
Airin melangkah mendekati Dafi yang baru saja keluar dari kamar mandi. Pria itu terlihat lebih segar dengan rambut yang tampak basah setelah membersihkan diri. Aroma harum shampoo menyeruak dalam kamar dengan pemandangan indah pantai.
"Mas..."
Dafi hanya menoleh sekilas kala Airin memanggilnya. Membuat Airin merasa diacuhkan. Pria itu meraih ponsel miliknya di atas meja dan mengetik sebuah pesan di sana.
"Mas, kamu kenapa sih? Hanya karna Indira kabur kamu jadi kayak gini. Indira itu sudah besar bukan anak kecil lagi jadi tidak perlu dikhawatirkan. Lagipula dia cuma pembantu bukan keluarga!"
Ucapan Airin mengundang tatapan tajam Dafi. Pria itu kembali meletakkan benda pipih itu ke asalnya.
"Kamu mudah mengatakan ini, Airin. Ini tempat asing bagi Indira dan dia tidak mengenal siapapun di sini, kalau terjadi apa-apa dengan dia bagaimana? Aku mungkin tidak akan sekhawatir ini bila Indira tahu cara pulang ke Jakarta!" seloroh Dafi panjang lebar tersirat emosi di dalamnya.
Airin terperangah melihat respon berlebihan suaminya. Ia memang khawatir dengan Indira tapi tak seberlebihan itu. Entah mengapa ada rasa cemburu yang merambat dalam benaknya. Seolah Indira memiliki arti penting bagi suaminya.
"Kamu pergi saja dengan sopir. Aku tidak bisa ikut menemanimu," sambung Dafi yang kini sibuk mencari pakaian miliknya dalam koper. Sementara Airin mengepalkan kedua tangannya kesal.
Wanita itu menghentakkan kakinya penuh kemarahan lalu pergi begitu saja dari kamar. Dafi hanya melihat kepergian Airin tanpa ingin mengejar.
•
•
Indira terus mengikuti langkah Jo yang berjalan di depannya. Keduanya baru saja turun dari pesawat tujuan Bali-Jakarta setelah Jo mengabulkan permintaan Indira untuk pulang ke Jakarta. Beruntung urusan Jo sudah selesai di Bali dan dengan itu ia bisa langsung pulang ke Jakarta.
"Ingin makan?" tanya Jo ketika melewati restoran yang berada di bandara.
Dengan cepat Indira menggeleng, ia tidak ingin semakin merepotkan pria itu. Bisa pulang ke Jakarta sudah sangat bersyukur.
"Saya masih kenyang."
"Baiklah. Tapi sekarang kamu akan ke mana setelah tidak bekerja lagi di rumah Dafi?"
Indira menoleh menatap Jo dengan senyuman tipis di wajahnya."Belum tahu, tapi saya ingin mencari pekerjaan di sini, setidaknya bisa membayar uang Tuan Jo yang sudah saya pakai."
"Tidak perlu diganti, aku tulus membantu. Lagipula uang ku banyak dan tidak berkurang hanya karna membayar tiket pesawatmu," balas Jo disertai tawa ringan. Indira yang mendengar itu semakin melebarkan senyumnya.
__ADS_1
Kini, keduanya menuju ke mobil hitam yang sudah terparkir di area bandara dan tampak sopir pribadi Jo sudah menunggu di sana.
Sopir itu membuka kan pintu untuk sang majikan. Saat Jo sudah masuk ke dalam mobil, Indira berdiri mematung tak ikut masuk ke dalam mobil.
"Kenapa diam saja, ayo masuk!" ajak Jo.
"Saya tidak ingin semakin merepotkan Tuan Jo. Cukup sampai bandara saja." Indira menolak secara halus ajakkan pria tersebut.
Bukan tanpa alasan Indira menolak tawaran Jo, ia tidak ingin kembali dipertemukan dengan suaminya, Dafi. Untuk saat ini ia ingin menjauh dari suaminya.
