
Nanti kalau sempat malam ini update lagi💖
"Sekarang kita harus pulang ke Jakarta!"
Kekesalan Airin belum mereda pada suaminya namun dengan tiba-tiba suaminya mengatakan hal yang membuat ia terkejut bercampur bingung. Setelah mendengar ucapan satpam disambungan telpon tersebut, membuat Dafi ingin segera pulang ke Jakarta. Kali ini ia takkan melepaskan Indira.
"Kenapa tiba-tiba kita harus pulang? Kita baru dua hari di sini, Mas!" Airin menatap geram pada Dafi.
"Iya aku tahu, tapi sekarang aku dapat informasi bila Indira ada di Jakarta. Kita harus segera pulang ke Jakarta kalau tidak, akan semakin sulit untuk menemukan Indira. Dia akan semakin jauh pergi!" balas Dafi dengan kedua mata yang berbinar dan gemuruh bahagia meliputi benak pria itu.
Tanpa sadar kedua tangan Airin mengepal sampai kuku-kukunya memutih. Marah dan emosi. Lagi-lagi Indira, seolah pembantunya tersebut memiliki arti penting dalam hidup suaminya.
Airin menarik kasar lengan Dafi yang kini tengah sibuk berkemas membuat pria itu menoleh pada sang istri. Wajah memerah yang menyiratkan kemarahan adalah hal pertama yang Dafi lihat dari Airin.
"Indira itu hanya pembantu! Mau dia di Jakarta atau tidak aku tidak peduli! Kenapa kamu begitu bersemangat mencari keberadaan pembantu itu, hah? Kalau dia di Jakarta ya sudah tidak usah di susul!" Kekesalan yang Airin tahan kini meledak dengan gemuruh amarah yang meliputi dadanya.
Dafi begitu bersemangat setelah tahu keberadaan Indira dan itu membuat ia bersikap egois tanpa memperdulikan bagaimana perasaan Airin. Dafi yang selalu mengutamakan Airin, menjaga perasaan Airin, dan selalu memprioritaskan Airin kini berubah karna Indira bahkan perasaan pria itu benar-benar tak karuan setelah Indira meninggalkannya dan sekarang ia hanya memfokuskan dirinya agar bisa menemukan Indira.
•
•
"Nah, ini kamar kosnya. Bulanan nya hanya 800 ribu. Bagaimana kamu tertarik apa tidak?" ucap seorang wanita bertubuh gemuk yang tengah memperlihatkan salah satu kamar kos.
Indira melangkah memasuki kamar yang sudah dilengkapi kasur lantai, kipas angin dinding dan kamar mandi yang menyatu dengan toilet.
"Apa tidak bisa dikurangi lagi, Bu," balas Indira menatap ibu kos yang tak lain bernama Susan itu.
Ibu Susan menggeleng tegas."Tidak bisa, ini sudah paling murah. Rata-rata kosan itu harganya satu juta tapi untuk kamu saya kasih murah!"
__ADS_1
"Apa boleh saya bayar uang mukanya 500 dulu?"
"Tidak bisa! Harus bayar 800 ribu. Sudah saya kasih murah ini!"
Indira menghela napas pelan. Tangannya mengambil lembaran uang dalam tas ransel hitam miliknya. Beruntung ia menyimpan sedikit tabungan ditambah uang yang Jo berikan. Awalnya ia ingin mengontrak tapi harga sewa rumah kontrakan dua kali lipat lebih mahal dibanding kosan.
"Ini Bu..."
Ibu Susan dengan cepat menyambar uang yang Indira sodorkan. Senyuman lebar mengembang dibibir merah menyalanya.
"Nah, kalau gini enak. Mulai sekarang kamu bisa menempati kamar ini. Tapi ingat, jangan telat untuk bayar uang bulanan kosan ini dan peraturan yang harus kamu taati di tempat ini, tidak boleh membawa pria ke kosan atau pulang larut malam karna gerbang di kosan selalu dikunci pukul 9 malam. Paham?"
