
"Mas..."
Airin melangkah cepat ke arah Dafi lalu berhambur memeluk suaminya. Dafi melirik sang mama yang berdiri tak jauh dari tempat ia berdiri sekarang.
"Mas, apa benar Indira terjatuh dari tangga ?" tanya Airin seraya menguraikan pelukannya menatap Dafi
Dafi tak langsung menjawab ia melirik Arum yang mengangguk samar-samar agar Dafi mengiakan apa yang Airin tanyakan.
"Iya, untuk sementara Indira menginap di rumah sakit dulu," balas Dafi.
Airin yang mendengar itu manggut-manggut sekaligus kasihan dengan nasib buruk yang menimpa pembantunya tersebut.
"Kasihan, Mas. Besok aku akan jenguk dia sekalian berangkat kerja."
Dafi mengangguk.
"Aku buatkan teh buat kamu ya Mas, pasti kamu lelah mengurus masalah Indira tadi."
Kini, Airin beranjak dari hadapan suami dan mertuanya. Sebisa mungkin Airin harus terlihat sangat perhatian pada suaminya, setidaknya ia tidak mendapatkan kata-kata pedas dari mertuanya, Arum. Sebelum Dafi pulang tadi ia sudah mendapat nasehat yang membuat telinganya panas dari mertuanya untuk segera hamil dan berhenti bekerja sebagai model. Jujur, ia belum bisa mengabulkan hal itu.
Melihat Airin sudah menjauh dari mereka berdua, Arum mendekati Dafi yang tampak menghela napas lelah.
"Bagaimana kondisi Indira? Apa dia baik-baik saja?Lalu bagaimana dengan kandungannya?" Rentetan pertanyaan terlontar dari mulut Arum.
"Dua-duanya baik, tapi Indira harus dirawat inap di sana karna kondisinya belum sepenuhnya pulih," balas Dafi seadanya.
"Syukurlah kalau begitu, semoga Indira dan anak yang dia kandung selalu sehat. Mama benar-benar kasihan dengan dia."
Dafi hanya menipiskan bibirnya merespon ucapan sang mama.
Di lain tempat di sebuah ruangan yang didominasi cat putih, tampak seorang wanita mulai tersadar. Perlahan manik coklat itu terbuka setelah beberapa jam tak sadarkan diri karna pengaruh obat penenang. Mata Indira terbuka sempurna lalu menatap langit-langit kamar dan setelahnya menatap ruangan tempat ia berada sekarang. Kosong. Tidak ada siapapun di sini termasuk Dafi.
Tak lama suara pintu terbuka lebar membuat perhatian Indira teralihkan ke arah pintu. Tampak seorang pria mengenakan jas putih masuk ke dalam ruangan itu. Ia tersenyum ramah pada Indira.
__ADS_1
"Syukurlah kamu sudah sadar, Indira. Apa ada keluhan?" tanya dokter Arnoldi yang kini berdiri di samping brankar tempat Indira berbaring sekarang.
Wanita muda itu tak langsung merespon, ia menatap ke arah pintu yang tak tertutup sempurna seolah mencari seseorang. Arnold yang tahu Indira tengah mencari seseorang kembali berucap.
"Dafi sudah pulang dan malam ini kamu akan menginap di rumah sakit ini. Tenang saja, besok Dafi akan datang lagi ke sini. Tapi yang terpenting jangan terlalu banyak pikiran karna itu sangat berpengaruh pada kesehatanmu termasuk kandunganmu," tutur Arnold lembut.
Indira mengangguk lemah. Tangannya terulur mengusap perut datarnya. Sungguh, ia tak pernah menyesali kehadiran janin yang kini tumbuh di rahimnya sekarang. Tapi ia menyesali kenapa nasib buruk itu harus menimpa dirinya.
Arnold menatap iba pada Indira yang tampak melamun sembari mengusap perutnya, melihat itu mengingatkan pria tersebut dengan sang istri yang kini tengah hamil muda dan mungkin usia kandungannya sama seperti usia kandungan Indira.
"Saya tahu, masalah yang kamu hadapi sekarang cukup berat, tapi jangan terlalu terpaku pada masalah tersebut yang membuat kamu stress dan tertekan, karna itu sangat berpengaruh pada janin," jelas Arnold.
