Mengandung Anak Dari Majikanku

Mengandung Anak Dari Majikanku
IRSM: Indira Yang Malang


__ADS_3

"Bagaimana dengan keadaannya?" tanya Dafi ketika seorang pria keluar dari ruangan tempat Indira ditangani sekarang. Dan sepertinya hari ini keberuntungan tak berpihak pada Dafi karna dokter yang menangani Indira adalah Arnold.


Pria itu lupa bila Arnold salah satu dokter di rumah sakit itu juga.


"Keadaannya baik, Daf. Hanya saja wanita itu tampak tertekan dan stress berlebihan. Dia juga sudah siuman tapi hanya diam melamun. Dari matanya saja aku bisa melihat kesedihan mendalam. Memangnya dia itu sebenarnya kenapa?"


Ada rasa penasaran dalam benak Arnold pada wanita muda itu. Rasa penasaran itu sudah muncul sejak awal ia bertemu dengan wanita muda itu ditambah Dafi seolah menutupi tentang wanita tersebut.


Dafi menghela napas berat. Ia menyugar rambutnya yang tampak berantakan. Raut frustasi tampak di wajahnya.


"Kamu tidak perlu tahu. Yang terpenting wanita itu kondisinya baik-baik saja," ucap Dafi tak ingin Arnold mengetahui semuanya termasuk status Indira.


Arnold tersenyum tipis." Aku bukan ikut campur, Daf. Setidaknya bila aku tahu masalah yang menimpa dia, aku bisa membantunya untuk keluar dari keadaan yang membuat dia seperti ini. Apalagi kondisinya sekarang tengah hamil muda."


"Apalagi ini menyangkut mental. Bila mental wanita itu berantakan bisa saja dia melakukan sesuatu diluar batas. Dan kamu yakin dia mempunyai suami?" tukas Arnold.


Dafi langsung terdiam mendengar itu. Ucapan sahabatnya tersebut mampu membuat ia bungkam beberapa saat.


"Maksud kamu apa?" tanya Dafi.


"Maksudku dia bukan korban pemerkosaan kan?" jawab Arnold. Entahlah, feeling mengatakan hal seperti itu.


"Pertanyaan kamu di luar batas, Arnold. Jangan bicara sesuatu yang kamu sendiri tidak tahu fakta sebenarnya." Tanpa ingin memperpanjang masalah ini, Dafi memilih pergi dari hadapan sahabatnya tersebut lalu masuk ke dalam ruangan tempat Indira berada sekarang.


Arnold menatap sosok Dafi yang kini hilang dibalik pintu yang sudah di tutup rapat. Gelagat dan bicara Dafi tampak aneh baginya walaupun pria itu bersikap tenang.




Indira yang tengah duduk di sisi brankar menatap ke arah jendela tampak tersentak ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya. Ia menoleh menatap Dafi yang kini berdiri di samping brankar. Mendadak raut wajah Indira yang mendung semakin keruh. Ucapan Dafi yang tak sengaja ia dengar terus terngiang-ngiang ditelinganya dan kembali menciptakan rasa sesak dalam dada.


"Saya tahu kamu seperti ini karna masalah mama mengetahui hubungan kita berdua," ucap Dafi, menduga kemarahan Indira karna orang tuanya mengetahui hubungan mereka berdua.


Indira diam, enggan membalas ucapan suaminya melainkan membuang muka ke sembarang arah. Ia mengigit bibir bawahnya menahan rasa sesak yang semakin menjadi-jadi dalam rongga dadanya.

__ADS_1


Dafi meraih kedua tangan Indira, menggenggamnya erat."Sekarang kamu tenang saja. Mama tidak akan mengadukan hubungan kita dengan Airin. Jadi bersikaplah seperti biasa," ucap Dafi.


Indira kembali menatap suaminya kali ini dengan mata yang berkaca-kaca. Seberusaha mungkin ia menahan kristal bening di pelupuk matanya agar tidak meluruh tapi nyatanya tak bisa, hatinya terlalu sakit untuk terlihat baik-baik saja.


"Untuk apa Tuan bersikap baik dan menikahi saya bila pada akhirnya saya dibuang?"


Dafi yang mendengar itu mengkerutkan keningnya, tak paham dengan apa yang Indira maksud.


"Saya memang gadis desa yang bodoh dan miskin ... tapi tolong jangan permainkan saya sesuka hati Tuan. Hidup saya sudah hancur karna mengandung anak ini!"


Indira mulai menangis histeris bahkan wanita itu memukul perutnya sendiri. Seolah berusaha menggugurkan janin itu dalam perutnya. Ia sudah sangat hancur hatinya sudah tak berbentuk lagi semenjak kesalahan satu malam itu terjadi dan kini tumbuh darah daging dari majikannya.


