Mengandung Anak Dari Majikanku

Mengandung Anak Dari Majikanku
IRSM: Pergi Jalan-Jalan


__ADS_3

"Bagaimana, enak nggak ayam gorengnya?" tanya Indira sambil mengusap punggung putranya penuh kasih sayang.


Faza mengacungkan jempolnya dengan mulut yang penuh makanan. Bocah laki-laki itu akan sangat berselera makan bila lauknya adalah ayam goreng karna itu merupakan favoritnya. Meski Indira tidak bisa memberikan makanan favorit Faza setiap hari karna harus berhemat.


"Ah, sudah habis ..." Faza mengusap kasar bagian mulutnya setelah selesai meneguk air minum. Senyuman mengembang di bibir manis Faza.


"Sudah kenyang?"


Faza mengangguk."Sudah Bunda. Ayamnya enak banget. Tapi kenapa Bunda tidak makan juga?"


Faza melirik gelas kosong di hadapan sang bunda. Selama ia makan bundanya hanya meminum air putih beberapa kali.


Indira menampilkan senyuman hangat."Bunda sudah kenyang, Sayang. Tadi Bunda makan duluan."


Lagi-lagi Indira harus berbohong dengan Faza. Bagaimana pun putranya sangat penting, membuat ia mengalah untuk memberikan semua nasi yang sisa sedikit untuk Faza.


"Aku kira Bunda ndak makan," ucapya disertai kekehan ringan. Indira merespon ucapan putranya dengan senyuman.


Namun, tak lama suara ketukan pintu yang berkali-kali membuat obrolan antara ibu dan anak itu terhenti. Keduanya kompak menatap ke arah pintu.


"Bunda, itu siapa yang ngetuk-ngetuk?" Faza mendongak menatap Indira.


"Tunggu sebentar ya Sayang, Bunda lihat dulu."


Wanita itu bangkit dari lantai lalu melangkah mendekati pintu. Dengan perlahan ia membuka pintu dengan sangat pelan untuk mengintip seseorang yang malam-malam seperti ini bertamu.


Indira bernapas lega seraya melebarkan membuka pintu kala melihat sosok pria yang ia kenal. Jo, pria yang selalu membantu Indira kini tengah berdiri di depan pintu dengan senyuman manisnya.


"Om Jojo!" pekikan suara Faza membuat Jo tersenyum lebar. Pria itu dengan sigap menangkap tubuh mungil Faza yang berhambur dalam pelukannya.


Jo mencium berkali-kali pipi chubby Faza, membuat bocah laki-laki itu tertawa geli.


"Bagaimana dengan kabarmu jagoan?" ucap Jo seraya menguraikan pelukannya.

__ADS_1


"Baik, Om ..." serunya dengan semangat.


Senyuman tak mampu Indira tahan melihat interaksi keduanya. Entahlah Jo selalu berhasil membuat putra kecilnya tampak kegirangan dengan kedatangan pria itu.


"Ini, Om bawa martabak coklat kesukaan Faza." Jo memperlihatkan kantong plastik hitam berisi sekotak martabak.


Faza dengan cepat menyambar kantong kresek yang Jo pegang lalu mengeluarkan sekotak martabak dalam plastik tersebut.


"Apa semuanya baik, Indira?" Indira yang tengah memperhatikan sang putra yang begitu rakus memakan martabak coklat tampak tersentak ketika Jo sudah berada di sampingnya.


Wanita itu mengangguk."Semuanya baik, Jo. Terima kasih martabaknya."


"Tidak masalah, apapun yang Faza inginkan akan aku berikan."


"Tapi aku tidak suka kamu terlalu memanjakan Faza apalagi memberikan nya begitu banyak mainan. Nanti dia kebiasaan keinginannya terus di turuti."


Jo terdiam sejenak sebelum membalas ucapan Indira. Ia menatap lekat wajah wanita di hadapannya sekarang. Sementara Indira mengalihkan pandangannya ke arah Faza, tak sanggup terlalu lama saling bertatapan dengan Jo apalagi pria itu menatap lekat wajahnya.


"Faza sudah aku anggap seperti anakku sendiri," ucap Jo namun dari ucapannya tersirat makna yang begitu dalam. Bahkan tatapan Jo semakin lekat pada Indira.


"Besok, aku ingin mengajak Faza jalan-jalan."


Ucapan Jo membuat Indira yang tengah memandangi Faza beralih menatap pria tersebut.


"Memangnya Faza mau dibawah ke mana?" Dengan kening mengernyit Indira bertanya.


"Ke mana saja, setidaknya membuat dia senang. Apa kamu tidak kasihan melihat anak sekecil Faza menghabiskan waktunya di tempat kamu bekerja?"


Ucapan Jo mampu membuat hati Indira tersentil. Ia kembali menatap putranya. Ia memang tidak pernah membawa Faza jalan-jalan sekadar ke tempat hiburan. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus menghemat pengeluaran untuk masa depan Faza. Yaa, ia sudah menyiapkan tabungan untuk sekolah Faza.


Melihat raut wajah suram Indira membuat Jo menghela napas berat. Ia tahu apa yang Indira pikirkan saat ini.


__ADS_1



Seperti janjinya tadi malam. Pagi-pagi Jo sudah menjemput Faza untuk dibawah jalan-jalan ke tempat hiburan anak-anak. Sementara Indira memilih tidak ikut karna harus bekerja. Awalnya Faza begitu rewel ketika tahu Indira tak ikut namun dengan bujuk rayu Jo akhirnya bocah laki-laki itu luluh dan setuju pergi tanpa sang bunda.


Sepanjang perjalanan, Faza tampak tak henti-hentinya berceloteh pada Jo. Semburat keceriaan tampak jelas di wajah bocah laki-laki itu yang menatap ke arah luar jendela mobil. Jo menghentikan mobilnya di depan minimarket membuat Faza mengkerutkan keningnya.


"Faza mau jajan?" Mendengar tawaran Jo seketika mata bocah laki-laki berbinar.


"Mau Om. Tapi ... kalau bunda marah bagaimana?" Faza teringat dengan ucapan bundanya untuk tidak meminta macam-macam pada Jo.


Jo tersenyum seraya mengacak-acak rambut Faza lembut."Tenang saja, asalkan kamu tidak bilang dengan bunda, bunda tidak akan marah. Sekarang ayo turun."


Faza mengangguk setuju. Kini, keduanya berjalan beriringan menuju minimarket yang cukup ramai. Dua laki-laki beda usia itu tampak seperti ayah dan anak. Jo yang selalu bersikap selayaknya ayah bagi Faza.


"Ambil saja apa pun yang Faza mau," ucap Jo lembut dan hangat. Faza yang mendengar itu tentu mengangguk.


Bocah laki-laki itu berlari ke arah rak yang tersusun berbagai jenis permen. Warna-warni permen tersebut begitu memikat Faza untuk mengambil semuanya.


Brak!


Tubuh mungil itu langsung limbung ke samping ketika tak sengaja menabrak seseorang yang tampak tak menyadari keberadaan bocah laki-laki itu. Sementara Jo tengah menerima telpon dari seseorang hingga tak memperhatikan apa yang terjadi pada Faza .


"Sakit ..." ringisan kecil keluar dari bibir mungil itu.


"Kamu tidak apa-apa kan, Nak?"


Faza yang awalnya menunduk kini mendongak menatap pria jangkung di hadapannya. Raut wajah pria itu tampak terkejut ketika melihat wajah Faza.


"Rupa wajahnya seperti tidak asing bagiku ..." batin pria itu yang tak lain Dafi.


________


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. See you di part berikutnya:)


__ADS_2