Indira yang mendengar perjelasan dokter pria itu mengkerutkan keningnya."A-apa Dokter sudah mengetahui semuanya?"
Arnold mengangguk, mengiakan."Dafi sudah cerita semuanya. Tapi kamu tenang saja, saya tidak akan memberi tahu siapapun termasuk Airin. Memang tidak mudah di posisimu."
"Tapi saran saya, jangan takut dengan status kamu sekarang," sambung Arnold. Karna raut wajah Indira seketika berubah ketika ia menyebut nama Airin.
"Kalau begitu saya permisi keluar dulu, kalau ada apa-apa kamu bisa pencet tombol di samping brankar, nanti suster akan datang. Apa kamu ingin ditemani satu suster di ruangan ini?" tawar Arnold kembali dibalas gelengan oleh Indira.
Sungguh, Arnold benar-benar mengutuk Dafi yang memilih pulang ke rumah dan meninggalkan Indira sendirian menginap di rumah sakit. Entah sejak kapan sahabatnya tersebut jadi pria tak bertanggungjawab seperti ini.
•
•
Dafi tampak gelisah di tempat tidurnya. Tidurnya benar-benar tak karuan, ia memang mengantuk tapi hatinya diselimuti kegelisahan. Pikirannya terus tertuju pada Indira. Bagaimana dengan keadaan wanita itu apalagi ia tinggal sendirian di rumah sakit?
Ia pusing sendiri memikirkannya. Ia menoleh ke tempat tidur di sampingnya, di mana Airin sudah tertidur pulas.
"Apa aku kembali ke rumah sakit saja? Tidak. Kalau aku ke sana Airin akan curiga," monolog Dafi pada diri sendiri.
"Sial. Kenapa aku harus memikirkan dia?" Dafi mengusap wajahnya kasar. Ia berusaha untuk menyingkirkan Indira dalam pikirannya tapi tidak bisa.
__ADS_1
Waktu begitu cepat berjalan, malam pun tak terasa berganti menjadi pagi. Semua orang sibuk beraktivitas di pagi hari. Jalan ibu kota pun begitu padat oleh pengendara bermotor. Tampak sebuah mobil sedan hitam terjebak dalam kemacetan.
"Padahal kita sudah pagi berangkatnya tapi tetap saja macet," gerutu Airin dalam mobil. Ia melirik jam melingkar di lengannya.
"Sabar, Sayang. Sebentar lagi kita sampai," balas Dafi yang tampak tenang di tempat duduknya sembari menyetir mobil.
Sekitar beberapa menit terjebak kemacetan kini mobil yang mereka berdua tumpangi sudah sampai di area rumah sakit tempat Indira di rawat sekarang. Airin lebih dulu keluar dari mobil lalu di susul oleh Dafi.
Raut wajah Dafi mendadak suram diselimuti kegelapan ketika memasuki ruangan tempat Indira di rawat sekarang. Tampak seorang pria duduk di samping brankar dan tengah memaksa Indira dengan lembut untuk menerima suapan bubur darinya. Mendadak dada Dafi terasa memanas seolah terbakar. Entahlah, ia tidak suka melihat itu.
"Indira..."
Suara Airin membuat Indira termasuk pria yang tengah duduk di samping brankar itu menoleh.
"Lho, Jo? Kamu ternyata di sini juga," ucap Airin yang tampak terkejut melihat sahabat suaminya tersebut.
Jo, pria itu tersenyum. Ia melirik Dafi yang berdiri di samping Airin. Tatapan pria itu begitu menusuk dan tajam padanya. Bisa ia tebak Dafi tak suka ia berdekatan dengan Indira.
Sementara Indira memalingkan wajahnya. Enggan bersemuka dengan Dafi.
"Kamu kenapa bisa di sini?" tanya Airin.
"Aku hanya ingin menemui Arnold karna ada urusan sekalian menjenguk Indira." balas Jo santai, menghiraukan seseorang yang menatap menusuk padanya. Bahkan ia bisa merasakan aura kegelapan yang menguar dari Dafi.
Dafi melangkah mendekati brankar Indira. Dadanya bergemuruh hebat. Entah tahu dari mana Jo bila Indira berada di rumah sakit ini.
________
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like, komen, dan vote ya!
See you di part berikutnya 🥰
__ADS_1