Mengandung Anak Dari Majikanku

Mengandung Anak Dari Majikanku
IRSM: Dipermainkan Keadaan


__ADS_3

"Maaf, anda tidak boleh keluar dari rumah ini."


Naldo menghalangi Indira kala hendak keluar dari rumah. Wanita itu mengkerutkan keningnya menatap pria asing yang tiba-tiba berdiri di depan pintu.


"Kamu siapa?" Indira memandangi Naldo dari atas sampai bawah.


"Perkenalkan saya asisten bos Dafi. Saya diperintahkan untuk berjaga di depan rumah dan melarang anda keluar dari rumah ini!"


Indira terperangah mendengar ucapan pria tersebut. Ia mendengus pelan, bagaimana ia bisa pergi bekerja bila sudah dicegat seperti ini. Baru satu hari bertemu Dafi, pria itu sudah mengekangnya.


"Aku harus pergi bekerja dan minggir dari hadapanku!"


Naldo tak sedikit pun bergeser di tempatnya. Ia masih berdiri di depan pintu. Lebih baik menghadapi kemarahan wanita tersebut daripada mendapatkan kemarahan sang bos.


"Sebaiknya anda duduk manis di dalam rumah."


Indira berdecak mendengar hal tersebut. Dengan hati yang dongkol ia kembali masuk ke dalam rumah. Mau keluar dengan paksa pun tidak akan bisa.


"Bunda itu siapa? Kenapa kita ndak boleh keluar?" tanya Faza mendongak menatap Indira.


Indira menggeleng pelan."Bunda tidak tahu, Sayang. Yang jelas dia tidak membolehkan kita keluar."


"Berarti Bunda ndak bisa kerja." Faza melengkungkan bibirnya ke bawah.


Indira hanya tersenyum tipis merespon ucapan anaknya. Sementara Naldo masih setia berdiri di depan pintu. Pria itu seperti patung dan tidak bergeser sedikit pun di depan pintu.




"Hai, Dafi!" Jo menyapa Dafi dengan sumringah. Pria itu menarik kursi lalu mendudukkan dirinya berhadapan dengan Dafi.


"Tiba-tiba saja kamu ingin bertemu denganku. Ada apa?" tanya Jo sembari membenarkan posisi duduknya.


Dafi menatap lurus dengan sorot yang tajam pada Jo. Kedua tangan pria itu bertaut di atas meja, kerutan halus muncul di kening Dafi seolah pria itu tengah berpikir.


"Aku tidak ingin buang-buang waktu. Dan aku tidak ingin masalah ini semakin pelik jika aku terus diam."

__ADS_1


Sebelah alis Jo terangkat, bingung serta penasaran dengan ucapan yang Dafi lontarkan.


"Maksudmu apa, Dafi? Aku tidak paham."


Dafi menghela napas berat sebelum kembali berucap."Jauhi Indira. Cari wanita lain untuk menjadi istrimu!"


"Apa maksudmu ini? Tiba-tiba mengajakku bertemu dan memintaku menjauhi Indira! Ada apa denganmu?" Tampak raut wajah tak suka dari Jo. Di saat ia ingin serius dengan wanita incarannya Dafi meminta untuk menjauhinya. Sangat aneh!


Dafi terlihat tenang meski suasana diantara mereka berdua sedikit memanas. Jo, yang sangat suka bermain-main dengan wanita, kini memilih untuk berhenti setelah Indira hadir dalam kehidupannya dan sekarang dengan mudahnya Dafi memintanya untuk menjauhi Indira. Hatinya sudah tertaut dengan Indira dan tak mungkin menjauhi Indira saat keinginannya begitu besar menjadikan Indira miliknya.


"Aku tidak perlu panjang lebar menjelaskan alasanku memintamu menjauhi Indira. Tapi yang jelas Indira itu istriku!"


Setelah Dafi mengucapkan itu suasana tiba-tiba hening. Namun, sesaat kemudian suara tawa menggelegar yang cukup keras membuat pengunjung restoran yang berada di sana menatap ke arah Jo.


"Kamu ingin bercanda, Daf? Sungguh candaanmu tidak lucu," ucap Jo perlahan menghentikan tawanya."Indira itu suaminya sudah meninggal dan tiba-tiba kamu mengaku sebagai suaminya? Dafi, Dafi ..."


