
"Indira!" Jo terus mengetuk dan memanggil-manggil Indira namun tidak ada sahutan dari dalam rumah itu, bahkan rumah kontrakan tersebut tampak sepi dan gelap seperti tak berpenghuni.
"Ke mana dia?"
Meskipun begitu Jo terus memanggil Indira karna berpikir wanita itu tidak mendengar panggilannya atau sudah tertidur. Tapi yang jelas ia ingin meminta penjelasan pada Indira tentang hubungannya dengan Dafi.
"Orangnya sudah pindah!" Sahutan seseorang membuat Jo menoleh. Tampak seorang wanita berusia 45 tahunan yang baru pulang dari warung melangkah menghampiri.
"Orangnya sudah pindah sore tadi Mas," sambungnya.
"Pindah? Pindah ke mana?"
"Saya tidak tahu Indira pindah ke mana tapi yang jelas dia dibawa seorang pria. Saya juga tidak tahu pria itu siapa."
Jo terdiam sejenak otaknya berpikir cepat menerka-nerka pria yang membawa Indira. Seketika pikirannya langsung tertuju pada Dafi. Siapa lagi yang membawa Indira pergi jika bukan sahabatnya tersebut. Bahkan apakah masih pantas Dafi dianggap sahabat bila mengambil Indira darinya. Ia tidak akan percaya dengan ucapan Dafi bila bukan indira sendiri yang mengatakan kebenaran tentang pernikahan mereka berdua.
Jo memejamkan matanya sejenak berusaha menenangkan perasaan yang bergejolak dalam dadanya. Dengan langkah gontai ia kembali masuk dalam mobilnya.
•
•
Jam dinding menujukkan pukul 11: 00 malam namun Dafi tampak tak memejamkan matanya. Beberapa kali matanya menatap ke arah pintu menunggu sosok Indira masuk ke dalam kamar.
"Lama sekali dia ke kamar ..." Dafi sangat tak sabaran menanti kedatangan sang istri. Indira tengah menidurkan Faza di kamar sebelah.
Dafi yang sudah berbaring di kasur tampak tak karuan. Sesaat kemudian, Ia memilih menyusul Indira. Namun, baru menuruni kasur pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok indira. Wanita itu sedikit terkejut kala melihat Dafi masih terjaga.
Indira meneguk ludahnya kasar serta jantung yang berdetak tak karuan melihat sosok suaminya. Ia sengaja berlama-lama di kamar Faza agar menghindari interaksi dengan Dafi malam ini apalagi ini pertama kalinya mereka berdua tidur satu kamar.
Sementara Dafi tak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia masih tak percaya bisa menemukan Indira dan anaknya lalu membawa mereka ke rumah ini.
"Kemarilah, Indira. Tidurlah di sampingku." Dafi menepuk-nepuk kasur di sampingnya sambil membenarkan bantal yang akan Indira rebahi.
Dengan rasa gugup dan wajah yang memanas karna malu, Indira melangkah mendekati kasur.
"Saya sengaja tidak tidur karna menunggumu."
"Tu-tuan tidak perlu menunggu saya, kalau tuan mengantuk langsung tidur saja."
__ADS_1
Dafi tak menggubris ucapan Indira, tangannya menggenggam tangan sang istri lalu menariknya agar segera menaiki kasur. Indira yang diperlakukan seperti itu merasa seluruh badannya panas dingin.
Mereka berdua seperti pengantin baru. Indira yang tampak malu-malu dan Dafi yang begitu agresif.
Indira mendudukkan dirinya di kasur berhadapan dengan Dafi yang tak melunturkan senyumannya yang berbinar-binar. Pria itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Faza sudah tidur?"
"Su-sudah. Tapi saya_"
Dafi dengan cepat memotong perkataan Indira bahkan meletakkan ujung jari telunjuknya di bibir sang istri.
"Ssttt ... jangan bicara saya-saya lagi. Itu terlalu kaku untuk kita berdua yang merupakan suami-istri."
"Lalu harus memanggil apa?"
