Mengandung Anak Dari Majikanku

Mengandung Anak Dari Majikanku
IRSM: Patah Hati


__ADS_3

Indira bukan anak kecil lagi yang tidak tahu tanda merah yang tercetak jelas di lehernya. Pipinya mendadak memanas membuat wajahnya terlihat memerah. Ia membenarkan kancing bajunya yang beberapa terlepas.


Indira memilih mencuci muka dan gosok gigi terlebih dahulu setelah itu keluar dari kamar mencari keberadaan suaminya. Langkah Indira memelan kala matanya melihat anak dan ayah itu tampak akrab sambil menonton televisi yang menampilkan kartun kesukaan Faza.


"Mas ..."


Panggilan lembut Indira yang terdengar sedikit pelan itu membuat Dafi menoleh. Pria itu tersenyum menatap ke arah istrinya namun senyuman itu mendadak luntur menatap bercak merah di leher Indira. Senyuman yang awalnya tampak hangat itu berubah menjadi senyuman canggung.


Tanpa ragu Indira melangkah menghampiri suami dan anaknya.


"Bunda!" Faza memekik kegirangan ketika melihat sosok Indira yang kini berdiri di samping sofa tempat ia duduk.


Bocah laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya lalu menunjuk-nunjuk televisi yang lumayan besar.


"Lihat Bunda. Tv di rumah ini lebih besar daripada di rumah kita!" adunya begitu semangat.


Indira hanya merespon dengan senyuman seraya mengusap kepala putranya lembut. Sesaat kemudian bocah laki-laki itu kembali duduk dan fokus menonton film kartun.


"Maaf ... Mas tidak sengaja." Ucapan itu terlontar dari mulut Dafi ketika Indira memandangnya cukup lama.


Sebagai pria normal dan sudah lama tidak melampiaskan hasratnya. Sangat susah bagi Dafi untuk menahan gairahnya apalagi tidur satu kasur dengan Indira membuat ia hilang kendali. Meskipun begitu ia tidak sampai memasuki Indira saat wanita itu sedang tidur.


"Tidak apa-apa, Mas ..." balas Indira dengan malu-malu dan wajah yang semakin memerah.


"Hari ini Mas Dafi ingin makan apa?" tanya Indira dengan lidah yang begitu kelu. Mungkin karna masih canggung.


"Tidak usah memasak. Mas sudah memesan makanan. Ayo duduk sini."


Dafi menepuk-nepuk sofa di sampingnya.


"Tidak Mas. Aku ingin ke dapur dulu."

__ADS_1


Tanpa menunggu balasan Dafi, Indira berlalu dari hadapan suaminya dan segera menuju dapur. Lebih tepatnya ia masih canggung berdekatan dengan suaminya apalagi saat menikah dulu hubungan mereka berdua tidak terlalu dekat.




Suara bel rumah yang terus berbunyi membuat Indira bergegas melangkahkan kakinya ke pintu. Ia membuka pintu tersebut karna mengira itu adalah orang yang mengantarkan makanan yang suaminya pesan. Namun, perkiraan Indira salah. Bola mata Indira membulat sempurna melihat sosok Jo berdiri di depan pintu.


Indira meremas ujung bajunya dengan perasaan tak karuan.


"J-jo ..." Indira tergagap.


"Ternyata kamu pindah ke rumah ini. Aku sudah mencari ke mana-mana." ucapnya tersirat kekecewaan dari raut wajahnya.


Indira yang mendengar itu menundukkan kepalanya tak enak hati. Apalagi ia sudah membohongi Jo tentang ayah Faza yang sudah meninggal. Rasa bersalah dalam benak Indira semakin membesar ketika Jo kembali mengatakan sesuatu.


"Ternyata ayah Faza adalah sahabatku sendiri. Dan selama ini kamu membohongiku." Jo menghela napas panjang guna mengurangi rasa menyesakkan di dada.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membohongimu, Jo ..." Indira berucap lirih merasa bersalah.