Jo menyeka sudut matanya. Menganggap apa yang pria itu katakan hanya bualan saja.


"Aku tidak berbohong. Indira memang istriku. Dia melarikan diri. Dan sekarang aku menemukannya dan tidak akan melepaskannya."


"Aku tetap tidak percaya. Bila Indira istrimu dan Faza anakmu ..." Jo menjeda ucapannya sejenak."Be-berarti kamu menikahi Indira saat masih menjalin pernikahan dengan Airin?"


Dafi mengangguk membenarkan. Sementara Jo sudah lama tahu perihal perceraian Dafi dan Airin. Namun ia tak habis pikir bagaimana bisa Dafi menikah dengan Indira yang dulu adalah pembantunya.


"Jadi, berhenti untuk berharap lebih pada istriku."


Ucapan Dafi bagai hujaman yang begitu menusuk di ulu hati Jo. Antara shock dan sakit hati bahkan kedua mata Jo terasa memanas. Ia yang selalu mempermainkan wanita kini berbalik dipermainkan oleh keadaan dan fakta yang tak bisa ia terima.


"Ini tidak mungkin, tidak mungkin."


Jo masih menyangkal, ia tidak percaya dengan ucapan Dafi. Baginya Indira wanita yang ditinggal mati oleh suaminya. Apalagi Indira sendiri yang mengatakan hal itu padanya.




"Om ..."

__ADS_1


Faza yang tengah sibuk mewarnai karakter kartun di buku gambar seketika bangkit dari tempatnya duduknya. Bocah laki-laki itu tampak kegirangan kala Dafi kembali ke rumah.


Indira yang baru saja keluar dari kamar setelah selesai beberes mendekati suaminya.


"Ini ... makanan untukmu."


Dafi membelikan begitu banyak jajanan membuat Faza sangat girang. Bocah itu langsung menghambur-hamburkan jajanan dalam tas belanjaan itu ke lantai.


"Kenapa kamu menyuruh orang berjaga di depan rumah dan melarangku untuk keluar?" ucap Indira penuh kekesalan.


Dafi yang tampak tersenyum memperhatikan putranya kini beralih menatap Indira.


"Saya takut kamu kembali melarikan diri. Dan sudah saya duga meski dilarang keluar kamu tetap akan melanggarnya."


Pria itu melangkah mendekati Indira. Dengan gerakkan tak terduga ia merengkuh pinggang ramping sang istri membuat tubuh keduanya merapat. Indira merasa gugup serta aliran darahnya mengalir dengan cepat ketika berdekatan dengan suaminya apalagi dengan posisi seintim ini.


"Saya tidak ingin kehilanganmu lagi ..." bisik Dafi lembut namun mampu membuat sekujur tubuh wanita itu meremang.


Indira melirik Dafi yang masih dengan posisinya dan enggan melepaskan dirinya. Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung keduanya bersentuhan dan  bibir keduanya nyaris menyatu namun ...


"Bunda ..."


Suara cempreng Faza membuat Indira mendorong dada kokoh suaminya hingga menciptakan jarak diantara keduanya. Wanita itu tampak salah tingkah dan segera menghampiri Faza yang terus memanggilnya. Sementara Dafi tampak berdecak pelan. Sedikit lagi ia bisa mencicipi bibir yang sudah lama tidak ia jamah.


"Ada apa, Sayang?" Indira menghampiri Faza yang tampak kesusahan membuka salah satu bungkus snack.


"Ini, Aza ndak bisa buka ini."


"Sini, Bunda buka." Indira merobek ujung bagian bungkusan snack itu.


"Terima kasih, Bunda ..." Faza langsung memakan snack tersebut.


Indira membuang muka kala Dafi terus memperhatikannya. Wajahnya terasa memanas mengingat yang tadi.


"Aku tidak boleh luluh. Bisa saja ini hanya jebakan," bathin Indira.


Baginya kebaikan apapun yang pria itu lakukan ada sesuatu terselubung di dalamnya. Ia takut Dafi mengincar anaknya.

__ADS_1


__ADS_2