Mengandung Anak Dari Majikanku

Mengandung Anak Dari Majikanku
IRSM: Akhirnya Tertangkap!


__ADS_3

Dafi mengusap wajahnya kasar berusaha menenangkan perasannya setelah Airin pergi meninggalkan kamar hotelnya. Pria itu tampak duduk melamun di bahu ranjang membuat ia kembali teringat empat tahun lalu di mana satu hari kepergian Indira tiba-tiba Airin mengaku hamil. Dan usia kandungan Airin sudah memasuki usia dua bulan dan selama itu Airin diam tak mengatakan apapun. Dan sekarang ia baru tahu Airin tengah mengandung anak pria lain setelah mendapati Airin tengah bertemu diam-diam dengan Seno di sebuah hotel.


Mengingat hal itu membuat amarahnya merambat memenuhi dadanya. Andai ia tahu Airin mengkhianatinya sudah pasti ia akan mempertahankan Indira meski harus kehilangan Airin. Meskipun ia juga salah karna menikahi pembantunya diam-diam tanpa sepengetahuan Airin tapi ia tak sengaja meniduri Indira hingga wanita itu mengandung anaknya.


Lagi, pria itu menghela napas berat. Sekitar beberapa menit duduk di ranjang kini Dafi bangkit dari tempat duduknya lalu meraih kunci mobil yang tersimpan di atas meja. Sepertinya ia butuh menenangkan pikiran untuk melupakan semua yang ada di kepalanya. Kini, Dafi keluar dari kamar hotel yang sudah ia tempati selama dua hari dan mungkin lusa ia akan kembali ke Jakarta.


"Bos? Anda ingin ke mana?" Naldo menghentikan langkah Dafi yang baru beberapa langkah keluar dari kamar inapnya.


Naldo yang hendak kembali masuk ke dalam kamarnya setelah dari lobby kini menghentikan pergerakannya kala melihat Dafi keluar dari kamar hotel yang bersebelahan dengan kamar yang ia tempati.


"Ingin keluar sebentar," balas Dafi seadanya.


"Ingin saya temani, Bos?"


"Tidak perlu. Aku sendiri."


Setelah mengatakan itu Dafi berlalu meninggalkan Naldo yang menatap kepergian atasannya tersebut sampai hilang dari pandangan matanya.




Suara alunan musik dan lampu disko menjadi pelengkap club yang saat ini begitu ramai. Tampak wanita maupun pria berjoged-joget dengan liar di bawah lampu disko mengikuti alunan musik Dj. Tampak seorang pria memasuki club tersebut, melangkah dengan santai lalu mendudukkan dirinya di kursi dekat meja pantry. Setelah beberapa tahun kejadian naas itu ia tak pernah datang ke tempat seperti ini. Tapi saat ini ia butuh sesuatu yang membuat ia melupakan sesuatu yang mengusik perasaannya.


"Selamat datang, Tuan. Sepertinya anda baru pertama kali datang ke sini," ucap seorang bartender yang bertugas meracik sebuah minuman beralkohol maupun non alkohol.


Dafi hanya menipiskan bibirnya dengan sapaan bartender tersebut. Ia melirik beberapa wanita dengan pakaian yang hampir membuat wanita itu setengah telanjang.


"Apa anda ingin pesan minuman Tuan?" Bartender itu kembali berucap. Dafi kembali menatap pria di hadapannya.


"Alkohol." Satu kata itu membuat bartender itu mengangguk lalu menyiapkan minuman yang pelanggan minta.


"Ini Tuan ..."

__ADS_1


Tanpa ragu Dafi meraih cangkir kecil yang bartender itu berikan. Ia menatap lekat alkohol dalam cangkir kecil itu. Melihat minuman ini membuat ia teringat dengan Indira. Senyuman tipis terukir di bibir Dafi. Ingatannya masih merekam jelas satu malam yang ia lewati bersama Indira.


Baru saja hendak minum seseorang menepuk bahu Dafi cukup keras membuat ia hampir menjatuhkan cangkir yang ia pegang. Ia menoleh dan mendapati Jo berada di club ini juga.


"Dafi? Ini benar-benar kamu?" Jo tampak terkejut melihat sahabatnya berada di club yang mana ini tempat yang sangat jarang pria itu datangi.


Dafi tak menggubris ia meneguk satu cangkir alkohol. Jo mendudukkan dirinya di samping Dafi, ia menatap sahabatnya tersebut dengan alis mengkerut.


