
"Sudah cukup mas!!"
"Kamu harus mendengar semua penjelasan dari aku dulu, karena semua apa yang kamu pikirkan pada saat ini pastinya salah paham semua."
"Engga ada yang perlu harus untuk dijelaskan lagi, semuanya sudah cukup jelas saat aku melihat wanita itu ada bersama dengan kamu. Pasti dia adalah wanita yang mamah pilih untuk menjadi istri kedua kamu."
Menurut Erina pada saat ini, apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sudah cukup jelas dari pada dia harus mendengar semua penjelasan dari suaminya.
"Ayo mendingan kita pulang aja Erina, untuk apa lagi berlama-lama di sini."
"Kamu siapa? pakai acara pegang istri saya segala?"
Bram yang pada saat ini melihat dan juga bertemu dengan Erik tentunya mulai bertanya, siapa laki-laki yang pada saat ini sedang bersama dengan istrinya.
Karena selama ini setau Bram, Erina tidak pernah punya teman laki-laki.
"Mendingan kamu sekarang urus saja perempuan itu mas, engga usah kamu pakai tanya balik siapa laki-laki yang pada saat ini sedang bersama dengan aku."
"Tidak bisa seperti ini Erina, walau bagaimanapun aku masih memiliki hak atas kamu karena sampai sekarang kamu masih resmi menjadi istriku."
Dengan cemburu yang meradang di hati pada saat ini, Bram tidak terima kalau istrinya pergi bersama dengan laki-laki lain.
"Kamu jangan tarik tangan Erina secara paksa kaya begitu dong, lagian kalau dia engga mau tidak usah kamu paksa dengan semua kemauan kamu."
"Kamu tidak usah ikut campur."
Karena merasa Erik terlalu dalam ikut campur, sampai membela Erina berlebihan akhirnya Bram menonjok wajah Erik dan memacu keributan pada saat ini.
Bruuukk!!!?
Melihat pada saat ini Erik dan Bram berkelahi lantas semua orang yang ada di situ langsung mencoba untuk memisahkan mereka, yang pada saat ini sedang ribut hebat.
"Bram stop!!!"
__ADS_1
Erni berteriak seolah menarik anaknya yang pada saat ini sedang berkelahi, karena tidak ingin suasana pada malam hari ini jadi kacau.
"Untuk apa kalian semua ribut seperti ini macam anak kecil saja, lagian mau Erina pergi sama siapa saja ini bukan urusan kita lagi."
"Tidak bisa mah, walau bagaimanapun juga Erina tetap istri aku."
"Istri macam apa?? istri tukang selingkuh yah??"
"Jaga ucapan mamah!!" ucap Erina yang marah dan tidak terima.
Lantas wajar saja kalau pada saat ini adalah kesempatan emas bagi Erni, untuk membuat Erina terpojok karena memang kapan lagi semua ini akan terjadi.
"Memang kalau bukan selingkuh apa namanya, saat kamu pergi dan juga keluar dari rumah tetapi kamu malah sedang bersama dengan laki-laki lain."
"Yang selingkuh itu siapa? selama ini yang menolong saya selama saya keluar dari rumah adalah Erik, dia adalah laki-laki yang baik tidak seperti apa yang kalian tuduhkan."
Walaupun dirinya benar berselingkuh pada saat ini, tetapi mau dikatakan apa lagi Erina mencoba untuk menutupi semuanya agar semua rahasia dirinya dengan Erik tidak terbongkar.
"Mungkin itu hanya alasan kamu saja, agar kamu bisa berkelit dari semua kebohongan yang kamu lakukan."
Mendengar apa yang Erina katakan pada saat ini rasanya Bram tersadar, kalau semua tuduhan yang telah dia berikan kepada Erik dan juga Erina semuanya adalah kesalahan besar.
"Kalau begitu saya minta maaf, karena sudah memukul kamu tadi. Kalau memang benar apa yang telah istri saya katakan kamu sudah menolong dia semenjak dia keluar dari rumah."
"Iya engga papa santai saja."
Erni bingung dengan putranya kenapa dia sangat mudah percaya dengan Erina yang sudah jelas salah seperti ini, tetapi sama sekali Erni tidak berhenti untuk membuka pikiran Bram kalau pada saat ini Erina salah sudah berselingkuh.
"Bram ayolah, buka mata dan juga pikiran kamu pada saat ini. Kalau wanita ini benar-benar bermuka dua bagaikan ular."
"Cukup mah!! jangan pernah mamah bicara seperti itu lagi tentang Erina."
Akhirnya Bram mulai percaya dengan semua apa yang Erina katakan, kalau dirinya sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan Bram.
__ADS_1
"Sayang, pulanglah sekarang ke rumah karena aku merasa sunyi dan juga kesepian sejak kamu pergi dari rumah malam itu." bujuk Bram kepada istrinya.
"Baiklah, aku mau pulang."
Dengan senyum tipis yang terhias di dalam bibirnya, akhirnya Erina mau ikut pulang bersama dengan suaminya dan menganggap semua masalah pada hari ini sudah selesai.
Erik yang merasa kalah pada malam hari ini, karena sudah merasa kalau dia kehilangan Erina pada saat ini membuat Erik merasa sedikit lebih kesal.
"Sialan, Bram sudah berhasil membuat Erina ikut pulang bersama dengan dia." gumam Erik dalam hati.
Erni juga merasa tidak enak dengan Livi, karena semua undangan makan malam pada hari ini menjadi kacau dan juga berantakan akibat ulah yang dilakukan oleh Erina.
"Livi, tante minta maaf yah karena ulah Erina semua acara yang telah kamu susun untuk pertemuan ini menjadi kacau."
"Engga papa tante, aku juga paham kalau pada saat ini Bram dan istrinya memang punya waktu berduaan agar hubungan mereka bisa membaik. Siapa tau nantinya setelah ini mereka akan bisa punya anak dan memberikan tante cucu."
"Kamu jangan bicara seperti itu Livi, semakin kamu menunjukkan kalau pada saat ini kamu ikhlas merelakan Bram bersama dengan istrinya maka saya yang akan merasa bersalah."
Livi merasa kalau semua apa yang dia lakukan hanya sia-sia saja, lagian ini semua tidak ada gunanya kalau diteruskan karena cinta dan kasih sayang Bram yang sangat besar kepada istrinya.
Setelah semuanya pulang ke rumah masing-masing, Erni sangat marah besar kepada anaknya yang sudah sangat keterlaluan kepada Livi.
Kalau seperti ini sama saja Bram mencoreng nama baik keluarga, karena sudah memberikan harapan palsu kepada Livi.
"Bram tunggu!!"
"Ada apa mah, aku capek banget hari ini mau istirahat masuk ke dalam kamar."
"Sikap kamu sangat keterlaluan sekali kepada Livi, seharusnya kamu engga bersikap seperti itu dan malah menyuruh istri kamu yang sialan ini untuk kembali lagi ke rumah ini."
"Aku merasa kalau sikap aku sama Livi, engga ada yang salah sama sekali. semuanya masih dalam jangka wajar saja."
"Kalau misalnya kamu tidak mau meneruskan pernikahan kamu dengan Livi, bawa istri kamu keluar dari rumah ini!!"
__ADS_1
Apakah Erni benar-benar serius ingin mengusir Bram dari rumah??