
"Tolong ...! Lepaskan aku!" Indira memberontak serta berusaha lepas dari jeratan pria yang berusaha ia hindari selama ini.
Dafi, pria itu membekap mulut Indira membuat wanita itu tidak mengeluarkan suara teriakan lagi yang bisa saja mengundang orang-orang yang berada di dekat rumah ini berdatangan.
"Indira ... diam. Saya tidak akan macam-macam!"
Dafi berusaha menenangkan wanita tersebut agar tidak semakin liar dalam jeratannya. Namun, nyatanya Indira semakin menjadi-jadi. Pria itu membalikkan badan Indira menghadap ke arahnya tanpa membiarkan wanita itu lari.
"Indira_"
Plak!
Tamparan yang sangat keras seketika melayang di pipi Dafi yang kini tampak memerah. Indira menatap pria itu dengan napas menggebu-gebu penuh emosi yang tak terkendali.
"Pergi dari sini! Pergi!" Indira memukul-mukul tubuh serta mendorong tubuh Dafi agar keluar dari rumahnya. Ia tak sudi kembali bertemu dengan mantan majikannya tersebut.
Seolah tak berhasil dengan pukulan yang diberikan, Indira mengambil vas kaca yang terletak di atas meja. Wanita itu seperti kesetanan, tak terkendali. Indira hendak memukul vas kaca tersebut dibagian kepala Dafi namun dengan cepat Dafi merebutnya lalu membuang sembarang.
"Sadar Indira ... saya tidak melakukan apapun. Saya hanya ingin menemui mu!"
"Pergi dari sini! Aku tidak butuh kamu di sini. Hidupku sudah sangat bahagia tanpamu ... pergi!" Indira berteriak nyaring sampai suaranya hampir menghilang.
Dafi menggeleng. Ia melangkah maju lalu memeluk tubuh gemetar Indira. Sekujur tubuh wanita berkeringat dingin.
"Maafkan ... saya."
Sementara Indira menggeleng kuat. Tidak ada yang perlu dimaafkan ia sudah sangat hancur semenjak sesuatu dalam dirinya direnggut. Sekarang ia berusaha kembali menyusun jalan hidupnya bersama Faza dan sekarang kenapa harus dipertemukan dengan Dafi lagi saat ia sudah merasakan kebahagiaan?
Kini, pria itu menguraikan pelukannya. Tanpa ragu Dafi menangkup wajah Indira yang terasa basah karna air mata mengalir deras dari pelupuk mata wanita itu.
__ADS_1
Dafi menatap Indira penuh kerinduan sementara Indira menatap penuh kebencian. Napas wanita itu tak beraturan dengan emosi yang semakin naik.
"Maafkan saya ..."
Lagi. Dafi kembali mengucapkan kalimat tersebut. Ia akui, ia memang sudah melakukan kesalahan yang sangat besar pada Indira. Dan wajar wanita tersebut begitu membencinya. Dan ia menerimanya.
"Pergi dari sini ... tolong pergi dari sini. Apakah aku harus memohon dan bersimpuh agar kamu pergi dari sini?"
Dafi menggeleng dengan mata yang memanas. Ia takkan pergi, ia tidak ingin melepaskan Indira. Ia ingin memperbaiki semuanya. Cukup pernikahan pertamanya gagal dan kali ini ia ingin mempertahankan pernikahan keduanya dengan Indira.
"Tolong beri saya kesempatan. Seharusnya saya tidak melakukan_"
"Tidak! Tidak ada kesempatan. Pergi dari sini!" teriak Indira. Baginya tidak ada yang perlu diperbaiki apalagi memberikan kesempatan kedua.
Indira kembali mendorong dada kokoh Dafi. Ia tidak ingin kembali dengan suaminya.
Indira melangkah lebar ke arah putranya lalu memeluknya begitu erat. Seolah menyembunyikan Faza dari Dafi. Sementara Dafi yang melihat anak kecil dalam dekapan Indira mematung sesaat.
"Indira ... itu anak kita?" tanya Dafi serak. Ia melangkah mendekati keduanya.
Sementara Indira menggeleng kuat dan semakin memeluk putranya. Seolah takut kehilangan.
"Bunda, kenapa? Aza ndak bisa napas ..." Faza tampak tak nyaman dengan pelukan Indira yang sangat erat.
Indira menyembunyikan Faza dalam pelukannya. Ia takkan membiarkan Dafi melihat atau menyentuh putranya.
"Dia bukan anakmu. Anak mu sudah mati! Dia anakku hanya anakku!" ucap Indira penuh penekanan sambil menggendong Faza.
"Jangan bohong Indira. Dia anak saya!" Dafi semakin melangkah maju mendekati keduanya."Saya memang salah tapi tolong jangan jauhkan saya dari anak kandung saya!"
__ADS_1
Indira melangkah mundur menjauh dari suaminya hingga punggungnya menubruk tembok. Ia sudah tak memiliki kesempatan untuk kabur. Faza yang tak diberikan kesempatan oleh Indira melihat wajah pria yang menjadi lawan bicara sang bunda kini memaksakan diri menatap ke arah sosok pria tersebut.
"Om ..." Wajah Faza tampak berbinar menatap Dafi.
Wajah Dafi yang awalnya menegang kini mengulas senyum hangat. Mata Dafi tampak berkaca-kaca melihat putranya. Ia tak pernah menyangka bocah laki-laki yang dibawa Jo adalah putranya. Bahagia, haru, dan sedih bercampur jadi satu dalam benak Dafi.
"Nak ... ini ayah." Dafi hendak mengapai tangan mungil Faza namun langsung di tepis kasar oleh Indira.
"Jangan sentuh anakku! Kamu tidak memiliki hak menyentuh ataupun mengakui dia anakmu!"
"Jangan egois Indira! Saya memang salah tapi jangan halangi saya menemui dia!"
"Egois? Aku tidak egois tapi kamu yang egois! Lebih mengutamakan Airin tanpa memperdulikan aku demi menutupi kebejatan mu itu!" Kali ini Indira benar-benar meledak. Tidak ada sopan santun yang harus ia jaga di hadapan pria yang kini hanya mantan majikannya.
Sementara Faza tampak menangis ketakutan kala melihat kemarahan yang terbingkai di wajah sang bunda. Wanita yang selalu bersikap keibuan dan lembut kini tampak diliputi amarah yang membara. Kedatangan Dafi seolah menggores kembali luka yang sudah mengering di hatinya.
Dafi yang mendengar tangisan putranya berusaha meredam emosinya. Sedangkan Indira semakin erat menggendong Faza.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan agar kamu memaafkan saya ..." Suara Dafi terdengar lirih dan lemah.
"Pergi dari sini ... jangan temui kami berdua. Tolong biarkan aku hidup tenang bersama putraku ... tolong lepaskan aku." Kali ini Indira benar-benar berharap Dafi melepaskan mereka berdua. Termasuk melepaskan ia dari jeratan pernikahan yang mengikatnya.
Pria itu menggeleng lemah dengan kedua tangan yang terkepal.
______
Hai semuanya! Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. Dan terima kasih sudah mampir.
See you di part berikutnya
__ADS_1