
"Ta-tapi aku tidak mau tidur di sini," ucap Indira menggelengkan kepalanya.
"Kenapa, hmm?" tanya Dafi. Karna dari beberapa kamar yang ada di rumah ini hanya kamar ini yang paling luas.
Indira terdiam sejenak. Tidur di kamar ini membuat ia teringat dengan mantan majikannya, Airin. Ada secercah rasa bersalah yang terselip dalam benaknya pada Airin. Apalagi suaminya tak mengatakan alasan mereka berdua berpisah. Ia takut menjadi sumber dari masalah ini hingga mereka berpisah.
"Hei ... kenapa diam?" Dafi menyentuh dagu Indira, membuat wanita itu tampak terkejut dan membuyarkan lamunannya.
"Aku tidak ingin tidur di sini. Aku ingin tidur di sebelah saja."
Indira bangkit kasur tersebut meski badannya terasa lemah namun Dafi dengan cepat menarik tubuh Indira hingga wanita itu jatuh dalam pangkuan sang suami.
"Kenapa ingin pindah kamar? Tidak suka?" Dafi butuh alasan yang jelas.
Indira tertunduk dengan kedua tangan saling bertautan dan itu tak lepas dari tatapan Dafi.
"Aku tidak nyaman tidur di kamar yang pernah Airin tempati. Melihat kamar ini saja membuat aku merasa bersalah," ucapnya dengan lirih.
Dafi yang paham dengan maksud dari ucapan sang istri, semakin mengeratkan kedua tangannya melingkar di pinggang Indira.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah. Saya tahu kamu mungkin berpikir saya bercerai dengan Airin karna kamu. Tapi nyatanya tidak, kami berdua memang sudah tidak cocok lagi dan untuk apa pernikahan saya dipertahankan dengan Airin bila kami berdua sudah tidak memiliki perasaan yang sama."
Dafi menjelaskan panjang lebar dan sehati-hati mungkin agar tidak menciptakan kesalah pahaman dari Indira.
"Lupakan semua yang berhubungan dengan Airin. Fokus dengan hubungan yang akan kita jalani sekarang. Oke?"
Indira kembali diam tak merespon. Ia bingung harus berkata apa lagi. Yang jelas ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi setelah empat tahun berlalu.
"Euh ..."
Indira terkejut ketika benda kenyal nan lembab menempel sempurna di bibirnya. Dengan tak terduga Dafi mencium bibir sang istri. Bukan hanya sekadar ciuman namun sebuah lum*tan yang menyiratkan hasrat yang beberapa tahun tidak tersalurkan. Indira meremas kemeja Dafi ketika ciuman itu semakin dalam. Ia mendorong tubuh besar suaminya hingga ciuman mereka berdua terlepas.
__ADS_1
Napas keduanya terengah-engah. Indira mengusap bibirnya yang memerah dan menyisakan cairan saliva. Ia sedikit menjauh dari Dafi hingga menciptakan jarak diantara keduanya.
"Maaf ..." Hanya kata itu yang meluncur dari bibir Dafi. Tiba-tiba saja ia hilang kendali dan mencicipi bibir ranum Indira. Di tambah ia sudah lama tak berhubungan dengan wanita membuat hasratnya mudah terpancing saat berdekatan dengan Indira.
"Aku ingin menemui, Faza ..." Indira memilih beranjak dari hadapan Dafi. Setidaknya menutupi kecanggungan yang ia rasakan. Dan ia tak terbiasa berduaan dalam satu ruangan dengan pria itu meski hubungan mereka berdua suami-istri.
Tapi, empat tahun tidak bertemu membuat kecanggungan itu tumbuh.
Dengan langkah cepat Indira keluar dari kamar. Dan itu tak lepas dari perhatian Dafi. Sepertinya malam pria itu akan selalu menyenangkan dengan kehadiran Indira. Membayangkannya saja sudah membuat Dafi tersenyum-senyum.
Indira berusaha menormalkan detak jantungnya yang berdetak tak karuan setelah keluar dari kamar. Ia menyentuh bibirnya hingga membuat ia melamun beberapa saat.
"Bunda!"
Suara pekikan Faza membuat Indira menoleh. Senyuman terukir dibibir wanita tersebut ketika melihat Faza berlari ke arahnya. Ia berjongkok lalu menangkap tubuh mungil Faza yang berhambur dalam pelukannya.
"Bunda ... di kamar sebelah sana banyak mainan. Katanya itu kamar buat Aza. Sini ikut aku bunda."
"Bagaimana? Bagus?"
Indira tampak terkejut ketika Dafi sudah berdiri di belakangnya. Tanpa ragu pria itu melingkarkan tangannya di perut rata sang istri. Deru napas Dafi yang menerpa leher Indira membuat sekujur tubuhnya meremang.
"Ba-bagus ..." jawabnya dengan tersendat-sendat karna gugup yang melanda.
Cup!
Dengan tiba-tiba Dafi mengecup pipi Indira. Membuat wanita itu lagi-lagi terkejut dengan gerakan tak terduga dari suaminya.
"Berarti kamu suka?"
Indira hanya membalas dengan anggukan. Mendadak badannya berkeringat dingin. Ia yang awalnya bersikap galak dengan suaminya tiba-tiba menciut.
__ADS_1
"Faza suka, Nak? Om sengaja mendesain ini untuk kamu."
Faza mengangguk semangat."Sangat suka!"
Bocah laki-laki itu kini berlari ke arah kasur lalu berloncat-loncat kegirangan. Selama bertahun-tahun hanya tidur di kasur lantai kini Faza tidur di ranjang yang sangat empuk. Dan tentu memberikan kebahagiaan tersendiri untuk bocah itu.
"Kasurnya empuk nggak kayak di rumah kemarin!" cetusnya.
Indira merasa bahagia melihat keceriaan yang terbingkai di wajah sang putra. Mungkin memang seharusnya Faza mendapatkan ini semua.
"Kamarnya sengaja saya pisah, supaya kita bisa menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan."
Ucapan Dafi membuat Indira menoleh. Senyuman misterius terukir di bibir pria itu. Dafi semakin mengeratkan pelukannya pada Indira. Rasanya sangat nyaman dan menyenangkan. Sementara Indira sudah panas dingin dengan ucapan suaminya yang menyiratkan sesuatu apalagi senyuman Dafi membuat ia sedikit takut.
•
•
"Wah, ayam goreng!" Faza bertepuk-tepuk kegirangan kala Dafi mengajaknya untuk makan.
Di meja makan sudah tersedia bermacam menu makanan terutama ayam goreng favorit Faza.
"Sini, Bunda bantu." Indira mengangkat tubuh mungil putranya ke kursi. Tanpa ragu bocah laki-laki itu mengambil satu potong ayam goreng lalu memakannya.
"Ayo makan Indira, jangan terus berdiri. Duduk sini." Dafi menepuk-nepuk kursi di sampingnya yang kosong.
Dengan ragu-ragu wanita itu mendudukkan dirinya di samping Dafi. Ia menatap menu makanan yang terhidang.
"Mau saya ambilkan?" tanya Dafi.
Indira menggeleng cepat."Aku bisa mengambil sendiri." Ia mengambil piring kosong lalu mengambil sedikit nasi dan lauk.
__ADS_1
"Kenapa sedikit sekali? Lebih banyak lagi. Saya ingin kamu gemuk, lihat badan kamu sekarang sangat kurus," ucap Dafi tampak protes dengan makanan yang Indira ambil.