
Erni sudah bersiap ingin mencarikan istri kedua untuk anaknya Bram yang pada saat ini, sudah tinggal kabur Erina selama dua hari.
"Baguslah kalau perempuan itu pergi dari sini, dan juga minggat karena aku sama sekali engga suka sama dia. Dan hanya ingin kalau Bram bisa menikah lagi tentunya dengan seperti ini akan mudah bagi aku untuk mencarikan istri pengganti."
Gumam Erni seorang diri, karena dia sudah merencanakan ingin memperkenalkan Bram dengan Livi.
Anak dari teman arisan Erni yang pada saat ini sedang cari jodoh juga, kapan lagi menurut Erni anaknya yang pada saat ini sudah memiliki istri bisa dapat anak perawan untuk dijadikan istri kedua.
Pikirnya pasti Bram akan mau dan juga bersedia kalah wanita yang akan dia nikahi nantinya anak perawan, bukanlah janda ataupun juga istri orang.
"Livi kamu apa kabar?"
"Baik tante!!"
Rasanya Livi merasa sangat aneh sekali, kenapa pikirnya Erni bisa datang ke rumahnya seperti ini. Apalagi yang berteman dengan Erni adalah mamahnya bukanlah dirinya.
Tetapi untuk kali ini, sepertinya Erni mencoba untuk sok dekat dan juga sok akrab dengan Livi yang berstatus hanya anak dari temannya saja.
"Ada apa tante datang ke rumah aku yah, soalnya mamah lagi ke luar engga ada di rumah."
Merasa tidak enak karena dirinya datang tidak berkabar terlebih dahulu, akhirnya Erni mengutarakan niatnya yang datang secara mendadak kali ini.
"Mohon maaf sebelumnya Livi, apa benar kalau pada saat ini kamu ingin mencari jodoh seperti yang tante dengar dari semua orang?"
Livi merasa aneh kalau ditanya seperti ini, karena dia merasa risih. Bisa-bisanya semua kabar atau gosip tentang dirinya menyebar begitu cepat begitu saja.
Apalagi pada saat ini Livi memang baru saja di tinggal mantan kekasihnya menikah, sehingga pikirnya pada saat ini Erni datang ingin menjodohkan dia dengan seseorang. Entah itu keponakan atau yang lainnya.
"Iya memang benar tante, pada saat ini saya lagi nyari jodoh. Kalau memang tante ada kenalan yang mau dijodohkan sama saya silahkan aja engga papa."
"Memang saya datang ke sini ingin menjodohkan kamu dengan seseorang."
"Siapa itu?"
__ADS_1
"Anak saya."
Dengan sangat terkejutnya Livi mendengar semua apa yang Erni katakan pada saat ini di hadapan dirinya, karena setau Livi anak yang Erni miliki cuman satu tidak ada yang lain. Dan itu juga sudah berkeluarga sehingga dia mencoba menanyakan semuanya secara jelas lagi siapa tau dia salah dengar pada saat ini.
"Maksudnya tante anak yang mana?"
"Anak saya si Bram!!"
"Apa Bram?? bukannya dia sudah menikah?"
Wajar Livi melontarkan pertanyaan seperti ini, walaupun semua orang mengira kalau dia perawan tua yang tidak laku-laku. Tetapi Livi sendiri masih punya harga diri tit ingin menjadi perebut suami orang lain.
"Iya memang dia pada saat ini sudah menikah, dan saya datang ke sini ingin menawarkan kamu untuk menjadi istri kedua dari anak saya."
"Apa tante udah gila dan engga bisa mikir?"
"Saya datang ke sini secara sadar, dan juga saya masih normal untuk meminta kamu menjadi istri kedua untuk anak saya."
Sontak wajar rasanya, kalau Livi merasa ini semua sangat aneh bagi dirinya karena sampai dia bertanya seperti itu kepada Erni tentang kesadaran dan juga kewarasan.
"Walaupun pada saat ini saya disebut oleh semua orang sebagai perawan tua, tetapi saya sama sekali tidak pernah punya pikiran ingin merebut semua orang. Apa lagi sampai menjadi istri kedua seperti apa yang tante maksudkan."
Livi marah dan jiwanya pada saat ini meronta-ronta seolah-olah dirinya disebut perempuan yang tak laku, bahkan suka dengan suami orang.
Lagian Livi sama sekali tidak pernah punya pikiran akan sampai sejauh ini, karena dirinya masih perawan dan harus menikah dengan perjaka juga tentunya.
"Mohon maaf sekali Livi, kalau misalnya kamu merasa marah dan apa lagi sampai tersinggung seperti ini karena sama sekali tidak ada maksud untuk merendahkan kamu seperti ini."
"Bukannya saya marah, tetapi saya hanya ingin kalau tante sadar kalau anak tante itu sudah berkeluarga dan berumah tangga untuk apa lagi tante mencarikan istri dua untuk Bram?"
"Karena istrinya mandul!!"
"Mandul??"
__ADS_1
"Dia engga bisa ngasih anak saya keturunan, wajar kalau saya merasa dia menantu yang tidak berguna."
Livi sendiri heran dengan semua sikap Erni, yang sama sekali engga pernah berpikir tentang perasaan menantunya yang juga masih punya hati.
Padahal mereka semua adalah sesama perempuan, seharusnya bisa mengerti bagaimana perasaan dan juga hati dari wanita lainnya.
"Lagian kalau masalah urusan anak itu bukan sepenuhnya kesalahan menantu tante, tetapi adalah kehendak Tuhan kalau misalnya nanti aku juga engga bisa ngasih tante cucu gimana?"
Livi malah melontarkan pertanyaan balik kepada Erni pada saat ini, kalau dirinya bernasib sama dengan Erina bagaimana apakah dia akan mendapatkan ketidak adilan juga dari Erni.
"Kamu tenang saja Livi, kalau untuk semua masalah ini saya yakin kamu bisa memberikan anak saya keturunan oleh sebab itu saya datang ke sini untuk meminta kamu menjadi menantu saya."
Livi pun masih ragu dan harus pikir panjang untuk semua keputusan yang harus dia ambil, karena ini semua bukanlah hal yang sepele bisa diputuskan begitu saja tanpa ada pemikiran sama sekali.
"Aku engga bisa jawab sekarang semua apa yang telah tante sampaikan sama aku, tetapi aku harus pikir-pikir terlebih dahulu."
"Iya Livi, sebaiknya memang seperti itu kamu silahkan saja untuk pikir-pikir terlebih dahulu. nanti kalau misalnya kamu sudah ada jawaban silahkan kamu kasih tau sama saya."
"Pasti akan segera saya kasih tau, semua jawaban yang saya pikirkan secara matang-matang."
Untuk membiarkan Livi berpikir sekarang ini, akhirnya Erni harus pamit terlebih dahulu karena memang urusan dirinya dengan Livi sudah selesai.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu."
"Ya sudah tante, hati-hati di jalan."
Setelah kepulangan Erni dari rumah Livi, mamahnya Livi datang dan mencoba bertanya ada keperluan apa Erni datang ke rumah mereka tadi.
"Mah tadi tante Erni datang ke sini."
"Tumben sekali dia datang ke sini, memangnya ada urusan apa sama kamu? soalnya mamah juga engga merasa kalau ada janji sama dia."
"Tante Erni datang ke sini untuk meminta aku menikah dan menjadi istri ke dua dari Bram!!"
__ADS_1
"Apa meminta kamu untuk jadi istri ke dua??"
Apakah Mamahnya Livi akan setuju kalau anaknya menjadi istri kedua Bram??