"Kamu panggil saja saya Mas, sangat cocok untuk panggilan seorang istri pada suami. Coba panggil Mas."
Indira mengigit bibirnya kelu begitu ragu menyebut panggilan tersebut bukan hanya sangat asing di lidahnya tapi tak biasa apalagi pada pria yang dulu merupakan majikannya.
"Ayo coba panggil Mas." Kali ini Dafi tampak memaksa.
Sementara Dafi tampak kegirangan dengan panggilan Indira.
"Mulai sekarang panggil saya Mas. Sekarang ayo tidur."
Dafi menarik tubuh mungil Indira agar berbaring di sampingnya. Tanpa ragu pria itu memeluk tubuh Indira dalam pelukannya membuat Indira begitu gugup dan menahan napas dengan posisi mereka berdua sekarang.
"Apakah kamu masih marah dengan Mas?" tanya Dafi yang memejamkan matanya namun tetap setia memeluk.
"Masih."
Dafi yang mendengar jawaban itu perlahan membuka matanya lalu menatap Indira yang juga membalas tatapannya dengan posisi mereka berdua yang begitu dekat. Bahkan Dafi bisa merasakan hembusan napas Indira.
"Maafkan Mas, Indira. Mas akan menebus semua kesalahan yang sudah Mas lakukan sampai kamu melupakan penderitaan dan rasa sakit yang kamu rasakan dahulu."
"Cukup Mas Dafi tidak kembali mengulangi kesalahan yang sama. Dan aku berharap Mas bisa menjadi suami dan ayah yang lebih baik lagi."
Mata Indira berkaca-kaca mengatakan itu. Meskipun ia memaafkan semua kesalahan Dafi namun tak bisa melupakan apa yang sudah ia alami dengan sang putra.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Mas, akan menjadi suami dan ayah yang lebih baik lagi. Kamu jangan pergi lagi."
Dafi semakin mendekap tubuh hangat Indira menyalurkan segala kerinduan yang sudah menggunung.
"Indira, apa Mas boleh meminta sesuatu?" ucap Dafi seraya menguraikan pelukannya.
"Meminta apa?"
"Apa boleh Mas meminta hak_"
"Aku belum siap. Untuk saat ini aku tidak ingin melakukan itu." Indira dengan cepat memotong ucapan Dafi.
Ia masih segan dengan Dafi meski pria itu merupakan suaminya dan sangat baik padanya. Apalagi mereka berdua baru saja bertemu dan Dafi langsung meminta hal seperti itu.
Raut wajah Dafi tampak kecewa. Meski begitu pria itu tetap menurut walau tak yakin bisa tahan.
Indira mengubah posisinya yang kini membelakangi Dafi. Ada sedikit rasa bersalah. Tapi ia memang tidak bisa.
"Eh ..."
Indira tampak tersentak kala Dafi kembali memeluknya. Kali ini pria itu semakin merapatkan tubuhnya pada Indira.
"Mas tidak akan macam-macam, hanya ingin memeluk saja," ucap Dafi ketika Indira berusaha melepaskan lilitan tangannya.
Indira yang awalnya berusaha melepaskan lilitan tangan Dafi kini mengurungkan niatnya. Ia membiarkan pria itu memeluknya walau jantungnya berdetak menggila.
•
•
Rembesan cahaya matahari yang melalui celah gorden dan membias wajah Indira yang perlahan membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya di ruangan yang ia tempati.
Mata yang masih terlihat sayu itu menoleh ke samping. Kosong. Tidak ada sosok Dafi di sampingnya. Dengan badan yang terasa lemas dan rasa kantuk yang masih mendera Indira turun dari kasur.
Baru melangkahkan kakinya hendak ke pintu, langkah Indira terhenti tepat di depan cermin.
Wanita muda itu tampak terkejut melihat bercak-bercak merah di bagian leher dan dadanya.
"Kenapa bisa merah-merah kayak gini?" Indira mengusap-usap lehernya seolah berusaha menghilangkan tanda tersebut.
__ADS_1