
Dunia ini adalah tempatnya lelah dan ujian. Selama kau masih berada di dunia, ujian akan terus mengalir. Tidak ada manusia yang hidup tanpa adanya ujian.
______
Dafi terdiam mematung diambang pintu ketika memasuki kamar di mana Indira berada di sini sebelumnya. Sepi dan senyap. Ia melangkah masuk lalu meletakkan plastik bening berisi obat ke atas meja.
Tatapan pria itu mengedar ke setiap sudut kamar bahkan aroma harum Indira masih tercium hingga tatapan Dafi jatuh pada selembar kertas di atas kasur. Ia meraih kertas yang terukir tulisan di atas nya.
Tuan tidak perlu mencari saya. Biarkan saya pergi dan menjalani kehidupan saya. Kehadiran saya sangat menyakiti nyonya Airin. Dan saya tidak ingin kehadiran saya membebani bahkan menyakiti orang-orang disekitar tuan.
Anggap saja kita berdua tidak pernah kenal dan lupakan semuanya bila kita pernah menjalin sebuah hubungan. Saya akan menjaga anak kita dengan sangat baik.
Dafi meremas kertas tersebut dengan gemuruh di dadanya. Ia melangkah lebar keluar dari kamar Indira dan bergegas menuruni anak tangga namun suara serak seseorang membuat Dafi menghentikan langkahnya. Ia berbalik badan menatap Airin yang kini melangkah menghampirinya.
"Mau ke mana? Mencari Indira?" Tebak Airin disertai tersenyum tipis.
"Berarti kamu tahu Indira pergi dari sini?" balas Dafi menajamkan tatapannya.
"Iya. Aku yang menyuruh dia pergi dari sini. Karna sampai kapan pun aku tidak akan menerima dia sebagai istri kedua kamu, Mas!"
"Keterlaluan kamu, Airin! Dia sedang mengandung anakku!"
"Aku tidak peduli. Dan Mas jangan mencari keberadaan Indira. Aku tidak sudi wanita murahan itu berada di rumah ini. Bila kamu nekat mencari Indira jangan salahkan aku bila besok Mas melihat aku sudah tidak bernyawa lagi!"
Ancaman yang Airin berikan berhasil membuat Dafi tak berkutik. Airin melangkah maju mendekati suaminya, tangannya terulur mengusap lembut pipi Dafi.
"Aku memutuskan berhenti untuk sementara waktu menjadi model. Aku sudah siap mengandung anak kamu, Mas..." ucap Airin dengan senyuman berbinar. Berharap ketika ia hamil nanti Dafi akan melupakan Indira. Karna ia yakin suaminya menikahi Indira hanya mengincar anak.
Dafi tak merespon. Padahal sejak dulu pria itu selalu berharap Airin segera mengandung anaknya tapi sekarang pria itu tampak tak bahagia. Airin tampak tak peduli dengan ke terdiaman Dafi, yang terpenting rumah tangga mereka berdua akan bahagia setelah kelahiran anak mereka berdua.
•
__ADS_1
•
Empat tahun berlalu...
Seorang wanita muda hanya geleng-geleng kepala menatap sang putra yang tampak kegirangan ketika mendapatkan mainan baru. Walaupun ada rasa tak enak hati karna setiap putranya meminta sesuatu selalu saja diberikan pria itu.
"Lain kali jangan minta-minta lagi sama om, Sayang," peringat Indira pada Faza.
Bocah 4 tahun itu mendongak menatap sang bunda dengan tatapan polosnya.
"Aza ndak minta Bunda, tapi om yang ngasih," balas Faza dan kembali fokus pada mainannya.
Indira menghela napas berat. Padahal ia sudah melarang pria itu untuk tidak memberikan apapun pada putranya. Ia tidak ingin putranya menjadi terbiasa merengek meminta-minta pada orang asing.
Indira tersentak sama halnya dengan Faza ketika seorang wanita berusia 50 tahunan meletakkan tumpukkan piring kotor di wastafel sedikit kasar hingga menciptakan bunyi cukup keras.
"Cuci piring ini!" ucapnya ketus. Ia melirik tajam ke arah Faza yang kini bersembunyi dibalik kaki Indira."Mulai besok jangan ajak anak kamu ke tempat ini. Anak kamu menganggu pelanggan sampai menumpahkan minuman!"
Indira melirik putranya yang menampilkan wajah ketakutan melihat Bu Narsih. Kini tatapannya beralih menatap Bu Narsih."Sebelumnya saya minta maaf dengan kenakalan Faza. Saya juga tidak mungkin meninggalkan Faza di rumah sendirian karna tidak ada yang menjaga. Tapi saya janji Faza tidak akan melakukan hal seperti itu lagi," balas Indira meyakinkan.
Indira hanya bisa menunduk mendengar ucapan ketus Bu Narsih. Setelah mengatakan itu wanita paruh baya itu beranjak dari tempat tersebut. Melihat kepergian Bu Narsih, Faza menarik-narik ujung baju Indira.
"Maafin Aza, Bunda. Tadi Aza ndak sengaja." Mata bocah laki-laki itu berkaca-kaca.
Indira tersenyum seraya menyelaraskan tinggi badannya dengan sang putra."Tidak apa-apa, Sayang. Tapi lain kali hati-hati. Kalau perlu Faza di sini saja jangan ke depan, ya."
Bocah laki-laki itu mengangguk. Indira menarik Faza dalam pelukannya. Mendekap tubuh mungil itu begitu erat. Ada kepedihan di hati Indira tidak bisa memberikan kehidupan yang nyaman untuk putranya.
•
•
__ADS_1
"Bunda, punya uang? Kalau nggak punya uang ndak apa-apa." Pertanyaan Faza membuat Indira menghentikan langkahnya ketika hendak pulang.
"Memang kenapa, Sayang?"
Faza menunjuk penjual ayam goreng di pinggir jalan. Tatapan penuh minat tampak jelas dari sorot mata hitam kelam tersebut."Aza mau ayam goreng."
Mendengar itu Indira memeriksa dompetnya. Ia menghela napas berat menatap selembar uang 20.000 ribu dalam dompetnya. Uang terakhir.
"Ayo kita beli ayam goreng." Indira menarik pergelangan tangan putranya. Faza tampak kegirangan. Apapun akan Indira berikan selama ia mampu bagaimana pun Faza satu-satunya harta yang sangat berharga untuknya.
"Faza ayamnya mau dada atau paha, Sayang?"
"Paha, Bunda!" seru Faza begitu semangat.
Indira tersenyum seraya mengusap rambut tebal putranya.
"Pak, ayam gorengnya yang paha atas berapa?"
"20.000 ribu, mbak."
Indira menyerahkan uang 20.000 ribu tersebut. Faza tampak tak sabaran bahkan perutnya sudah sangat keroncongan.
"Terima kasih, Pak."
"Sini, biar Aza yang bawa Bunda." Faza merebut kotak ukuran sedang berisi ayam goreng tersebut. Ia menghirup dalam aroma sedap ayam goreng itu.
"Nanti kalau Bunda punya uang berlebih, Bunda belikan ayam yang banyak."
Ucapan Indira dibalas sorakan gembira oleh Faza. Wanita muda itu begitu bahagia melihat wajah gembira putranya. Namun, wajah Faza juga selalu memberikan rasa pedih karna memiliki rupa yang sangat mirip seperti Dafi. Termasuk dari tatapan matanya.
_______
__ADS_1
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. See you di part berikutnya:)