Mengandung Anak Dari Majikanku

Mengandung Anak Dari Majikanku
IRSM: Hancurnya Seorang Wanita


__ADS_3

Seorang pria mampu membagi cintanya pada dua wanita. Sedangkan wanita tak pernah sanggup ketika cinta suaminya terbagi pada wanita lain.


____


"Minum dulu, Sayang." Dafi memberikan air putih dan membantu Airin bangun dari kasur setelah beberapa menit pingsan. Dengan tangan yang gemetar Airin menerima gelas kaca yang diberikan,  meneguk segelas air putih yang suaminya berikan.


Tatapan Airin yang redup kini menajam ketika mendapati sosok Indira berdiri di samping Dafi. Melihat wajah Indira mengingatkan Airin pada ucapan suaminya sebelum ia pingsan.


Airin menoleh menatap Dafi. Kepalanya menggeleng lirih."Yang tadi bohong kan? Aku pasti bermimpi, kan? Tidak mungkin kamu menduakan aku kan Mas..." ucap Airin disertai senyuman pedih. Berharap semua yang ia dengar hanya mimpi semata.


Dafi melirik Indira di sampingnya. Tangannya terulur menarik pergelangan tangan Indira agar semakin mendekat padanya. Airin yang melihat pemandangan tersebut tak mampu menyembunyikan kesakitan yang ia rasakan. Dadanya bagai di tusuk belati tajam berkali-kali.


"Itu memang benar, Airin. Indira sekarang istriku. Aku sudah lama menikahinya. Dan anak yang dia kandung adalah darah dagingku."


Airin mengigit bibir bawahnya sangat kuat bahkan ia merasakan asin nya darah dari bagian bibirnya. Saking sakitnya membuat Airin tak mampu untuk kembali berkata-kata lagi di tambah ia sangat shock dan tak pernah menduga hal seperti ini akan terjadi. Indira yang ia anggap hanya pembantu dan wanita biasa nyatanya mampu menjadi sosok ketiga dalam rumah tangganya.


Dan Dafi yang merupakan suami yang  sangat mencintainya dan selalu memahami dirinya tega melakukan hal yang melukai hati dan harga dirinya. Bagaimana bisa ia diduakan dengan sosok wanita yang status sosialnya saja dari kalangan rendahan. Dan yang membuat Airin semakin sakit, ia tak tahu sedikit pun tentang hubungan keduanya. Mereka berdua tega berkhianat di belakangnya.


"Aku tahu, ini sangat salah apalagi aku menikah tanpa meminta izin darimu. Tapi pernikahan ini terjadi karna sebuah kesalahan yang telah aku perbuat." Dafi menjelaskan sehati-hati mungkin.


"Aku tetap tidak terima dengan pernikahan kedua mu ini, Mas! Atau karna aku tidak memberikan keturunan kamu tega melakukan ini?" Airin menatap Dafi dengan mata berkaca-kaca.


Dafi menggeleng. Ia memang menginginkan anak dari Airin tapi ia menikahi Indira karna kejadian satu malam yang membuat pembantunya tersebut mengandung anaknya. Dan ia tidak mungkin lepas tanggung jawab dan membiarkan darah dagingnya hidup tanpa figur seorang ayah.


Dengan gerakkan tak terduga Airin merampas gelas yang Dafi pegang lalu menyiramkan sisa air dalam gelas tersebut ke wajah Indira. Seolah belum puas, Airin melempar gelas kaca itu ke bagian wajah Indira membuat wanita muda itu menjerit kesakitan.

__ADS_1


"Airin!" Dafi menatap tajam istri pertamanya itu. Pria tersebut melangkah menghampiri Indira yang memegangi kepalanya. Bagian kening Indira tampak memar sementara gelas yang Airin lemparkan pecah membentur lantai.


"Jangan kasar seperti ini dengan Indira. Aku tahu kamu kecewa, tapi tidak seharusnya kamu melakukan sesuatu yang menyakiti Indira," ucap Dafi tegas.


"Dia pantas mendapatkan itu. Dia perebut dan tidak sepantasnya diperlakukan dengan baik!" Airin berucap ketus dengan amarah yang meluap-luap dalam benaknya.


"Indira bukan perebut, Airin. Tolong jangan memperkeruh keadaan!"


Airin yang mendengar itu tertawa diiringi lelehan air mata yang berguguran."Aku memperkeruh keadaan? Jelas-jelas dia yang menjadi biang dari masalah ini!"


Airin bangkit dari kasur lalu melangkah mendekati keduanya. Dafi menyembunyikan Indira dibelakangnya, takut Airin kembali menyakiti Indira.


"Kalau aku tahu Indira akan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kita, aku tidak akan sudi mempekerjakan wanita murahan ini!" Airin menatap Indira dari balik tubuh suaminya dengan mata yang berapi-api.


Saat ini Airin diliputi kemarahan serta kehancuran yang membuat ingin menghabisi Indira.




Rumah tingkat dua itu tampak hening dan senyap setelah pertengkaran yang menguras emosi dan air mata, dan Dafi membawa Indira ke kamar atas untuk menghindari amukan dan kemarahan Airin. Baru saja Dafi mengakui status Indira, Airin sudah mengamuk tak terkendali dan bagaimana pria itu menjalankan perannya sebagai suami bila Airin menolak mentah-mentah status Indira sebagai madunya.


Indira duduk melamun sambil menyandarkan punggungnya di bahu ranjang. Ia memeluk kedua lututnya. Memikirkan bagaimana ke depannya menjalani pernikahan ini setelah Airin mengetahui semuanya.


Brak!

__ADS_1


Pintu terbuka kasar, membuat Indira tersentak. Matanya membeliak kala melihat sosok Airin melangkah masuk ke dalam kamarnya apalagi saat ini suaminya pergi keluar.


Tatapan tajam penuh kebencian tersirat dari sorot mata Airin yang tampak sembab. Indira bangkit dari kasur.


"Puas? Puas sudah menghancurkan rumah tangga ku?" ucap Airin serak ketika berdiri berhadapan dengan Indira.


"Ti-tidak Nyonya, saya tidak pernah berniat menghancurkan rumah tangga Nyonya." Indira menggeleng lirih. Tidak ada sedikit pun niat ingin menghancurkan rumah tangga majikannya. Ia pun terbelenggu dengan pernikahan ini karna tengah mengandung anak majikannya.


"Kenapa harus suamiku? Di dunia ini banyak pria lain tapi kenapa harus suamiku, Indira?" Suara Airin bergetar. Kali ini Airin berusaha meredam emosinya.


Indira hanya diam meremas ujung bajunya.


Isakkan kecil yang keluar dari bibir Airin menjadi bukti kehancuran dan luka yang memberikan sakit luar biasa.


"Kamu yang aku percayai. Kamu yang aku pikir wanita baik-baik ternyata tak lebih dari wanita murahan. Bahkan sangat rendahan."


"Bahkan aku tak sudi keturunan suamiku lahir dari rahimmu, Indira!"


Dada Indira seperti dihantam batu besar mendengar ucapan Airin.


"Dan jika kamu benar-benar tidak berniat menghancurkan hubungan ku dengan mas Dafi, pergi dari sini! Dan jangan pernah muncul selamanya di hadapan ku dan mas Dafi!"


_____


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komentar. See you di part selanjutnya


__ADS_2