunya tersebut.