
''Saya tidak bisa melepaskanmu. kamu boleh menghukum saya apapun tapi untuk melepaskan ... saya tidak bisa, Indira.''
Untuk permintaan Indira kali ini Dafi tak bisa mengabulkan, ia ingin mempertahankan pernikahan keduanya bagaimana pun caranya. Bukan hanya karna ada Faza tapi Dafi mulai menyadari perasaan yang sudah tumbuh dalam hatinya untuk Indira. Kali ini ia harus egois tanpa memperdulikan keinginan Indira yang ingin lepas darinya.
Sementara raut wajah Indira semakin suram dengan jawaban pria di hadapannya. Air mata semakin mengalir dari pelupuk matanya.
''Kenapa? Apa aku tidak memiliki hak mencari kebahagiaan ku sendiri? Aku hanya ingin bahagia dengan anakku tanpa harus merasakan kesedihan dan penderitaan,'' ucap Indira serak. Ia hanya ingin keluar dari tempat yang membuat ia sakit tapi sekarang mereka berdua kembali di pertemukan.
Faza tampak tak mengalihkan tatapannya dari Dafi seolah ikatan batin antara ayah dan anak itu cukup kuat. Membuat bocah laki-laki itu merasakan hal yang berbeda saat menatap sosok Dafi.
"Saya tahu, tapi tolong beri saya kesempatan satu kali lagi, saya janji akan perbaiki semuanya terutama memulai dari awal pernikahan kita, Indira. Coba kamu pikirkan, Faza sangat membutuhkan figur seorang ayah. Setidaknya kita kembali bersama demi Faza."
Kali ini Dafi menjadikan Faza alasan agar Indira kembali ke pelukannya. Ia sangat berat bahkan tak bisa melepaskan Indira begitu saja. Apalagi ada buah cinta mereka berdua membuat ia ingin semakin erat mengikat Indira.
Indira terdiam, ia melirik Faza yang menatap polos pada Dafi. Ia akui, ke tidak hadiran Dafi dalam hidup mereka berdua selalu dipertanyakan orang-orang termasuk keraguan mereka tentang Faza yang dianggap anak hasil hubungan gelap. Walaupun itu memang fakta.
Melihat Indira yang tampak melunak serta emosi wanita itu yang mulai mereda, Dafi semakin memangkas jarak diantara mereka berdua. Tanpa persetujuan Indira, Dafi dengan gerakan cepat mengambil alih Faza dari gendongan Indira.
"Anakku ... kembalikan dia!" Indira tampak marah kala Dafi mengambil putranya. Ia hendak merebut kembali Faza namun Dafi dengan cepat menghindar.
Sementara Faza langsung melingkarkan tangannya di leher Dafi. Seolah tak ada kecanggungan lagi. Di tambah bocah laki-laki itu tampak mengantuk.
''Biarkan saya menggendong Faza.'' Dafi memeluk erat putranya bahkan mencium dengan sayang puncak kepala putranya.
"Setelah itu kamu pergi dari sini! Dan jangan temui kami berdua!" sentak Indira dengan nada memerintah. Walau permintaannya itu mustahil di kabulkan oleh Dafi.
"Tidak. Saya sudah mengatakan berapa kali, saya tidak akan melepaskan kalian berdua!" balas Dafi terdengar pelan namun penuh penekanan."Di mana kamar Faza? Dia sangat mengantuk."
__ADS_1
Dengan hati yang masih terasa panas Indira menunjuk ke arah kiri di mana kamar yang mereka berdua tempati. Dafi segera melangkahkan kakinya memasuki kamar yang tampak jelek dan menyedihkan bagi pria itu.
Tampak kasur lantai dan bantal yang terlihat lusuh serta ruangan ini sangat kecil dan sempit. Bahkan baru memasuki kamar itu Dafi sudah merasa gerah dan pengap. Hati pria itu terhenyak membayangkan Indira dan anaknya tinggal bertahun-tahun di rumah seperti ini. Ia yang sudah terbiasa tidur di kasur empuk yang nyaman dan dilengkapi pendingin ruangan takkan tahan tinggal di tempat seperti ini.
