Mengandung Anak Dari Majikanku

Mengandung Anak Dari Majikanku
IRSM: Berusaha Meyakinkan


__ADS_3

"Aku tidak ingin pindah, aku ingin tetap di sini!"


Indira kembali memasukkan pakaian miliknya yang sebelumnya Dafi masukkan ke dalam koper. Tiba-tiba saja dengan mendadak suaminya ingin memboyong mereka berdua ke Jakarta.


"Indira, dengarkan saya." Dafi memegang kedua bahu Indira, membuat wanita itu tidak bergerak ke mana-mana dan menghadap ke arah ia sepenuhnya."Saya ingin memperbaiki hubungan kita berdua. Dan saya ingin kalian tinggal di tempat yang layak dan nyaman! Kamu kira saya tidak sakit melihat anak saya tinggal di tempat seperti ini?"


Indira menundukkan kepalanya dengan raut wajah merengut. Ia tidak ingin kembali ke Jakarta dan kembali mengulang rasa sakit yang ia rasakan.


Wanita itu menggeleng lirih tanpa ingin menatap Dafi."Aku ingin tetap di sini. Aku tidak mau menjadi orang ketiga diantara kamu dan Airin ..."


Dafi menghela napas berat. Sekarang ia tahu alasan Indira tidak ingin ikut dengannya. Karna wanita itu berpikir Airin masih menjadi istrinya. Sesaat kemudian senyuman mengembang di bibir Dafi membuat Indira yang tak sengaja melihat senyuman suaminya mengkerutkan keningnya.


"Kenapa?"


"Jika Airin tidak menjadi istri saya apa kamu akan ikut saya pula ke Jakarta?"


Mendengar itu seketika Indira menatap penuh tanda tanya, seolah apa yang Dafi ucapkan tersirat sesuatu tersembunyi.


''Maksudnya apa?''


Dafi mengulas senyum. Senyum yang misterius bagi Indira. Wanita itu terus menatap sang suami menungggu jawaban yang keluar dari mulutnya.


''Saya akan mengatakan semuanya setelah kamu setuju ikut saya. Jika saya kembali menyakiti kamu, kamu boleh pergi dengan Faza dan saya tidak akan mencarimu lagi.''


Kerutan halus muncul di kening Indira, ia semakin menatap lekat Dafi seolah mencari kebohongan. Namun, ia tidak menemukan kebohongan dari wajah dan mata suaminya kecuali keseriusan. Segala spekulasi bermunculan di kepala Indira. Apa ada sesuatu yang terjadi dengan hubungan Dafi dan Airin? Ucapnya dalam hati.


Kini, Dafi meraih kedua tangan Indira lalu menggenggamnya erat."Kalau perlu saya buat surat perjanjian agar kamu semakin percaya, bagaimana?"


Indira terdiam beberapa saat dan setelahnya mengangguk. Tidak ada salahnya menyetujui ide pria itu. Ia tidak ingin menelan kekecewaan ketiga kalinya.


"Baiklah. Sekarang kita bereskan barang-barangmu ini. Malam ini kita harus pulang ke Jakarta."


"Euh ..."

__ADS_1


Indira tampak terkejut kala Dafi menarik ia dalam pelukan yang hangat. Gugup dan jantung yang berdegup menggila membuat Indira salah tingkah. Ia lupa kapan terakhir ia berpelukan dengan suaminya. Tapi yang jelas, pelukan ini memberikan sensasi yang nyaman.


Wanita itu menggelengkan kepalanya berusaha mengendalikan dirinya agar tidak kembali terjatuh dalam lobang kekecewaan yang sama. Ia menjauhkan melepaskan diri dari pelukan Dafi.


"Keluar' lah dari kamar ini, aku ingin bersiap-siap." Ia berucap dengan suara yang serak.


