Mengandung Anak Dari Majikanku

Mengandung Anak Dari Majikanku
IRSM: Apakah Aku Penting?


__ADS_3

Satu bulan berlalu...


Kini, Indira bekerja seperti biasa dan beruntung rasa mual dan pusing yang sering ia rasakan mulai berkurang, mungkin karna sudah memasuki trimester ketiga. Bahkan perutnya mulai membuncit. Dan tubuhnya mulai berisi berbeda saat trimester pertama.


Pagi ini Indira tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk dua majikannya. Hanya membuatkan roti panggang dengan selai coklat, makanan simpel yang selalu di minta Airin.


"Ini, Nyonya..." Indira meletakkan makanan yang majikannya minta.


Dafi melirik istri keduanya tersebut. Ada sepucuk kebahagiaan melihat perkembangan kehamilan Indira. Apalagi  tubuh sang istri mulai berisi berbeda saat awal-awal kehamilan.


"Indira kemarilah, jangan pergi dulu," ucap Airin memanggil Indira yang beberapa langkah meninggalkan meja makan."Aku ingin mengatakan sesuatu dengan kalian berdua," sambung Airin ketika Indira sudah berada di dekatnya.


"Kamu ingin bicara apa, sayang?" ucap Dafi menghentikan pergerakan tangannya yang tengah memotong roti panggang.


Airin terdiam sejenak sambil menatap keduanya bergantian.


"Aku ingin kita bertiga liburan ke Bali. Aku sudah menyewa Villa dekat  pantai." Airin begitu antusias mengatakan itu sambil membayangkan liburan di sana lalu menghabiskan waktu berdua dengan suaminya. Sudah lama mereka berdua tak liburan.


Raut wajah Indira tiba-tiba berubah. Kenapa ia harus ikut ke Bali? Pertanyaan itu terlintas dalam kepalanya.


"Ini terlalu mendadak Airin. Seharusnya kamu mengatakan ini jauh-jauh hari apalagi aku banyak urusan pekerjaan. Dan Indira kenapa harus di ajak?" ucap Dafi. Bukan tanpa alasan ia mengatakan itu, mengingat kondisi Indira yang tengah hamil tiga bulan. Ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan kandungan pembantunya tersebut.


Airin tersenyum seraya menggenggam tangan suaminya."Kan kamu tahu sendiri Mas, satu minggu lagi aku akan berangkat ke London untuk melihat pameran busana yang sering diadakan satu kali dalam setahun di sana, jadi aku ingin sebelum pergi, menghabiskan waktu berdua dengan kamu."


Airin menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu Dafi. Sementara Indira menundukkan kepalanya enggan melihat pemandangan yang selalu membuat dadanya sesak. Entahlah, ia bingung mendeskripsikan perasaan sakit yang ia rasakan.


"Aku juga mengajak Indira ke sana untuk membawa barang-barang kita selama liburan di sana termasuk menyiapkan kebutuhan kita juga. Tidak mungkin kan kita ke sana tanpa ada yang bantu-bantu," balas Airin masih setia bersandar di bahu Dafi.


"Memangnya kita berangkat kapan?"


"Besok."


Dafi maupun Indira sama-sama terkejut mendengarnya, mereka berdua belum mempersiapkan apapun. Di tambah Airin mendadak mengajak mereka berdua ke pulau Dewata itu.

__ADS_1


"Ini sangat mendadak, Airin. Aku belum mempersiapkan apapun," ucap Dafi.


"Itu gampang, Mas. Kan ada Indira, biar dia yang menyiapkan semuanya. Iya kan Indira?" Airin menatap ke arah pembantunya tersebut.


"I-iya, Nyonya..."


Sementara Dafi menghela napas berat. Ia sebenarnya tidak setuju dengan liburan kali ini apalagi mengajak Indira.




Hari itu pun tiba-tiba. Airin turun dari mobil mewah yang ia sewa selama liburan di Bali. Mereka bertiga sudah sampai di sebuah villa di Bali yang cukup mewah dengan fasilitas lengkap. Tersedia dua kamar yang luas dan ditata dengan apik dengan desain yang simpel tetapi memukau. Dari dalam kamar atau beranda, bisa melihat pemandangan luar berupa lautan bebas.


"Pak, biar pembantu saya yang membawa barang-barang ke dalam, Bapak cukup turunkan dari mobil," ucap Airin pada sopir yang ia sewa.