"Stop, Indira! Jangan melakukan ini!" Dafi menahan kedua tangan Indira yang semakin menjadi-jadi memukul perutnya.


"Biarkan anak ini mati, setidaknya Tuan tidak semakin lama menjalani pernikahan sialan ini!" teriak Indira penuh emosi.


Dafi tak membalas ucapan Indira. Ia berusaha menghentikan tindakan gila Indira yang bisa saja menggugurkan darah dagingnya. Ia tidak akan membiarkan Indira melakukan sesuatu yang mengancam janin yang wanita itu kandung sekarang.


Suara teriakan Indira dan jeritan yang terdengar memilukan mengundang suster dan dokter Arnold masuk ke dalam ruangan tersebut. Takut terjadi apa-apa dengan pasien.


Tampilan wanita muda itu sudah sangat berantakan termasuk rambut panjangnya yang kini menutupi sebagian wajahnya yang berlumuran keringat dan air mata


Dafi yang tengah memeluk dan menahan kedua tangan Indira, menatap ke arah Arnold.


"Nanti saja aku menjelaskannya, tolong bantu aku," balas Dafi.


Arnold mengangguk dan dengan terpaksa menyuntikkan cairan obat penenang dibagian lengan Indira, membuat Indira yang terus memberontak perlahan tenaganya melemah. Andai bukan karna wanita muda itu tengah hamil, Arnold tidak akan melakukan ini apalagi melihat tindakan wanita tersebut yang hendak mencengkram perutnya.


Bahkan Dafi tampak kewalahan menghadapi Indira yang tenaganya cukup kuat untuk ukuran seorang wanita. Dengan hati-hati Dafi membaringkan Indira kembali ke kasur brankar. Mata Indira terlihat sayu dan perlahan menutup matanya. Dafi mengusap keringat berlumuran di wajah dan leher sang istri lalu membenarkan rambut Indira yang berantakan.


"Kamu bisa menjelaskan tentang ini?"


Dafi yang tengah memandangi wajah memerah Indira, menoleh menatap Arnold. Pria itu menunggu penjelasan darinya. Sudah Dafi duga, satu persatu orang terdekatnya akan tahu tentang hubungannya dengan Indira.


"Aku jelaskan di luar saja."

__ADS_1


Dafi kembali mengusap kepala Indira yang terasa basah dan itu tak luput dari perhatian Arnold. Dokter muda itu semakin menaruh rasa penasaran.




"Jangan bercanda, Daf? Pembantu itu istrimu?"


Arnold mengusap wajahnya kasar. Terkejut bukan main dengan penjelasan sahabatnya. Bahkan Arnold pikir Dafi tengah mengerjai dirinya. Mereka berdua tengah berada disebuah lorong rumah sakit yang cukup sepi.


Dafi menghela napas lelah, menundukkan kepalanya sejenak.


"Itu di luar kendaliku, karna terlalu mabuk aku melakukan sesuatu yang aku sendiri saja tak terbesit sedikit pun untuk melakukan itu dengan wanita lain. Dan sekarang aku harus mempertanggung jawabkan itu semua sampai bayi itu lahir," balas Dafi lesu.


"Sa-sampai bayi itu dilahirkan? Apa kamu berniat menceraikan dia setelah melahirkan?"


Dafi mengangguk mengiakan ucapan Arnold." Iya, itu rencanaku. Tapi tidak tahu ke depannya nanti."


Arnold geleng-geleng kepala mendengarnya.


"Itu rencana yang sangat jahat, Daf. Setelah dia melahirkan lalu kamu mencampakkan dia dan anakmu. Di mana rasa kasihanmu, Daf?" ucap Arnold yang sangat kecewa dengan Dafi.


"Aku tidak sejahat itu, setelah bercerai aku tetap menafkahinya dan untuk anak, aku yang akan merawatnya dengan Airin," balas Dafi.


Dengan gerakkan tak terduga Arnold mendorong dada kokoh Dafi. Emosi? Tentu emosi dengan sikap Dafi yang seolah menggampangkan segala sesuatu tanpa memikirkan perasaan Indira.


"Gila! Kamu gila Dafi! Setelah memperkosa, menceraikan lalu ingin mengambil hak asuh anak dari wanita itu. Di mana otak kamu, Daf!" Arnold terlampau emosi.


Dafi diam tak membalas, membuat Arnold semakin emosi. Ia seorang suami dan ayah, tak akan tega melakukan perbuatan tak berperasaan itu.


______


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like, komen, dan vote ya!

__ADS_1


See you di part berikutnya 🥰


__ADS_2