Mengandung Anak Dari Majikanku

Mengandung Anak Dari Majikanku
IRSM: Kejujuran Yang Menghancurkan


__ADS_3

Setelah seharian ke sana kemari mencari lowongan pekerjaan namun hasilnya nihil dan akhirnya Indira memilih untuk pulang. Zaman sekarang memang sangat sulit untuk mencari pekerjaan. Indira memilih pulang berjalan kaki untuk menghemat pengeluaran walau kakinya terasa ngilu dan penat.


Wanita itu melewati jalanan yang cukup sepi hanya beberapa kendaraan yang lewat ditambah daerah ini jarang ada rumah. Namun, langkah Indira terhenti ketika sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya dan tak lama dua pria keluar dari mobil sedan hitam tersebut.


"Ayo ikut kami." Salah satu dari pria itu memegangi lengan Indira. Sontak hal tersebut membuat wanita muda itu memberontak.


"Siapa kalian?" Indira menatap takut dan was-was.


"Kami tidak akan melakukan apapun. Cukup ikut dengan kami."


Indira menggeleng. Ia berusaha melepaskan diri bahkan berusaha menendang salah satu diantara mereka berdua.


"Ingat kata bos jangan sampai melukai dia." Pria itu mengangguk mengiakan ucapan temannya.


Tak ingin semakin sulit membawa masuk Indira ke dalam mobil, salah satu dari pria itu membekap mulut dan hidung Indira dengan sebuah kain yang sudah diberikan cairan obat bius membuat kesadaran Indira perlahan terenggut. Indira yang awalnya memberontak kini sudah hilang kesadaran, tenaganya melemah.


"Langsung bawa ke rumah atau bagaimana?" tanyanya ketika Indira sudah pingsan.


"Bawa masuk dulu wanita ini ke dalam mobil, aku telpon bos dulu."


Pria itu mengangguk lalu membawa masuk tubuh lemah Indira ke dalam mobil.


"Bos, kami sudah menemukan wanita bos cari. Sekarang harus kami bawa ke mana?"


"... "


"Baik bos. Kami berdua segera ke sana."


Kini, keduanya masuk ke dalam mobil lalu mulai menjalankan mobil ke tempat yang sudah d instruksikan oleh bos mereka berdua.




Di sebuah kamar yang tampak asing seorang wanita melenguh dan perlahan membuka matanya ketika merasakan sentuhan lembut di wajahnya. Saat manik coklat Indira sudah terbuka sempurna, ia terbeliak ketika melihat Dafi sudah berada tepat di hadapannya. Senyuman mengembang di bibir pria itu. Tangan Dafi masih setia mengelus-ngelus pipi berisi Indira. Tatapan yang menyiratkan sesuatu yang Indira sendiri takkan paham.

__ADS_1


"Akhirnya kamu sudah sadar," ucap Dafi tak sedikitpun ingin menjauh dari Indira.


Wanita muda itu terdiam menatap lekat wajah suaminya. Perasaan Indira saat ini benar-benar tak karuan. Ia yang ingin menjauh dari suaminya sekarang kembali lagi ke tempat yang membuat luka dihatinya tercipta.


"Kenapa, kenapa aku di sini?" Hanya pertanyaan itu yang terlontar di bibir Indira.


"Karna tempatmu memang di sini, Indira. Sebelumnya saya minta maaf, saya tahu alasan kamu kabur karna permintaan saya waktu itu. Sekarang saya sadar, bahwa tidak seharusnya saya menutupi ini semua. Termasuk tentang anak yang kamu kandung."


Tangan Dafi mengusap permukaan perut Indira yang tertutup pakaian.


Indira menggeleng kuat dengan genangan air mata yang merembes membasahi pelipisnya."Sekarang saya tidak butuh kejujuran Tuan apalagi mengakuan Tuan tentang anak yang saya kandung. Saya hanya ingin hidup bebas dan membesarkan anak saya tanpa terbebani rasa bersalah pada nyonya Airin. Kita akhiri saja pernikahan ini."


