Mengandung Benih Selingkuhan

Mengandung Benih Selingkuhan
Hamil Anak Erik


__ADS_3

Melihat yang pada saat ini anaknya yang kebingungan ke sana dan kemari mencari istrinya, tentunya Erni sangat benar-benar kesal kepada Erina pada saat ini, karena yang ada di pikirannya adalah menantunya yang satu itu hanya bisa menyusahkan suaminya sendiri.


Walaupun tidak bisa dipungkiri semua harapan yang telah diinginkan oleh Erni benar-benar bisa diwujudkan oleh Erina, tetapi tetap saja apa yang telah Erina lakukan kepada Bram pada saat ini benar-benar membuat Erni sangat merasa kesal.


"Bisa-bisanya ya istri kamu itu kabur dan pergi dari rumah sakit, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sama kamu padahal dia itu sedang hamil dan mengandung anak kamu."


"Mamah tolong sabar dulu, dan jangan gegabah kita perlahan tetap mencari Erina tetapi mamah kalau misalnya nanti Erina balik dan pulang jangan pernah marahin dia."


"Gimana mamah nggak mau marah sama kelakuan istri kamu itu yang benar-benar ingin membuat mama emosi seperti ini, dia itu harusnya menjaga kandungannya bukan malah jalan-jalan dan juga kabur dari rumah sakit."


Tentunya Erni juga takut kalau nanti kondisi kandungan Erina lemah dan dia kecapean apa lagi Erina ini belum sembuh dari sakitnya, dia masih perlu banyak istirahat. Tetapi bisa-bisanya dia kabur lewat jendela seperti itu bahkan loncat-loncat.


"Sepertinya istri kamu itu harus dikasih pelajaran, walau dia saat ia sedang mengandung cucu mama tetapi bukan berarti dia bisa semena-mena sama kamu."


"Nanti kita bisa dengarkan penjelasan dari Erina secara langsung, pergi ke mana dia pada saat ini pergi nggak bilang-bilang sama kita semua dan rumah sakit."


"Terserah kamu saja, kalau misalnya itu yang terbaik untuk kamu tapi mama sudah tidak mau ikut campur lagi, karena Takutnya nanti akan marah dan ngomel sama dia."


Akhirnya Bram dan juga Erni memutuskan untuk pulang ke rumah, karena memang pada saat ini tidak ada tanda-tanda untuk mereka bisa menemukan Erina berada di rumah sakit ini, mungkin dia sudah pergi jauh atau bahkan pulang ke rumah.


"Kalau begitu mendingan kita pulang aja ke rumah siapa tahu Erina udah ada di rumah."


"Ya sudahlah kalau begitu."


Dengan naik taksi akhirnya Erina pun sampai di rumah Erik, dia mengetuk-ngetuk pintu rumah Erik karena memang pada saat ini terlihat nampak dari luar rumah Erik sangat benar-benar sepi.


Tok...Tok.


Ternyata yang keluar adalah Bi Ijah, bukanlah Erik yang membukakan pintu untuk Erina yang pada saat ini datang ke rumah Erik.

__ADS_1


Tentunya Bi Ijah juga sangat terkejut melihat kedatangan Erina, dengan wajah pucatnya yang pada saat ini benar-benar mengejutkan mereka semua.


"Non Erina sudah lama sekali engga datang ke rumah ini."


"Saya mau cari Erik, apa ada Bi?"


"Silahkan masuk Non, tunggu di dalam rumah saja."


Akhirnya Erina mau mengikuti semua perkataan Bi Ijah, untuk masuk ke dalam rumah Erik dan menunggu di ruang tamu saja.


Bi Ijah pun langsung memanggilkan Erik yang pada saat ini berada di lantai dua kamarnya, untuk memberitahu kalau Erina sudah menunggu di ruang tamu dan ingin bertemu dengan Erik.


"Tuan saya datang ke sini hanya ingin memberitahu, kalau di ruang tamu sudah ada Non Erina yang sejak dari tadi menunggu di ruang tamu, ingin bertemu dengan tuan muda."


