
Dafi melangkah lebar dengan raut wajah yang tampak cemas bercampur khawatir ketika menyusuri lorong rumah sakit. Setelah mendapatkan telpon dari Airin, Dafi segera meluncur ke rumah sakit.
Pria itu langsung menerobos masuk ke dalam ruangan tempat Indira berada sekarang. Napas Dafi memburu menatap dua wanita yang memiliki porsi masing-masing dalam hatinya.Tampak Airin tengah berdiri di samping brankar tempat Indira berbaring sekarang. Wanita muda itu meredam suara isak tangisnya.
"Dia kenapa?" Dafi langsung menodong pertanyaan seraya mendekati Airin.
Wanita berusia 29 tahunan itu menatap suaminya dengan pandangan rumit. Pandangan mata yang sulit Dafi pahami.
"Hanya kecelakaan kecil, tapi yang harus kamu tahu. Indira hamil, Mas!"
Napas Dafi langsung tercekat ditenggorokan. Pria itu menatap ke arah Indira yang membalas tatapannya dengan kedua mata yang semakin mengucurkan air mata.
"Dan sekarang Indira tidak mau mengatakan siapa ayah dari anak yang dia kandung, Mas. Lihatlah Mas." Airin menunjuk ke arah pembantunya tersebut."Dia hanya menangis saja tanpa mau menjawab pertanyaanku. Sudah kupaksa tapi tetap saja tidak mengaku!"
Sorot mata Airin terlihat kesal. Bagaimana tidak, Indira hanya bungkam dalam tangisan tak ingin mengatakan yang sejujurnya. Andai Airin tahu yang sebenarnya mungkin bukan hanya kekesalan yang wanita itu rasakan tapi kemarahan yang membara.
Dafi menghela napas panjang."Sebaiknya kamu keluar dulu, Sayang. Biar aku bicara dengan Indira, mungkin dia sedikit tertekan dan takut untuk mengakuinya," balas Dafi tenang.
Sementara Indira menelan mentah-mentah kekecewaan yang sangat menyakitkan. Ucapan Dafi seolah ingin menutupi anak yang dikandung Indira. Pria itu masih belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya meski dalam situasi seperti ini.
Airin kembali menatap Indira sejenak, setelahnya ia mengangguk, mengiakan ucapan suaminya. Walau sedikit janggal dalam benaknya. Kini, Airin keluar dari ruangan tersebut memberi ruang antara suami dan pembantunya. Bisa saja Indira akan mengatakan semuanya bila Dafi yang membujuk.
Kini, tinggal Dafi dan Indira dalam ruangan yang terdengar suara isak tangis memilukan. Pria itu melangkah mendekati Indira, tangannya terulur mengusap wajah Indira yang basah oleh air mata.
"Indira..."
"Kenapa Tuan tidak mengatakan yang sebenarnya, kalau saya mengandung anak, Tuan? Apa saya harus tetap bungkam seperti ini?" ucap Indira terisak-isak. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya pada Airin namun ucapan suaminya yang selalu meminta untuk menutupi rahasia kehamilan ini selalu memenuhi kepalanya.
__ADS_1
Di tambah ada ketakutan untuk mengatakan ini semua pada Airin, ia tak sanggup mendapatkan kemarahan majikannya, Airin.
Dafi menarik kursi lalu mendudukkan dirinya di samping Indira, menggenggam erat sebelah tangan wanita tersebut.
"Saya mohon, ini permintaan terakhir. Jangan katakan kamu mengandung anak saya pada Airin. Mungkin ini terdengar jahat, tapi saya belum siap menjelaskan semuanya pada Airin. Dan saya juga belum siap melihat kekecewaan dan air mata Airin."
Dafi semakin mengeratkan genggaman tangannya."Katakan saja kamu mengandung anak pria lain. Setelah masalah ini selesai, saya akan mengatakan yang sebenarnya."
Sungguh Dafi belum siap melihat kekecewaan dan kemarahan Airin. Terlalu cinta membuat pria itu membiarkan hati istri keduanya hancur.
Badan Indira semakin melemas mendengar hal tersebut. Bahkan dalam situasi seperti ini suaminya enggan mengakui anak yang ia kandung pada Airin. Sakit? Tidak hanya sakit yang Indira rasakan bahkan hatinya seketika remuk berkeping-keping.
"Hei, ini hanya sementara, Indira. Setelah itu saya akan memikirkan cara untuk mengatakan yang sebenarnya pada Airin. Tunggu waktu yang tepat, saya mohon kamu tetap bertahan," ucap Dafi berusaha membujuk tanpa tahu sehancur apa hati Indira.
Dafi terlalu egois demi menjaga perasaan Airin hingga mengorbankan perasaan Indira. Membiarkan wanita muda itu terluka sangat dalam hingga menciptakan trauma dalam hatinya.
•
•
"Indira belum ingin mengatakannya. Biarkan saja dulu, beri dia waktu sendiri," balas Dafi yang begitu pintar menyembunyikan rahasia sebenarnya.
Perasaan Airin tampak khawatir bercampur kasihan dengan musibah yang menimpa pembantunya. Bahkan usia kandungan Indira sudah tiga bulan dan selama itu ia tidak mengetahuinya. Selama Indira bekerja di rumah, wanita itu jarang keluar rumah apalagi melihat Indira bersama seorang pria.
Jika Airin meratapi nasib menyedihkan Indira, berbeda dengan Dafi yang begitu membenci situasi yang ia hadapi sekarang. Kepalanya benar-benar pusing memikirkan ini.
"Sebaiknya kamu pulang ke villa dulu."
__ADS_1
"Lalu Indira bagaimana, Mas? Dia tanggung jawab kita. Kita harus tahu siapa ayah dari anak yang Indira kandung."
"Dan ini bukan masalah sepele!"
Airin enggan meninggalkan rumah sakit ini sampai masalah ini tuntas. Bagaimana pun Indira sudah menjadi tanggung jawabnya apalagi ia sendiri yang meminta bibi Nunu untuk mengizinkan Indira bekerja di rumahnya.
"Nanti saja mengurus itu, Airin! Dipaksakan pun percuma!" sentak Dafi sedikit meninggikan suaranya membuat Airin tampak terkejut dengan ucapan suaminya yang terkesan kasar.
Melihat raut wajah keterkejutan sang istri, Dafi merutuki emosi yang kelepasan.
"Maaf, Sayang. Aku kelepasan. Masalah Indira membuat aku pusing."
Airin terdiam sejenak dan setelahnya mengangguk.
•
•
Setelah mengantar Airin ke lobby rumah sakit dan memastikan Airin sudah meninggalkan area rumah sakit, kini Dafi kembali menuju ruangan Indira. Namun, saat membuka pintu, ruangan itu kosong tidak ada Indira di dalamnya.
"Indira ... Indira!" Dafi masuk dan memanggil-manggil wanita itu seraya memeriksa toilet dalam ruangan tersebut namun hasilnya nihil.
Jantung Dafi berdetak tak karuan dengan perasaan takut bercampur cemas. Ia kembali ke luar dari ruangan itu mencari sosok Indira.
"Apa anda melihat istri saya? Dia mengenakan dress coklat, rambutnya panjang melebihi bahu." Dafi bertanya pada salah satu mengunjung rumah sakit yang duduk tidak jauh dari ruangan yang Indira tempati.
Wanita berusia 50 tahunan itu menggeleng."Saya tidak melihatnya."
__ADS_1
Dafi mendesah kecewa. Ia kembali menyusuri lorong rumah sakit sambil bertanya pada orang-orang yang ada di sana. Ia tidak pernah mengira bila Indira akan kabur.