Indira yang menyadari arah tatapan Jo dengan cepat menutupi lehernya. Ia sampai lupa dengan tanda merah di lehernya.


"Ada apa kamu ke sini?" Suara serak dan tak bersahabat itu membuat Jo terutama Indira menoleh ke arah Dafi yang menghampiri keduanya.


Dafi menarik Indira ke belakangnya seolah menjauhkan istrinya dari Jo. Kedua alis pria itu menukik tajam, tak senang dengan kedatangan Jo. Padahal mereka berdua sangat akrab dan dekat namun semuanya langsung renggang karna masalah wanita. Apalagi Dafi mengetahui perasaan Jo pada Indira membuat ia was-was.


"Aku hanya ingin menemui Indira dan menanyakan kebenaran tentang hubungan kalian berdua. Dan semuanya sudah terjawab," balas Jo begitu pedih.


"Untuk apa menanyakan hal ini bila aku sudah menjelaskannya. Aku tahu kamu kecewa dengan kebenaran ini karna kamu sangat mengharapkan Indira. Dan aku juga tidak bisa menyalahkan sepenuhnya dengan cinta yang tumbuh dihatimu pada istriku, tapi setidaknya setelah kamu tahu ini semua tolong hapus perasaanmu pada Indira," pinta Dafi dengan penjelasan panjang lebar.


Jo menundukkan kepalanya sejenak dengan rasa sakit yang menusuk ke ulu hati. Melupakan seseorang yang memiliki kedudukan istimewa di hati sangatlah sulit. Dan mungkin hari-hari Jo akan dihiasi kesedihan dan patah hati berkepanjangan.

__ADS_1


Lain lagi dengan Indira yang merasa sangat bersalah. Seharusnya ia jujur dari awal setidaknya itu menjadi tembok agar Jo tak menautkan hatinya.


"Ya, kamu benar, Dafi. Seharusnya aku tidak perlu meminta menjelaskan lagi pada Indira, semuanya sudah terjawab."


Setiap kata-kata yang Jo lontarkan menyiratkan rasa sakit yang tak bisa diutarakan yang ada hanya mengikhlaskan. Dafi menyentuh pundak kokoh Jo, ada rasa kasihan pada sahabatnya tersebut.


"Kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari Indira. Terima kasih sudah menjaga istri dan anakku."


Sambil menormalkan deru napasnya Jo mengangguk disertai senyuman tipis.Tanpa ingin berkata pun Jo berbalik badan lalu melangkah meninggalkan rumah Dafi.


"Jo ..." Indira hendak melangkah mengejar pria tersebut namun dengan cepat Dafi menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan.


"Aku tidak berniat membohonginya." Air mata tak sanggup wanita itu bendung. Ingatan tentang kebaikan Jo bergulir dalam kepala Indira saat ini.


"Iya, Mas tahu Sayang. Tenangkan dirimu." Dafi semakin mendekap tubuh Indira."Ayo kita masuk."


Dafi menggiring Indira masuk ke dalam rumah. Ia membawa Indira ke kamar.


"Indira, lihat Mas."


Dafi menangkup wajah Indira yang basah oleh air mata.


"Tidak perlu merasa bersalah. Memang sudah jalankan seperti ini. Seiring berjalannya waktu Jo akan melupakan semua kekecewaannya."


Indira menggeleng lirih."Tapi, aku merasa sangat bersalah. Seandainya aku jujur dari awal."


"Sstt ... tidak perlu berandai-andai, semuanya sudah terjadi, Indira. Mas yakin pasti Jo paham dan mengerti apalagi kamu istri Mas. Hanya masalah waktu saja setelah itu semuanya akan kembali seperti semula."


Dafi kembali memeluk Indira, wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Sesaat kemudian pelukan itu terurai bersamaan dengan perasaan Indira yang sedikit tenang.


______

__ADS_1


Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir!


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. See you di part selanjutnya:)


__ADS_2