
Setelah itu akhirnya mamanya Livi mengajak Erni bertemu, karena memang ada hal yang sangat penting ingin disampaikan oleh mamahnya Livi kepada Erni pada saat ini, sesuai permintaannya livi utarakan kepada mamanya kemarin.
"Ada apa kamu ngajak ketemuan aku Rossa?"
"Aku hanya ingin memberitahu kamu jangan pernah menaruh harapan apapun kepada Livi, karena kamu tahu kan hati dan perasaan Livi benar-benar rapuh pada saat ini, ketika mengetahui kamu sudah membohongi dia."
"Memangnya aku berbohong masalah apa? "
Seolah-olah dirinya tidak merasa bersalah sama sekali dalam kejadian ini, padahal Erni sendiri yang datang ke rumah Livi dan meminta dia untuk menjadi istri kedua Bram, tapi nyatanya sekarang Dia hanya bisa menaruh harapan dan tidak bisa berbuat apapun.
"Bukannya kamu menyuruh Livi untuk menjadi istri kedua Bram? terus kamu juga yang menaruh harapan kepada anak saya agar dia bisa menjadi istri dari anak kamu."
"Kalau untuk masalah itu aku benar-benar minta maaf, karena memang di luar dari ekspektasi yang aku pikirkan ternyata menantuku sekarang sedang hamil."
"Seharusnya kamu tidak terburu-buru datang kepada anak saya dan meminta dia untuk menjadi istri kedua anak kamu, lalu sekarang kamu harus tanggung jawab bagaimana caranya agar Livi merupakan."
"Lagian kalau saya itu hanya bilang sama Livi kalau misalnya nanti dia cocok dengan Bram bisa aja nanti dia menjadi istri kedua, tetapi untuk masalah itu saya juga nggak bisa memastikan, apakah pernikahan akan bisa berlangsung atau tidak."
__ADS_1
Erni sendiri bingung bagaimana dia harus menghadapi Livi pada saat ini, karena memang pastinya Livi menagih janji dari Erni untuk menjadi istri kedua dari Bram.
Apa lagi saat pertemuan pada malam itu, tentunya Livi menaruh harapan yang sangat benar-benar besar kepada Bram, karena menurutnya Bram itu adalah laki-laki idamannya selama ini, dia baik dan juga bersikap penyayang kepada seorang wanita.
Perempuan mana yang tidak jatuh cinta kepada Bram pada pandangan pertama, kalau Bram memperlakukan Erina saja dengan benar-benar lemah, dan lembut ingin diperhatikan seperti itu oleh Bram.
"Pintar sekali ya, kamu sekarang mencari alasan setelah anak saya sakit hati, atas semua apa yang telah kamu lakukan kepada dia kamu malah lepas tangan begitu saja."
"Bukan begitu maksud saya."
Sejujurnya Rossa benar-benar kecewa kepada Erni, apa lagi mereka ini bersahabat tentunya kalau seperti ini Erni sudah melukai perasaan Rossa juga secara tidak langsung, tetapi mau bagaimana lagi Erni tidak bisa berbuat apa-apa untuk melakukan sesuatu.
Karena saat ini Erina sudah hamil dan mengandung mana mungkin rasanya Bram mau menikah lagi, dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil muda karena memang kemarin itu tujuannya ingin mencari keturunan.
Sekarang semua apa yang diinginkan sudah terkabul dan juga tercapai, tentunya kalau seperti ini maka nantinya Erni sudah tidak bisa lagi berkutik dan berbuat apa-apa.
"Aku bisa menjelaskan sama kamu tentang semua apa yang terjadi, lagian aku juga nggak habis pikirkan aku bisa-bisanya menantuku sampai hamil mendadak seperti ini."
__ADS_1
"Makanya kamu itu jadi orang jangan terburu-buru, kalau seperti ini jadinya kamu sendiri yang kebingungan vagaimana cara menghadapi semua yang telah kamu lakukan."
"Saya mengaku salah, dan benar-benar minta maaf semua semua apa yang terjadi, tolong nanti setelah ini kamu sampaikan permintaan maaf saya kepada Livi agar dia tidak merasa sakit hati."
Karena sadar kalau Livi sudah terlanjur cinta dan suka kepada Bram, akhirnya Erni pun mengutarakan permintaan maafnya kepada Rossa dan juga Livi, karena mereka adalah pihak yang sangat benar-benar tersakiti perihal masalah ini.
"Percuma rasanya kalau kamu minta maaf saya anak saya, karena itu engga ada gunanya sama sekali sekarang Livi terlihat bersedih dan sering mengamuk akibat batal menikah dengan Bram."
"Apa sampai separah itu, keadaan Livi sekarang ini?"
"Iya, kalau kamu misalnya engga percaya dengan semua apa yang saya katakan, silahkan saja kamu datang ke rumah saya lalu tengok keadaan Livi sendiri."
Rossa mencoba untuk memberitahu kepada Erni Bagaimana pada saat ini keadaan Livi kondisinya benar-benar hancur dan terlihat sangat benar-benar terpukul, ketika mengetahui kalau Bram dan istrinya pada saat ini sedang berbahagia.
Sejak mendapatkan undangan syukuran kehamilan tersebut Livi lebih cenderung diam dan tidak banyak bicara, memang dia sudah mengutarakan kalau dia menaruh harapan untuk bisa menikah dan menjadi istri Bram, tetapi nyata Harapan itu sudah musnah.
Apakah yang akan Erni lakukan setelah mengetahui kalau Livi benar-benar sakit hati pada saat ini??
__ADS_1