"Di Jakarta juga kamu tidak memiliki teman atau keluarga, lebih baik ikut aku saja. Aku butuh satu asisten rumah tangga lagi, kalau kamu berminat bisa bekerja di rumah ku."
Indira menggeleng cepat, tetap menolak."Tidak, Tuan."
Jo menghela napas berat dengan penolakan Indira yang kekeh tak ingin ikut dengannya. Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet hitamnya lalu memberikannya pada Indira.
"Ini ambil, aku tahu kamu tidak mempunyai uang sepeser pun. Tapi kalau kamu butuh bantuan bisa hubungi aku. Kamu masih menyimpan kartu nama ku, kan?"
"Masih Tuan. Kartu namanya masih saya simpan."
"Baguslah. Ini ambil uangnya."
•
•
"Lho? Indira, kamu kenapa ada di sini? Bukannya ikut tuan dan nyonya ke Bali."
Satpam yang berjaga di depan gerbang rumah Dafi tampak terkejut melihat Indira baru saja turun dari taxi seorang diri.
"Saya ke sini hanya ingin mengambil barang-barang saya, Pak. Apa kunci rumah Bapak yang pegang?" ucap Indira menghiraukan pertanyaan satpam barusan.
"Kamu kenapa tiba-tiba sudah ada di sini dan sekarang ingin mengambil barang kamu. Apa ada masalah?" Satpam itu kembali bertanya.
"Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Bapak, sekarang boleh minta kunci rumahnya?"
__ADS_1
Satpam itu menyerahkan kunci rumah tersebut pada Indira dengan perasaan ragu. Setelah mendapatkan kunci itu wanita tersebut segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil semua pakaian serta barang-barang miliknya di dalam rumah majikannya. Dan ia harus bergerak cepat membereskan barang-barangnya dan segera meninggalkan rumah ini. Beruntung ia hanya membawa sedikit pakaian saat ke Bali.
Sekitar setengah jam Indira keluar dari rumah dengan membawa tas cukup besar. Satpam yang melihat itu semakin dibuat penasaran.
"Terima kasih, Pak. Ini kuncinya."
"Kamu dipecat tuan Dafi?"
Lagi-lagi pertanyaan satpam itu tidak digubris Indira hanya senyuman yang wanita itu tampilkan.
"Tidak, Pak. Tapi saya memilih berhenti bekerja di sini, kalau begitu saya permisi, Pak." Setelah mengatakan itu Indira pergi meninggalkan satpam yang masih kebingungan sekaligus penasaran dengan alasan pembantu muda itu berhenti bekerja di tempat ini. Ia menatap kepergian Indira yang kini kembali masuk ke dalam mobil taxi.
Dan tak lama suara dering ponsel yang berbunyi membuat perhatian satpam itu teralihkan. Kedua alis satpam itu bertaut ketika melihat nama sang penelepon.
"Iya, Tuan Dafi."
"Nanti ada sekretaris saya datang ke rumah mengambil berkas. Tolong kamu ambilkan berkas merah yang ada di atas meja kerja saya," titah Dafi disebrang sana.
"Baik, Tuan Dafi. Tapi, sebelumnya saya ingin bertanya."
Dafi yang hendak mematikan sambungan telpon mengurungkan niatnya ketika satpam ingin bertanya.
"Tanya apa?"
"Begini Tuan, tadi ada Indira yang baru saja ke rumah dan dia mengambil semua barang-barangnya. Apa benar Indira berhenti bekerja?"
Pertanyaannya satpam tersebut membuat Dafi terdiam beberapa saat.
"In-ndira ke rumah? Kamu tidak bohong kan?"
"Tidak Tuan, baru saja Indira pergi dari sini setelah mengambil barang-barangnya."
"Hallo, Tuan?" Satpam itu menatap layar ponselnya ketika Dafi tiba-tiba memutuskan sambungan telpon.
_______
__ADS_1
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. See you di part selanjutnya 🥰