"Suruh Erina menunggu saya di ruang tamu sekitar 10 menit lagi, saya akan segera turun ke bawah."


"Erina Kenapa wajah kamu terlihat sangat pucat sekali Apakah keadaan kamu baik-baik saja pada saat ini??"


Melihat keadaan Erina yang pada saat ini tidak baik-baik saja, lantas Erik mencoba untuk bertanya Bagaimana keadaan Erina pada saat ini yang sudah beberapa minggu tidak terlihat, bahkan juga tidak memberi kabar sama sekali kepada dirinya.


"Keadaanku baik-baik saja Erik, tetapi..."


"Tetapi kenapa Erina??"


"Aku hamil!"


Kalau pada saat ini Erina sudah hamil dan mengandung, tentunya Erik memberikan selamat dan merasa benar-benar senang karena memang mulai detik ini Erina sudah resmi menjadi seorang ibu, Karena dia sudah merasakan hamil dan mengandung.


Tetapi sayangnya sepertinya Erik menduga kalau anaknya dikandung Erina tidak mungkin anaknya tetapi adalah anak dari Bram, suami sah Erina karena dia juga tidak mempunyai ekspektasi yang tinggi kepada Erina pada saat ini, agar hubungan mereka tetap berlanjut.

__ADS_1


"Kalau kamu hamil pada saat ini aku hanya mengucapkan selamat, karena kamu sudah berhasil menjadi seorang ibu."


Mendengar ucapan selamat dari Erik, tentunya Erina tidak bisa berkata apa-apa lagi di hadapan Erik. Tetapi dia malah menangis meneteskan air mata karena memang dia tidak tahu, harus memulai pembicaraan ini dari mana.


"Kenapa kamu malah menangis Erina? bukannya malah kamu seharusnya berbahagia atas kehamilan yang kamu alami pada saat ini?"


Tentunya Erik bertanya-tanya kepada Erina Karena pada saat ini dia sangat bingung bukannya Erina harus merasa bahagia,tetapi malah menangis dan bersedih seperti ini tentunya Erik kebingungan.


"Aku nggak tahu harus memulai pembicaraan ini dari mana karena memang ini benar-benar sulit, menjalani kehidupan dengan bayi yang ada di dalam kandunganku ini."


"Memangnya kenapa Erina?"


"Aku bukan hamil anak dari Bram!?"


"Maksud kamu bagaimana, aku sama sekali engga paham dan juga engga mengerti."


Erik yang masih tidak mengerti dengan semua penjelasan dari Erina, mencoba untuk meminta Erina memperjelas semua perkataan yang telah dia ucapkan karena memang Erik, yang tidak mengerti kalau bukan hamil anak dari Bram terus Erina hamil anak siapa pikirnya Hanya seperti itu.


"Aku hamil anak kamu Erik."


Mendengar semua penjelasan yang singkat dan jelas dari Erina membuat Erik sangat benar-benar terkejut dibuatnya, karena memang pada saat ini dia masih tidak percaya dan tidak tahu harus berkata apa lagi, kalau misalnya Erina hamil anak dirinya bukan anak dari Bram.


"Aku nggak tahu harus ngomong apa, karena ini semua bagaikan mimpi kalau kamu datang ke sini Mau mengabarkan sesuatu hal yang baik untuk aku, kalau pada saat ini kamu sedang hamil anak kita."


Bukannya merasa takut dan panik, tapi malah Erik sangat senang sekali mendengar semua kabar gembira yang telah disampaikan oleh Erina, kalau anak yang telah dia kandung itu bukanlah anak Bram melainkan anak dari Erik atas hubungan gelap yang telah mereka lakukan beberapa waktu yang lalu.


"Aku nggak tahu harus ngapain pada saat ini karena memang kehadiran bayi ini sangat membuat aku merasa resah dan gelisah setiap melihat dan menatap wajah Bram, aku merasa bersalah telah melakukan dosa besar seperti ini."


Apakah nanti Erina akan menggugurkan bayi yang ada di dalam kandungannya tersebut atau malah mempertahankannya??

__ADS_1


__ADS_2