Indira mengangguk cepat, paham dengan segala penjelasan yang ibu Susan jelaskan.
"Dan satu lagi, dapur ada di lantai bawah. Itu dapur bersama, jadi kalau mau masak di sana," sambung ibu Susan yang kembali dibalas anggukan oleh Indira.
Setelah ibu pemilik kosan itu pergi Indira segera membawa masuk semua barangnya ke dalam kamar. Setelah menata semua barangnya dalam kamar tersebut kini Indira mendudukkan dirinya di kasur lantai yang cukup empuk. Tangannya memijit-mijit kakinya yang terasa penat. Hari ini sangat melelahkan bagi Indira setelah berkeliling ke sana kemari mencari tempat tinggal sewaan yang cocok dengan uang yang ia miliki sekarang. Tapi beruntung ia mendapatkan kamar kosan di bawah satu juta.
Raut wajah wanita muda itu perlahan berubah murung ketika sekelebat ucapan Dafi waktu di rumah sakit itu kembali terngiang-ngiang di telinganya.
"Maaf ya, Nak. Mungkin Bunda jahat menjauhkan kamu dari ayah kamu. Tapi yang harus kamu tahu ayahmu tidak menginginkan kita." Gumam Indira lirih sembari mengusap perutnya.
Ucapan Dafi yang meminta ia berbohong tentang anak yang ia kandung pada Airin, sudah membuat hati Indira terluka serta ia beranggapan Dafi memang tak pernah menginginkannya ada termasuk anak yang ia kandung. Bahkan untuk berkata jujur saja suaminya enggan dan terus mengulur-ulur waktu.
Indira menghela napas panjang untuk mengurangi sesak di dada. Kini, ia mengambil tas ransel memeriksa sisa uang simpanannya.
"Sepertinya untuk satu bulan tidak akan cukup." Ia menatap lembaran uang ditangannya.
"Besok aku harus cari kerja."
__ADS_1
Indira kembali menyimpan uang tersebut ke dalam tas. Besok pagi ia akan mencari pekerjaan dan semoga saja ia mendapatkan pekerjaan yang tidak terlalu berat dan beresiko pada kandungannya.
Sekitar kurang lebih dua jam akhirnya pesawat Bali-Jakarta sudah sampai di bandara. Setelah pertengkaran hebat antara Dafi dan Airin, kini keduanya kembali ke Jakarta. Walau sebelumnya Airin menolak keras kembali ke Jakarta sedang liburan mereka berdua belum selesai.
Setelah sampai Jakarta keduanya langsung pulang ke rumah dan sekitar 45 menitan mobil yang keduanya tumpangi sudah sampai dipekarangan rumah.
"Saya kira Tuan Dafi masih lama di Bali," ucap satpam tersebut sembari mengangkat barang-barang majikannya yang diturunkan dari mobil.
"Kapan Indira kembali ke rumah?" Dafi langsung menodong pertanyaan tentang Indira pada satpam yang bernama Adi itu.
"Sekitar jam 10 pagi, Tuan. Dia bilang tidak bekerja di sini lagi di sini dan mengambil semua barang-barangnya."
Sementara Airin sudah masuk ke dalam rumah dengan hati yang dongkol. Bahkan wanita itu merasa ada sesuatu antara Dafi dan Indira. Kekhawatiran suaminya tidak wajar untuk Indira yang notabene nya hanya pembantu.
"Sebelumnya Indira naik apa ke sini?"
"Naik mobil taxi."
Tanpa ingin bertanya lagi Dafi masuk ke dalam rumah menyusul Airin. Kali ini pria itu masuk ke kamar bukan untuk membujuk ataupun meminta maaf atas sikapnya pada Airin melainkan mencek rekaman CCTV di layar televisi.
Dengan tatapan serius Dafi melihat rekaman CCTV di pukul 10: 00 pagi di mana Indira datang ke rumah ini. Ia memfokuskan pandangan matanya ke plat mobil taxi yang istrinya tumpangi.
Senyuman menyeringai terukir di bibir Dafi.
______
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komentar
__ADS_1