"Sejak kapan kamu suka minuman seperti ini? Pasti ada masalah?" tebak Jo.


Dafi menghela napas panjang seraya menggelengkan kepalanya pelan."Tidak, hanya ingin mampir ke sini."


Jo yang mendengar jawaban itu tampak tak puas. Ia yakin Dafi menyembunyikan sesuatu darinya. Jo meminta cangkir kecil lalu menuangkan alkohol.


"Aku yakin kamu pasti ada masalah. Jangan dibiasakan datang ke sini, tidak baik." Jo tampak bijak menasehati Dafi setelahnya meneguk minuman di cangkirnya.


Sementara Dafi berdecih kecil. Nasehat yang Jo sampaikan tak sesuai dengan apa yang pria itu lakukan. Melarang ia minum namun pria itu tampak menikmati alkohol.


"Kepalaku benar-benar pusing," gumam Jo tampak frustasi.


"Orang tuaku meminta aku untuk segera menikah. Kamu tahu sendiri 'kan aku belum siap. Dan juga aku sedang mengincar ibunya Faza ..."


Jo kembali menuangkan alkohol ke cangkir miliknya.


"Memangnya secantik apa wanita itu? Sampai kamu ingin menjadikan dia istri." Pertanyaan Dafi membuat Jo menghentikan pergerakannya.


"Dia cantik tapi tidak secantik mantanku. Tapi satu hal yang aku suka darinya, dia begitu penyayang, sabar, dan juga sangat baik."


Jo begitu antusias menceritakan Indira seraya membayangkan wajah wanita tersebut. Tidak akan pernah bosan bagi Jo untuk terus memandangi wajah janda anak satu itu.


"Namanya siapa?" Kali ini Dafi seolah penasaran dengan sosok yang Jo elu-elu kan itu.


"Indira. Dia mantan pembantumu itu!"

__ADS_1


Deg!


Jantung Dafi berhenti persekiat detik. Ia meneguk ludahnya kasar. Apa ia salah dengar?


"Hei! Kamu kenapa?" Jo menepuk bahu Dafi yang diam seperti patung dengan wajah yang tampak tegang.


Tepukan yang cukup keras di bahu membuat kesadaran Dafi kembali. Ia menatap Jo dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Ma-maksudmu ... Indira pembantuku?"


Dafi kembali mengulang ucapan yang Jo lontarkan barusan. Jo mengangguk  sambil mengambil rokok di kantongnya.


"Iya. Saat aku akan pergi ke kota ini tiba-tiba Indira datang ke rumah. Dan meminta bantuan apalagi kondisinya tengah hamil," jelas Jo seraya menghembuskan asap rokok." Tapi aku benar-benar tak menyangka dia sudah menikah. Dan yang membuat aku kasihan suaminya meninggal. Tapi dia tidak mengatakan siapa nama suaminya. Apa jangan-jangan kamu juga tidak tahu bila Indira sudah menikah?"


Lagi-lagi ucapan Jo membuat Dafi membisu. Tatapan matanya bergulir.




Suara ketukan pintu cukup keras membuat Indira yang tengah menidurkan Faza tampak terusik. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 23:00 malam.


"Siapa malam-malam seperti ini bertamu?"


Dengan terpaksa Indira bangun dari kasur lantai. Tak lupa ia membenarkan selimut berkarater Doraemon yang menutupi tubuh mungil Faza yang sudah tertidur nyenyak. Kini, Indira melangkah menuju ke pintu sembari membenarkan rambutnya yang tampak berantakan.


Indira sedikit membuka pintu rumahnya, hanya ingin melihat siapa yang bertamu larut malam seperti ini. Baru melihat sosok pria yang berdiri tepat depan pintu membuat sekujur tubuh Indira mendadak gemetar sekaligus ketakutan. Ia segera menutup pintunya namun ia kalah cepat kala dorongan pria itu lebih kuat, menahan agar Indira tak menutup sepenuhnya pintu tersebut.


Bugh!


Indira jatuh tersungkur ke lantai ketika pria itu mendorong dengan kasar pintu tersebut. Ia segera bangkit dari lantai lalu berlari ke kamar putranya namun dengan cepat pria jangkung itu menangkap tubuh Indira yang memberontak dengan teriakan histeris.


_______

__ADS_1


Hai semuanya! Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. Dan terima kasih sudah mampir.


See you di part berikutnya:)


__ADS_2