Dafi mengulas senyum seraya mengangguk. Ada kebahagiaan yang meletup-letup dalam hatinya. Kali ini ia akan membuat Indira semakin lengket padanya dan membuktikan bila ia benar-benar serius. Indira menatap sendu sang suami yang kini keluar dari kamar lalu menghampiri Faza. Bisa ia lihat putranya sangat gembira saat melihat Dafi. Seolah pria itu memberikan aura positif yang menyusupkan kebahagiaan pada Faza.


"Ini, Tuan ..."


Bertepatan Dafi menghampir Faza, Naldo datang membawa pakaian yang diperuntukkan untuk Faza. Dafi langsung menyambut paper bag berwarna hitam itu lalu mengeluarkan isi di dalamnya.


"Berdiri Faza," titahnya.


Dengan patuh dan mulut yang penuh coklat  Faza bangkit dari lantai. Dafi membuka pakaian yang sekarang putranya pakai lalu memakaikan pakaian yang baru ia beli. Kebanyakan yang Dafi dapatkan dalam lemari, pakaian putranya yang tampak sederhana dan  sedikit lusuh. Entah Indira yang tidak mampu membelikan.


"Suka bajunya?"


Faza mengangguk sumringah."Bajunya bagus, Om. Ada gambar mobil-mobilannya!"


"Nanti Om belikan baju yang lebih bagus. Kalau perlu kita beli mainan yang banyak."


Faza semakin melebarkan senyumnya namun tak lama senyuman itu memudar ketika teringat ucapan sang bunda.


"Tapi kata Bunda, Faza ndak boleh mainan lagi katanya buang-buang uang." Bocah itu melengkungkan bibirnya ke bawah.


Dafi yang mendengar itu seketika melirik Indira yang tengah sibuk membereskan pakaian. Dalam pikirannya saat ini, andai ia tidak menemukan mereka berdua entah semenyedihkan apa kehidupan putranya dan bisa saja istri dan anaknya akan terus terpuruk dalam kehidupan perekonomian yang sulit.


Dafi menghela napas berat."Tidak apa-apa, Nak. Selama Om mempunyai uang yang banyak tidak ada larangan untuk membeli mainan. Yang terpenting Faza senang."


"Jadi, bunda ndak marah asalkan punya uang banyak?"


Dafi mengangguk. Sepertinya setelah ini bocah laki-laki itu akan mudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Apalagi Dafi tampak memanjakan.

__ADS_1




Naldo memasukkan koper serta barang-barang milik Indira dan Faza ke dalam mobil. Dafi keluar dari rumah kontrakan sederhana tersebut sambil menggendong Faza yang terus berceloteh.


"Om, kita mau pergi ke mana?" Faza tampak keheranan dengan semua barang-barang serta mainannya dimasukkan ke dalam mobil.


"Kita akan pindah ke rumah yang lebih besar dan luas. Di sana ada kolam renangnya juga."


Mata bocah laki-laki itu membulat sempurna seolah apa yang Dafi sampaikan sesuatu yang luar biasa.


"Beneran, Om. Di sana Aza bisa berenang?"


"Tentu, Sayang. Kalau perlu Om buatkan prosotan di kolam renang."


"Wah, asyik! Aza ndak sabar mau berenang!" Bocah itu bergerak penuh kegirangan dalam gendongan Dafi.


Naldo membuka pintu mobil. Baru saja Dafi hendak masuk ke dalam mobil suara pekikan seorang wanita paruh yang tiba-tiba datang lalu menyambak rambut Indira yang baru saja keluar dari rumah.


"Bayar hutangmu itu. Untung aku cepat datang ke sini kalau tidak, kamu sudah kabur! Enak saja langsung pergi tanpa melunasi hutang!"


Wanita itu kembali mendorong Indira yang tampak shock dan sangat terkejut dengan serangan dadakan.


Naldo hendak melangkah menghampiri wanita yang berani bersikap kasar dengan istri bosnya. Namun, Dafi menahannya.


"Biarkan saja," ucap Dafi tampak tenang.


"Tapi Bos wanita itu_"


Naldo langsung mengantupkan bibirnya ketika Dafi memberikan lirikan tajam.


_____

__ADS_1


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir!


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. See you di part selanjutnya:)


__ADS_2