Dafi membaringkan Faza di atas kasur lantai yang terasa keras menambah rasa pedih di hati pria itu.
"Enak tidur di sini?" tanya Dafi dengan napas tercekat di tenggorokan.
Dengan pandangan yang sedikit redup Faza mengangguk."Tidur di sini enak, Om. Tapi kalau hujan ndak bisa tidur, soalnya itu berlobang."
Faza menunjuk ke atas, Dafi mengikuti arah yang di tunjuk putranya. Tampak atap rumah tersebut berlobang membuat air hujan merembes masuk melalui lobang-lobang di atap yang tak di tambal itu.
Dafi menghela napas panjang, ia melirik Indira yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua namun wanita itu dengan cepat membuang muka ketika tak sengaja kontak mata dengan suaminya.
"Nanti kita pindah rumah, ya. Rumah yang lebih besar dan luas," ucap Dafi pada Faza.
"Kita tidak akan pindah, yang pindah itu kamu! Jangan coba-coba meracuni pikiran anakku termasuk membawa dia pergi dari sini!"
Indira maju mendekati Dafi. Wajah wanita itu semakin merah padam. Ucapan yang keluar dari mulut Dafi seolah memancing-mancing emosi Indira. Datang tanpa diundang dan tiba-tiba ingin membawa anaknya pergi.
"Jangan marah-marah di depan Faza, Indira," tegur Dafi lembut. Faza menyusupkan dirinya dalam dekapan sang ayah kala melihat kemarahan bundanya.
"Saya ingin kalian tinggal di tempat yang layak dan nyaman, tidak seperti tempat ini."
"Tidak usah pura-pura baik!" ketus Indira."Mau sebaik apapun kamu tidak akan membuat aku ingin kembali dengan pria brengsek seperti kamu!"
Tanpa ragu Indira melontarkan umpatan pada Dafi. Pria itu menarik napas dalam, berusaha tidak membalas ucapan Indira yang diliputi emosi. Semakin ia menjawab ucapan Indira, wanita itu semakin menjadi-jadi. Dan apapun yang ia ucapkan selalu salah.
__ADS_1
"Om, kenapa Bunda marah-marah terus?" tanya Faza berbisik.
Dafi tersenyum tipis."Tidak apa-apa, Bunda hanya kelelahan."
Pria itu mengusap lembut kepala Faza. Dan tak menghiraukan tatapan tajam yang terus menghunus tajam ke arahnya.
•
•
Cahaya sinar matahari pagi merembes masuk melalui lobang-lobang atap rumah. Perlahan Dafi membuka matanya kala cahaya menyilaukan memaksa masuk ke retina matanya. Ia mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya di ruangan yang ia tempati.
Dafi tersenyum kala menatap Faza tertidur nyenyak di sampingnya. Ini pertama kali baginya tidur bersama sang putra. Tangannya terulur mengusap lembut pipi chubby Faza dengan hati yang penuh kebahagiaan.
Kini, Dafi bangkit dari kasur lantai yang sedikit membuat badannya terasa sakit, mungkin karna tidak terbiasa tidur di kasur yang terasa keras. Ia melangkah keluar dari kamar mencari Indira. Senyuman Dafi kembali terukir kala melihat wanita tersebut tengah sibuk berkutat di dapur. Aroma sedap telur dadar merasuk ke indra penciuman nya.
Dafi melangkah menghampiri Indira yang tampak tak menyadari kehadirannya. Tanpa memikirkan akibat yang akan di dapatkan ia memeluk Indira dari belakang. Melingkarkan kedua tangan kekarnya di perut rata Indira.
Tentu hal itu membuat wanita tersebut terkejut. Raut wajah yang awalnya tenang kini berubah emosi melihat sepasang tangan melingkar di perutnya. Dengan gerakkan cepat Indira berbalik badan lalu mendorong Dafi dengan kasar hingga membuat pria itu mundur beberapa langkah.
"Jangan kurang ajar!"
_______
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. See you di part selanjutnya:)
__ADS_1