Sopir berusia 40 tahunan itu mengangguk. Sementara Dafi tampak was-was melihat Indira menarik dua koper sekaligus apalagi harus menaiki tangga untuk memasuki villa tersebut. Terlalu takut terjadi apa-apa, dengan cepat Dafi mengambil alih dua koper itu dari tangan Indira, membuat wanita muda itu tampak terkejut.


"Bahaya, Sayang. Indira tidak akan kuat, kalau dia jatuh bagaimana? Biar aku yang bawa." Setelah mengatakan itu Dafi mempercepat langkahnya memasuki villa, sementara Airin memotong jalan Indira.


"Aku bawa kamu liburan ke sini buat bantu-bantu, bukan malah tambah nyusahin, Indira," omel Airin.


"Maaf, Nyonya." Indira menundukkan kepalanya enggan menatap wajah kesal Airin.


"Lain kali jangan begitu. Kasihan mas Dafi."


Indira mengangguk patuh. Airin kembali melanjutkan langkahnya menyusul Dafi. Ada sedikit kekesalan yang timbul dalam benak Indira.


"Pemandangannya bagus, ya, Mas?" Airin bersandar mesra dalam pelukan Dafi, menatap hamparan lautan biru yang menghempaskan ombak ke tepian pesisir pantai. Keduanya tengah berada di balkon villa yang menghadap ke pantai.


Terlalu larut dengan pemandangan yang disajikan alam, Dafi sampai melupakan sosok Indira yang kini menatap keduanya. Wanita muda itu menunduk kepalanya dengan mata bergulir.


"Apakah aku dibawa ke sini hanya melihat kemesraan mereka berdua?" lirih Indira. Bohong bila ia tidak sakit hati bahkan iri melihat pemandangan yang selalu membuat matanya merasakan hawa panas.

__ADS_1


Beberapa bulan ini ia selalu meneguk kesakitan.


Tak tahan melihat pemandangan di hadapannya Indira memilih beranjak dari tempat itu. Ia melangkah keluar dari villa, kaki jenjang putihnya melangkah mendekati tepian pantai.


Suara deburan ombak dan hamparan lautan biru sedikit membuat perasaannya lebih tenang. Senyuman kecil terbit dibibir Indira merasakan belaian lembut angin pantai. Kakinya melangkah maju hingga kedua kakinya merasakan hempasan ombak.


Indira terperanjat kaget kala seseorang mengangkat tubuhnya lalu membawa ia menjauh dari bibir pantai. Ia menatap sang pelaku yang tidak lain suaminya. Wajah Indira merenggut.


"Jangan terlalu dekat bahaya," tegur Dafi tanpa menurunkan Indira dari gendongannya. Tindakan pria itu bisa saja membuat hubungan rahasianya terbongkar dengan Indira. Apalagi Airin berada dalam satu lingkup.


Indira menatap lekat wajah Dafi dengan jarak yang begitu dekat, beberapa saat. Ada makna tersirat dari tatapan wanita muda itu.


"Turun, Tuan. Turunkan saya, nanti ada nyonya Airin," ucap Indira parau dengan tatapan sendu.


Dengan berat hati Dafi menurunkan Indira. Wanita itu langsung menjaga jarak dengan dirinya. Andai hubungan mereka berdua berjalan normal seperti pasangan pada umumnya, mungkin mereka berdua takkan dilanda ketakutan, was-was, dan harus sembunyi seperti ini untuk meluangkan waktu berdua.


"Sebaiknya Tuan kembali ke villa, nyonya Airin bisa saja curiga melihat Tuan di sini."


Indira melirik sekilas pada majikannya.


"Airin sedang di kamar, jangan khawatir. Lain kali jangan terlalu mendekat dengan pantai. Saya takut kamu kenapa-kenapa." Dafi merotasikan pandangan matanya pada Indira yang menatap lurus ke arah lautan.


Indira tertawa hambar mendengar ucapan Dafi."Memangnya saya memiliki arti di hidup Tuan Dafi sampai mengkhawatirkan saya?"


Ucapan Indira bagai belati tajam yang menusuk tepat di dada Dafi. Ucapan yang mengandung sindiran.


________


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like, komen, dan vote ya!


See you di part berikutnya 🥰

__ADS_1


__ADS_2