Mengandung Benih Selingkuhan

Mengandung Benih Selingkuhan
Niat Busuk


__ADS_3

"Bagaimana keadaan kamu Livi?"


Bram mencoba untuk bertanya kepada Livi, yang sedari tadi hanya duduk termenung saja karena tidak mau menjawab semua apa yang Bram katakan.


"Sebaiknya kita keluar aja yuk, biarkan Livi dan Bram berduaan aja di sini. Kasian juga mereka kalau memang mau ngobrol berdua.“ ajak Rosa kepada Erni untuk meninggalkan Livi dan Bram berduaan.


"Ya sudah kalau begitu, mamah sama tante Rosa keluar dulu."


Karena mereka berdua perlu bicara dari hati ke hati tanpa ada orang lain yang mencoba untuk mendengar, apa yang mereka ingin bicarakan sekarang ini.


Bram sendiri juga sebenarnya tidak enak, kalau hanya bicara berduaan seperti ini dengan Livi karena dia merasa kurang pantas.


Apa bedanya dirinya dengan Erina kalau seperti ini, berduaan dengan wanita yang sama sekali bukan muhrim hanya karena ingin bicara dari hati ke hati.


Setelah mereka hanya berduaan dan semua sudah keluar barulah Livi akan bicara mengenai perasaan dia yang sangat kecewa sekali kepada Bram, karena gagal menikah untuk yang kesekian kalinya dengan laki-laki yang dia suka.


"Keadaan aku sekarang ini benar-benar hancur mas, tapi aku ingin kamu tau betapa terlukanya aku ketika mengetahui kalau istri kamu sudah berhasil hamil dan juga mengandung anak kamu sekarang ini."


"Bukan seperti itu Livi!!"


"Terus seperti apa mas, apa lagi yang kamu ingin bicarakan sama aku? setelah mama kamu datang ke sini dan memohon sama aku untuk mau menerima lamaran dari kamu, untuk menjadi istri kedua dan sekarang tiba-tiba aku harus dapat kabar dari kamu yang begitu sangat menyedihkan sekali."

__ADS_1


Livi mengungkapkan amarah dan juga emosinya kepada Bram, serta juga dengan kekecewaan yang dia miliki akibat itu semua Livi menjadi stres berat serta depresi.


"Bukan maksud aku untuk menyakiti kamu, bahkan aku juga engga pernah nyuruh mamah datang ke sini untuk melamar kamu, karena itu semua memang murni inisiatif dari mamah untuk meminta kamu agar mau menjadi istri kedua."


"Semua itu sudah sangat terlambat, karena aku sudah sakit hati atas semua perlakuan mamah kamu dan juga kamu yang keterlaluan."


Padahal kemarin itu Livi sudah sempat, menyetujui semua apa yang Erni tawarkan kepada dirinya untuk menjadi istri kedua Bram. Tetapi dia juga sudah terlanjur sakit hati kalau harus mendengar berita Erina sudah berhasil hamil.


"Mendingan kamu tenangkan pikiran kamu dulu, dan baru setelah itu kita ngobrol lagi karena aku tau kalau kondisi kamu saat ini sangat emosi. Dan tidak akan pernah mau mendengar penjelasan yang saya berikan sama kamu."


Bram sendiri belum sempat bicara kepada Livi tentang semua masalah rumah tangga yang baru saja dia alami, kalau anak yang Erina kandung belum tentu anaknya.


Sehingga ada kesempatan untuk Livi untuk bisa menikah dengan Bram, untuk menggantikan posisi Erina sekarang ini menjadi istri Bram.


Bram tidak akan pernah sudi kalau sampai dia akan terikat pernikahan dengan wanita yang sudah benar-benar liar, berselingkuh dengan laki-laki lain. Di hadapan matanya sendiri.


"Kamu mau pergi ke mana Bram?? duduklah di sini kita bicara semuanya tentang apa yang perlu kita bicarakan sekarang juga."


Saat Bram ingin melangkahkan kakinya keluar meninggalkan Livi, seketika Livi memanggil dirinya kembali karena dia juga ingin bicara dari hati ke hati dengan Bram. Tanpa menggunakan emosi dan juga amarah yang hanya menimbulkan perdebatan saja nantinya.


"Katakan apa yang mau ceritakan?" tanya Livi yang ingin mendengar semuanya.

__ADS_1


"Anak yang dikandung oleh Erina belum tentu anak saya!!"


"Belum tentu anak kamu??"


Mendengar pernyataan seperti ini tentunya Livi sangat terkejut, karena pikirnya mana mungkin wanita sebaik Erina bisa selingkuh.


"Pasti kamu kaget."


"Saya terkejut, karena tidak menyangka kenapa bisa terjadi perselingkuhan seperti ini sampai mengakibatkan Erina hamil padahal selama ini dia adalah istri yang sangat sempurna."


"Selama ini Erina adalah istri yang baik selama beberapa tahun kami hidup bersama, tetapi saya tadi melihat dia bersama dengan laki-laki lain berduaan bahkan berpelukan. Apakah semua itu adalah kesalahan ketika saya mempertanyakan semua ini?"


"Wajar kalau kamu merasa dikhianati kalau sikap istri kamu yang keterlaluan, kalau misalnya itu semua terbukti apa yang kamu lakukan untuk mengambil tindakan??"


"Saya akan menceraikan Erina."


Seketika Livi sangat senang dan juga bersemangat ketika dia mendengar ada harapan untuk dirinya, bisa masuk ke dalam kehidupan Bram yang pada saat ini sedang hancur dan terpukul.


"Saya setuju kalau kamu menceraikan dia."


"Terimakasih atas suport dan juga dukungan yang kamu berikan kepada saya, karena saya menganggap itu semua sebagai semangat."

__ADS_1


Dengan mata yang penuh gairah, rasanya Livi sudah sangat teramat tidak sabar ketika melihat Bram dan Erina berada di meja persidangan perceraian.


__ADS_2