Mengandung Anak Dari Majikanku

Mengandung Anak Dari Majikanku
IRSM: Ternyata bercerai


__ADS_3

"Kamu nggak ada niatan mau nikah lagi, Ra?"


Pertanyaan Sinta membuat Indira yang tengah sibuk membersihkan meja yang baru saja digunakan pengunjung kini menghentikan aktivitasnya lalu menoleh menatap Sinta. Keduanya tengah sibuk membersihkan rumah makan yang sudah tutup itu sebelum pulang.


"Aku belum siap untuk kembali menikah lagi. Sekarang aku lebih fokus membesarkan putraku," balas Indira seadanya.


Pernikahan pertamanya meninggalkan luka yang masih tertanam di dalam hatinya. Dan untuk kembali menjalin sebuah hubungan lagi ia sudah tidak bergairah. Lebih tepatnya ia tidak ingin kembali mengukir kisah dengan pria manapun.


"Umur mu masih sangat muda, Ra. Masih ada kesempatan untuk kembali menikah. Apalagi Faza masih kecil, seharusnya umur seperti itu dia merasakan kasih sayang yang lengkap dari ayah dan ibunya. Kamu juga tidak perlu capek-capek bekerja bila sudah bersuami."


Sinta kembali berucap yang menyiratkan nasehat serta kepedulian pada Indira. Ia kasihan dengan kehidupan yang Indira jalani apalagi gaji di rumah makan ini hanya 900 ribu perbulan. Itu pun masih kurang untuk membayar uang kontrakan dan memenuhi kebutuhan.


"Dan aku lihat pria yang sering datang ke sini untuk menemuimu sepertinya menyukaimu. Kenapa kamu tidak menerima dia saja?"


Indira hanya tersenyum simpul.


"Jo? Dia hanya teman dan berasal dari keluarga kaya raya tidak mungkin memiliki perasaan lebih. Kalau dia memang menyukaiku, aku akan menolaknya."


Indira tampak tak menyadari ucapan yang ia lontarkan berhasil menciptakan rasa sesak di dada Jo yang terdiam beberapa saat di ambang pintu mendengarkan obrolan keduanya.


"Bunda ..." Teriakan Faza membuat Indira menoleh ke sumber suara. Senyuman wanita itu mengembang sempurna menatap sang putra.


"Lihat, lihat Bunda. Aza bawa banyak mainan dibelikan Om Jo. Terus dibelikan es krim juga sama Om ganteng."


Sebelah alis Indira terangkat mendengar kalimat terakhir Faza.

__ADS_1


"Om ganteng? Maksudnya siapa, Sayang?"


"Iya, dia belikan Aza es krim. Dia berteman sama Om Jo." Faza tampak antusias menceritakan Dafi.


Sementara Jo yang berada di ambang pintu menghela napas panjang berusaha menghilangkan rasa menyesakkan di dada. Mungkin Indira masih butuh waktu untuk kembali menerima seorang pria dalam kehidupannya.


"Aku akan menunggumu sampai kamu siap, Indira ..." batin Jo.


"Om ganteng itu siapa, Jo?" Indira langsung menimpal pertanyaan ketika Jo menghampiri keduanya. Ada rasa dibenak Indira apalagi melihat wajah Faza yang tampak sumringah.


"Dia temanku. Nanti aku kenalkan."


Indira manggut-manggut mendengar jawaban Jo. Kini, tatapannya beralih pada Faza. Ia menghela napas berat melihat mainan dan makanan yang putranya pegang. Walaupun Faza tampak bahagia namun ia tetap tak enak hati dengan Jo.


"Jo, seharusnya tidak perlu membelikan Faza mainan. Cukup dibawa jalan-jalan saja."


Sementara Sinta yang masih berada di tempat itu tampak tersenyum-senyum mendengar obrolan keduanya.




Dafi terdiam beberapa saat ketika membuka pintu, menatap seorang wanita dengan bocah empat tahun di gendongannya. Rasa sesak seketika mencekik rongga dada pria itu. Dafi hendak menutup pintu enggan bertemu dengan wanita tersebut.


"Mas ... jangan tutup pintunya. Aku ingin bicara serius." Airin dengan cepat menahan pintu yang setengah tertutup itu."Sekali ini saja Mas. Apa kamu tidak kasihan dengan anak kita?"

__ADS_1


Dafi melirik bocah perempuan di gendongan Airin. Menatap berkaca-kaca ke arahnya. Dafi menghela napas berat membuat Airin yang melihat pria itu mulai melunak dengan cepat masuk ke dalam kamar hotel Dafi. Airin menurunkan Aira di gendongannya.


Dafi menatap dua wanita itu dalam diam dengan perasaan yang bergejolak antara marah dan benci.


"Cepat katakan, apa yang ingin kamu bicarakan?" ucap Dafi langsung keintinya. Ia tidak ingin terus berlama-lama dengan Airin.


Wanita itu tersenyum tipis. Ia merogoh sesuatu dalam tasnya lalu mengeluarkan selembar undangan lalu diberikan pada Dafi.


"Itu undangan pernikahan ku, Mas. Minggu depan aku akan menikah. Dan... aku minta maaf karna sudah membohongimu selama kita menjalani pernikahan dulu. Aku sebenarnya tidak bermaksud menyakitimu, tapi itu diluar kendaliku."


Dafi mengambil undangan yang Airin berikan dengan senyuman sinis."Bagus. setelah membohongiku sekarang sudah menggelar pernikahan."


"Aku memang salah tapi kita bercerai karna kita sudah tidak cocok lagi. Lagipula pernikahan berakhir seperti ini karna Indira__"


"Jangan bawa-bawa Indira!" Dafi depat cepat memotong ucapan Airin."Tidak ada hubungannya dengan Indira. Kita bercerai karna kamu selingkuh dengan Seno dan mengaku anak yang kamu kandung adalah anakku! Itu sangat menjijikkan."


Airin tertawa pelan."Apa kamu lupa, Mas. Kamu juga melakukan hal sama dengan Indira. Melakukan hubungan int*m sedangkan bukan suami-istri."


Dafi meremas kertas undangan yang ia pegang. Menatap penuh emosi pada Airin.


_________


Sedikit dulu part yang ini. Aku lagi nggak enak badan. Dan semoga hari ini bisa update lagi. Bila ada kekeliruan dan typo tolong tandai nanti kuperperbaiki.


Hai semuanya! Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. Dan terima kasih sudah mampir.

__ADS_1


See you di part berikutnya:)


__ADS_2