Mungkin ini keputusan terbodoh yang Indira minta tapi ia tidak mungkin terus bertahan diantara Dafi dan Airin. Ia tak lebih seperti orang asing bahkan menjadi sosok ketiga walau ini bukan keinginannya.


"Tidak! Sampai kapan pun kamu akan tetap menjadi istri saya dan kita akan membesarkan anak kita bersama. Tak perlu memikirkan Airin," balas Dafi dengan raut wajah tak suka dengan permintaan Indira.


Dafi menarik tubuh mungil Indira dalam pelukannya, menyalurkan segala perasaan yang tersirat dari lubuk hatinya. Indira hanya diam, tak menolak ataupun membalas pelukan suaminya. Membiarkan kehangatan pelukan pria itu menjalar ke tubuhnya.


"Jangan pernah berpikir untuk kembali pergi meninggalkan saya, Indira. Dan maafkan saya."


"Hari ini kita temui Airin dan mengatakan semuanya."


Napas Indira seketika tercekat. Ia sudah membayangkan bagaimana reaksi Airin nanti. Tanpa sadar ia meneguk ludahnya kasar.


Dafi mengecup bibir ranum Indira membuat wanita muda itu terbeliak kaget.


"Jangan takut, selama ada saya semuanya akan baik-baik saja," ucap Dafi disertai senyuman lembut. Namun sayangnya, ucapan pria itu tak mampu menghilangkan kecemasan dan kerisauan Indira.


"Kenapa takdir tak berpihak kepadaku. Kenapa dia begitu mudah menemukan ku." batin Indira.




Suara bel rumah yang cukup keras membuat Airin yang tengah duduk santai di sofa ruang tamu kini bangkit dari tempat duduknya. Ia melangkah menuju pintu utama yang terus berbunyi suara bel.

__ADS_1


Tubuh Airin mematung beberapa saat ketika membuka pintu dan mendapati suaminya berdiri di depan pintu tapi kali ini bersama wanita yang tak lain pembantunya. Indira menundukkan kepalanya tak sanggup bertatapan dengan Airin. Bahkan sekujur tubuhnya berkeringat dingin.


"Kamu sudah menemukannya, Mas."


Airin menatap Indira dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Iya, sekarang ayo kita masuk. Aku ingin membicarakan sesuatu."


Dafi melangkah masuk ke dalam rumah dan kali ini menggandeng tangan Indira membuat rasa cemburu membumbung tinggi di hati Airin. Bahkan tatapan wanita itu menajam melihat sesuatu yang membuat dadanya panas.


"Kenapa harus gandengan tangan?" Airin mendorong Indira cukup kasar membuat tubuh wanita itu hampir jatuh terjengkang ke belakang namun beruntung Indira bisa menyeimbangkan tubuhnya.


"Jangan kasar seperti itu, Airin!" tegur Dafi tegas dengan tatapan tajamnya.


Melihat reaksi suaminya membuat dada Airin bergemuruh."Kamu pulang ke rumah membawa dia dan sekarang bergandengan tangan! Apa itu pantas antara majikan dan pembantu? Kamu kira aku tidak marah!"


Napas Airin memburu. Baru saja ia dan Dafi berbaikan setelah bertengkar, kini suaminya kembali memancing, membuat amarahnya seketika bergejolak.


Sementara Indira yang melihat kemarahan Airin semakin tak yakin bila majikannya tersebut akan menerima kejujuran Dafi nanti.


"Aku tahu. Tapi satu hal yang ingin aku katakan, Airin. Indira..." Dafi menjeda ucapannya beberapa saat. Ia melirik sekilas pada Indira sebelum mengatakan sesuatu yang pasti akan melukai hati Airin.


Airin menatap lekat suaminya, menunggu kalimat selanjutnya yang terlontar.


"Sebenarnya Indira istriku dan anak yang Indira kandung, adalah anakku."


Bagai disambar petir disiang bolong, tubuh Airin menegang sempurna. Jantung wanita itu berhenti berdetak beberapa detik. Napasnya tercekat di tenggorokan.


"Is-istri?" Suara Airin bergetar. Tak lama setelah berucap seperti itu ia langsung hilang kesadaran.


_____


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komentar. See you di part selanjutnya

__ADS_1


__ADS_2