Mengandung Benih Selingkuhan

Mengandung Benih Selingkuhan
Bram Marah


__ADS_3

"Mamah habis pulang dari mana?"


Bram bertanya kepada Erni yang baru saja masuk ke dalam rumah, melalui pintu depan karena pada saat ini Bram pulang lebih dulu dari mamahnya.


"Kamu ini jadi anak yang sopan sedikit, sama orang tua jangan suka ngagetin kaya begitu doang."


"Aku sama sekali engga ada maksud buat bikin mamah kaget, tetapi bingung aja liat mamah yang baru aja pulang tumben dan jarang sekali."


"Mamah emang sengaja hari ini keluar rumah menyempatkan, karena mau nyari jodoh buat kamu."


"Jodoh apaan mah, aku udah nikah lagian masih ada Erina yang masih sah sebagai istri aku pada saat ini."


"Sebentar lagi kamu dan Erina juga akan bercerai, buktinya dia sudah meninggalkan rumah ini."


Sepertinya Erni sangat tidak main-main dengan apa yang dia ucapkan pada saat ini, sampai masih keras kepala ingin kalau Erina dan Bram segera bercerai.


"Mamah jangan asal sembarangan ngomong kaya gini, kalau didengar sama semua para tetangga malu mah. Bisa-bisanya nanti semua orang akan mengira kalau aku dan Erina sungguh berpisah."


"Mamah engga perduli dengan semua omongan orang, yang penting kamu bisa ngasih mama cucu itu yang paling penting!!"


Dengan tegas Erni mengatakan kalau dia sudah sangat menginginkan cucu pada saat ini, kalau misalnya Erina sudah tidak bisa memberikan dirinya cucu maka dia harus bersiap melapangkan hati dan perasaan untuk melihat suaminya menikah lagi.


"Aku engga bisa kaya begini mah, karena walau bagaimanapun juga aku harus bisa menjaga hati dan perasaan Erina sebagai istri aku. Sehingga aku sudah memutuskan untuk tidak akan menikah sampai kapanpun juga."


"Kamu ini kenapa sih, engga bisa mendengar omongan mamah. Lagian mamah itu sudah susah payah mau carikan istri buat kamu."


"Aku engga perduli."


"Jarang ada wanita yang mau menjadi istri kedua dari suami orang, karena itu mamah berusaha keras agar Livi mau menikah dengan kamu!!'


"Apa Livi??"

__ADS_1


"Iya Livi, kenapa kamu kaget?"


"Kenapa harus Livi mah??"


"Karena engga ada wanita lain lagi yang bakalan mau sama kamu!!"


Bram sama sekali tidak habis pikir dengan semua apa yang mamahnya lakukan pada saat ini, karena semua usaha yang Erni lakukan agar anaknya menikah lagi benar-benar sangat gencar.


Mumpung Erina masih kabur dan dia berharap kalau Erina tidak akan pernah kembali ke rumah ini untuk selamanya.


"Sedangkan mamah tau sendiri, kalau Livi itu masih gadis kasian dia kalau sampai dia mau menikah dengan aku laki-laki yang sudah punya istri."


"Mamah engga perduli, yang penting dia mau menikah sama kamu dan menjadi istri kedua kamu. Kalau misalnya Erina menolak untuk bercerai mau dikata apa lagi, dia harus mau dipoligami."


Semua apa yang dikatakan oleh Erni benar-benar sangat gila, tidak memikirkan perasaan menantunya sendiri.


Kalau sampai Erina mengetahui saat ini, ibu mertuanya sudah mendapatkan istri kedua untuk suaminya mungkin saja dia akan merasa sakit hati dan juga merasa sangat terpukul sekali.


"Poligami itu tidak mudah mah."


"Aku tidak akan pernah merasa sanggup untuk bersikap adil!!"


Sama sekali Erni tidak percaya dengan semua apa yang telah anaknya katakan pada saat ini, kalau dia tidak akan pernah bisa adil dengan memiliki dua orang istri.


Apa lagi biasanya laki-laki sangat suka memiliki istri banyak, namun tetapi berbeda dengan Bram yang masih memikirkan perasaan Erina yang harus dia jaga.


Karena walau bagaimanapun juga nantinya yang akan merasa tersakiti adalah Erina bukan yang lain, oleh sebab itu dia masih berusaha untuk menggagalkan semua niat dari mamahnya untuk memaksa Bram menikah lagi.


"Itu hanya alasan kamu saja, karena mamah tau bagaimana kamu mencinta wanita sialan itu sangat amat dalam."


"Memang sudah sewajarnya kalau aku mencintai Erina, karena dia adalah istri yang baru aku sayangi."

__ADS_1


"Lupakan wanita itu dan menikahlah dengan Livi, maka nanti kehidupan kamu akan jauh lebih bahagia."


"Tidak akan mah."


Akhirnya Erni masuk ke dalam kamar dengan semua perasaan yang membuat dirinya kesal pada saat ini, karena memang Bram selalu saja membangkang semua apa yang mamahnya katakan tidak mau menurut pula.


"Selalu saja Bram itu tidak mau mendengar apa yang telah aku katakan, padahal selama ini aku sangat berusaha agar dia bahagia bisa mendapatkan keturunan seperti apa yang dia mau."


Nun terkadang apa yang menjadi tolak ukur kebahagiaan bagi orang tua, belum tentu membuat anak menjadi bahagia bisa saja malah sebaliknya akan membuat anak sendiri tersiksa dan juga tertekan.


Saat Erni membanting handphone miliknya ternyata pada saat itu ada panggilan yang masuk lewat handphone, ternyata pada saat dia melihat ada telpon dari Livi.


[Hallo Livi, ada apa tumben sekali kamu telpon tante kaya begini. Apa ada hal penting yang kamu ingin bicarakan?]


[Aku hanya ingin mau mengajak, tante dan juga Bram untuk makan malam di sebuah restoran mewah pada malam hari ini, karena kita semua harus ketemu.]


[Kalau misalnya kamu mau ketemu bisa aja, nanti tante dan juga Bram akan segera datang ke sana biar kita semua bisa ketemu dan ngobrol bareng.]


[Baiklah tante kalau begitu, kedatangannya aku tunggu yah.]


Livi sejak dari tadi memang terus menerus kepikiran tentang semua tawaran yang telah diberikan oleh Erni, untuk menjadi istri kedua dari Bram.


Oleh sebab itu pikirnya dia harus bertemu dengan Bram secara langsung untuk memastikan semuanya, lalu untuk meyakinkan hati dan perasaan Livi pada saat ini apakah Bram serius ataukah tidak dengan dirinya.


"Akhirnya Livi mau ngajak Bram untuk bertemu juga, ini adalah awal yang sangat bagus sekali. sebaiknya aku harus segera beri tahu anak itu agar dia nanti bisa mempersiapkan diri untuk acara pada malam hari ini."


Setelah itu Erni langsung menuju lantai dasar rumahnya, untuk memberi tahu Bram kalau nanti malam ada pertemuan yang sangat spesial sekali antara keluarga mereka dan juga keluarga Livi.


"Nanti malam kamu harus mempersiapkan diri, karena Livi mau mengajak kita makan malam sekeluarga."


"Untuk apa makan malam segala sih mah, lagian kalau cuman makan doang bisa di rumah aja engga usah pergi."

__ADS_1


"Ini bukan soal makan, tetapi tentang masalah pertemuan kamu dan Livi."


Apakah Bram akan bersedia mau ikut bersama dengan Erni untuk bertemu dengan Livi nanti malam????


__ADS_2