
Makian terus keluar dari mulut wanita dengan lipstik merah menyala tersebut, sementara Indira tampak terdiam. Ia tidak diberi kesempatan untuk membalas ucapan wanita paruh baya yang merupakan pemilik kontrakan ia tinggali.
"Sudah tiga bulan nunggak bayar uang kontrakan dan sekarang seenaknya mau pergi tanpa bayar uang kontrakan!" semburnya sambil menunjuk-nunjuk barang yang Indira bawa.
Indira melirik Dafi yang tampak menonton apa yang terjadi dengannya. Ada rasa kesal dalam benak wanita muda itu terhadap suaminya.
"Dasar tidak tahu diri! Dibaikin malah semakin seenaknya. Kamu kira ini kontrakan milik orang tuamu apa!"
"A-akan saya bayar, Bu. Sebentar ..." Indira merogoh tas selempangannya mencari uang namun saat membuka dompet yang tersisa 200 ribu rupiah.
"Berapa tagihan uang kontrakannya?"
Suara Dafi membuat Indira menoleh. Ia berdiri di samping Indira. Wanita paruh baya itu menatap Dafi dengan kening yang mengernyit.
"Kamu siapanya Indira?"
"Berapa uang kontrakan yang harus saya bayar?" Dafi kembali mengulang ucapan dan menghiraukan pertanyaan yang wanita itu lontarkan pada dirinya.
"3 juta!" jawabnya tak bersahabat.
Dafi melirik Naldo di belakangnya dan memberikan isyarat mata yang langsung dipahami oleh Naldo. Ia kembali menatap wanita paruh baya tersebut.
"Asisten saya yang akan membayarnya. Naldo, Kalau bisa lebihkan uangnya," titah Dafi menoleh ke arah Naldo yang mengangguk.
"Ayo masuk mobil. Biar Naldo yang mengurus." Dafi menggiring Indira masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil tampak Faza duduk dengan tenang serta sibuk dengan mainannya.
"Sekarang kamu sadarkan? Kalau saya tidak menemukan kamu dan Faza. Mungkin kamu sudah terusir dari rumah kontrakan itu. Dan saya tidak membayangkan bagaimana hidup Faza bila saya tidak menemukan kalian berdua. Mungkin anak saya tidak bisa sekolah karna ekonomi yang sulit! Dan saya tidak ingin putra saya hidup dalam kesusahan!"
Dafi tampak panjang lebar menceramahi Indira. Wanita muda itu hanya bisa tertunduk, tersirat ketakutan melihat bagaimana Dafi menatapnya dengan sorot mata yang menajam dan guratan kemarahan yang tergambar di wajah.
__ADS_1
Pria itu menghela napas panjang berusaha menenangkan sesuatu dalam benaknya.
"Sudah selesai?" ucap Dafi kala Naldo masuk ke dalam mobil.
"Semuanya sudah selesai, Bos."
"Bagus. Sekarang cepat jalankan mobilnya. Aku ingin segera sampai rumah."
Naldo mengangguk lalu mulai menjalankan mobil sedan berwarna hitam tersebut. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan antara Dafi dan Indira, hanya suara menggemaskan Faza yang terus berceloteh. Setidaknya bocah laki-laki itu mampu mengusir rasa bosan di dalam mobil.
Satu jam berlalu, namun mobil masih terus melaju menuju tujuan. Suasana dalam mobil tersebut tampak hening. Dafi memeluk putranya yang sudah tertidur nyenyak di pangkuannya. Ia melirik Indira yang juga tertidur dengan posisi bersandar di jendela pintu mobil.
Kini tangannya terulur menarik tubuh sang istri dengan hati-hati ke dalam pelukannya.
"Eugh ..."
Indira melenguh seolah terusik ketika tubuhnya tampak merasakan sentuhan. Meskipun begitu wanita itu tampak setia terus menutup matanya. Dafi mengusap-usap kepala Indira yang kini bersandar sepenuhnya ke dada kokoh nya. Indira semakin merapatkan tubuhnya pada sang suami.
"Ingin mampir ke rest area, Bos?" tawar Naldo yang dibalas gelengan oleh Dafi.
"Tidak perlu. Terus jalankan mobilnya, aku ingin segera sampai ke rumah.
•
•
3 jam berlalu diperjalanan kini mobil yang Dafi tumpangi sudah sampai di area pekarangan rumah.
"Naldo, tolong kamu gendong Faza, aku ingin membawa masuk Indira ke dalam rumah," pinta Dafi dengan suara pelan.
__ADS_1
Dengan cepat Naldo keluar lebih dulu dari mobil lalu menggendong Faza yang masih nyenyak dengan tidurnya sama halnya dengan Indira yang masih tertidur. Kini, dengan sangat hati-hati tanpa ingin membangunkan Dafi mengeluarkan Indira dari mobil lalu menggendongnya, melangkah masuk ke dalam rumah diikuti dari belakang oleh Naldo.
Dafi membaringkan Indira ke kasur membuat wanita itu tampak menggeliat. Perlahan manik coklat itu terbuka. Matanya menatap ke langit-langit kamar yang tampak tak asing.
"Aku di mana?" gumam Indira pelan namun masih terdengar oleh Dafi.
"Kamu sudah di rumah, Indira," sahut Dafi membuat wanita itu seketika menatap sang suami sejenak.
Namun, tiba-tiba Indira bangun dari kasur dengan raut wajah diliputi kecemasan dan ketakutan. Ia ingat betul kamar ini merupakan kamar Airin dan Dafi. Kenapa ia dibawa ke sini?
"Kenapa, hmm?"
Tanpa ragu Dafi mengusap wajah Indira sambil mengulas senyuman tipis.
"Bu-bukannya ini kamar Airin? Kenapa aku dibawa ke sini?" Indira tampak was-was seolah menakutkan sesuatu.
"Sekarang ini kamar kita berdua, Indira."
Indira mengernyitkan keningnya penuh kebingungan. Ia tak paham dengan ucapan Dafi. Kamar kita berdua, maksudnya apa?
Tangan Dafi terulur menarik kedua tangan Indira lalu menggenggamnya begitu lembut. Indira menatap sejenak tangannya digenggaman oleh Dafi.
"Saya sudah bercerai dari Airin. Tidak ada hubungan apapun lagi antara saya dengan Airin. Sekarang kamu satu-satunya istri saya. Jangan takut lagi menjalani hubungan dengan saya, ya?"
Indira tak mengeluarkan sepatah katapun. Tapi raut wajahnya tampak terkejut dengan pernyataan suaminya. Segala spekulasi bermunculan di kepala Indira tentang Dafi dan Airin yang bercerai.
_____
Hai semuanya! Terimakasih sudah mampir
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.
See you di part berikutnya:)