Mengandung Anak Dari Majikanku

Mengandung Anak Dari Majikanku
IRSM: Terlalu Gengsi


__ADS_3

Indira tampak lega setelah Airin dan Dafi keluar dari ruangan ini. Jujur, ia kurang nyaman dengan tatapan suaminya, seolah ia telah melakukan kesalahan besar. Tatapan tajam yang menyiratkan kemarahan.


"Kamu tidak perlu takut dengan Dafi, dia memang agak aneh," celetuk Jo dengan nada bercanda, mencairkan suasana yang tiba-tiba hening setelah kepergian keduanya.


Ia sadar dengan pandangan mata Dafi yang terus mengarah pada Indira. Terbesit rasa penasaran dalam benak Jo.


Indira hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Jo.


"Ini, kartu namaku. Siapa tahu kamu butuh bantuan ku nanti." Jo memberikan kartu nama dirinya pada Indira. Dengan ragu-ragu wanita itu mengambil benda yang Jo sodorkan tersebut.


"Jangan ragu-ragu untuk menghubungiku," sambung Jo. Pria itu terlihat begitu baik pada Indira walaupun pertemuan pertama mereka meninggalkan kesan tak nyaman pada Indira karna sikap Jo yang begitu agresif padahal baru sekali bertemu. Sepertinya pria itu juga bersikap seperti ini dengan wanita lain.


Setelah mengobrol dan menghabiskan waktu beberapa menit dalam ruangan itu, Jo pamit untuk pergi karna ada urusan yang harus ia selesaikan.


"Aku pergi dulu. Jangan lupa calling-calling kalau butuh sesuatu," gurau Jo sambil terkekeh ringan. Lagi-lagi Indira hanya merespon dengan senyuman karna belum terlalu akrab dengan sosok pria tampan tersebut.


"Ooh ya, kalau kamu berniat berhenti bekerja di rumah Dafi langsung hubungiku. Kebetulan aku kekurangan pembantu di rumah." Gurauan Jo berhasil membuat Indira tertawa kecil. Kalau boleh memilih ia ingin berhenti bekerja di sana tapi keadaan membuat ia harus bertahan di sana.


Setelah kepergian Jo, tak lama pintu terbuka membuat Indira terkejut menatap sosok yang kini masuk dalam ruangan lalu melangkah ke arahnya. Dafi kembali masuk ke dalam ruang rawat Indira dengan tatapan tajam dan dingin. Setelah mengantarkan Airin ia memilih kembali ke rumah sakit.


"Bersiap-siaplah, hari ini kamu akan pulang dari rumah sakit," ucap Dafi dengan nada memerintah.


Baru saja Indira merasa lega dengan kepergian Dafi dari tempat ini, sekarang pria itu kembali lagi dan kali ini ia harus kembali ke rumah itu lagi. Dafi berdiri di dekat brankas Indira.


"Kamu harus ingat dengan status kamu. Seharusnya kamu bisa menjaga batasan dengan lawan jenis apalagi di hadapan saya." Dafi berucap ketus pada Indira.

__ADS_1


Wanita muda itu menatap suaminya yang terus menatap tajam padanya."Memang salahnya apa? Saya tidak melakukan perbuatan apapun dengan dia. Lalu, apa urusan Tuan melarang saya? Bahkan saya tidak marah ataupun melarang Tuan bermesraan dengan nyonya Airin di hadapan saya!" balas Indira penuh keberanian. Walau pun suaranya terdengar bergetar dan mata yang berkaca-kaca.


Dafi langsung bungkam beberapa saat. Ia menatap lekat manik coklat Indira yang kini berguguran buliran air mata. Pria itu membuang muka ke arah lain tak ingin memperpanjang masalah. Dan entah kenapa melihat Indira menangis selalu membuat dadanya terasa sesak.


Karna rasa cemburu yang ia rasakan, membuat ia sulit mengendalikan emosi yang meledak-ledak.


"Sekarang bersiaplah. Ini pakaian mu." Dafi meletakkan paper bag coklat ke meja samping brankar. Tanpa ingin berlama-lama Dafi memilih keluar dari ruangan itu meninggalkan Indira.


Wanita muda itu mengusap kasar air matanya. Rasa sakit hati yang ia rasakan terasa sangat nyata di bagian tubuhnya.


Dafi mencengkram rambutnya penuh kekesalan setelah keluar dari ruangan tersebut. Kenapa ia jadi seperti ini? Padahal saat Airin berdekatan dengan pria lain ia bisa menahan cemburu tapi kali ini kenapa tidak bisa bahkan dadanya terasa sangat panas.




Suasana dalam mobil tampak hening hanya suara mesin mobil yang terdengar. Kedua-duanya sama-sama diam membisu tanpa ada niat ingin membuka obrolan untuk memecahkan keheningan. Indira mengkerutkan keningnya ketika Dafi mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah toko perhiasan yang tak jauh dari rumah.


"Ayo turun," titah Dafi ketika lebih dulu keluar dari mobil.


Dengan kebingungan yang melanda Indira turun dari mobil sedan putih tersebut. Ia tersentak ketika Dafi dengan gerakkan tak terduga menggandeng tangan kanannya lalu menggiringnya memasuki toko perhiasan. Saat memasuki toko tersebut mereka berdua di sambut ramah oleh salah satu karyawan wanita yang ada di sana.


"Selamat datang di toko kami..."


"Mau yang mana?" Pertanyaan Dafi membuat Indira menatap suaminya penuh keheranan.

__ADS_1


Melihat raut wajah keheranan Indira Dafi kembali berucap."Pilih cincin yang kamu suka. Saat pernikahan kita kemarin, saya tidak memberikan kamu cincin," ucap Dafi hanya beralibi.


Nyatanya ia membawa Indira ke toko perhiasan ingin menebus rasa bersalahnya. Anggap saja sebagai permintaan maaf, tapi sayangnya Dafi terlalu gengsi untuk meminta maaf secara langsung dalam bentuk ucapan.


Indira menatap bermacam-macam jenis perhiasan yang tertata rapi di etalase. Tapi sayangnya tidak ada satu pun perhiasan yang menarik perhatiannya. Bukan hanya tak biasa mengenakan perhiasan tapi harga perhiasan di toko ini sangat mahal. Meski berstatus istri dari majikannya ia harus sadar diri untuk tidak memanfaatkan kebaikan yang suaminya tawarkan.


"Saya ingin pulang, Tuan. Perhiasannya terlalu mahal," ucap Indira hendak beranjak namun dengan cepat Dafi merengkuh pinggang Indira, menahan wanita itu untuk pergi.


"Jangan memikirkan soal harga, pilih yang kamu suka. Mbak, saya ingin melihat cincin yang itu." Dafi menunjuk salah satu cincin permata.


Karyawan wanita itu segera mengambilkan cincin yang Dafi tunjuk.


"Cincin ini sangat cocok untukmu. Mau yang ini?"


Indira menatap cincin permata yang suaminya pegang. Dalam pikirannya saat ini bagaimana bila Airin mempertanyakan cincin yang ia kenakan nanti.


Melihat ke terdiaman Indira membuat Dafi menghela napas lelah. Ia menarik tangan Indira lalu menyematkan cincin tersebut di jari manis.


"Sangat cocok di jarimu." Dafi tersenyum menatap cincin tersebut melingkar dijari manis Istri keduanya."Ini sudah cocok, jangan dilepas," peringat Dafi ketika Indira hendak melepaskan cincin tersebut.


_______


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like, komen, dan vote ya!

__ADS_1


See you di part berikutnya 🥰


__ADS_2