
"Apa sikap kita kepada Erina ini tidak terlalu berlebihan mah?"
"Berlebihan bagaimana maksud kamu? sudah jelas kalau dia itu berselingkuh di depan mata kamu bersama dengan laki-laki lain, untuk apa lagi semuanya kamu sesali?"
"Tapi mah dia sedang hamil."
"Belum tentu anak yang dikandung Erina, adalah anak kamu."
Seolah-olah dirinya benar, dan mencoba untuk meyakinkan Bram kalau pada saat ini apa yang telah dia lakukan tindakan untuk pisah ranjang dengan Erina sudah sangat tepat sekali.
"Untuk apa kamu termenung dan terlalu memikirkan wanita itu? lagian keputusan yang kamu ambil sudah sangat tepat, kalau kamu bersikap tegas kepada Erina."
"Tapi mah, aku merasa kalau apa yang kita lakukan sudah sangat keterlaluan."
"Percuma rasanya kalau mamah bicara dan berdebat, panjang lebar sama kamu karena engga ada gunanya sama sekali."
Bram hanya terdiam lalu dia termenung, memikirkan semua keputusan dan juga sikap yang telah dia ambil. Bram sudah termakan semua omongan yang dilontarkan ibunya sendiri kalau Erina berselingkuh dan mengandung bukan anaknya.
Sebenarnya Bram juga takut, kalau semua apa yang dia tuduhkan salah dan penyesalan itu sudah tidak ada gunanya lagi karena sudah terlambat. Sehingga Bram mencoba untuk berpikir dengan jernih sekali lagi.
"Mendingan sekarang ini, kita pergi ke rumah Livi saja untuk melihat keadaan Livi sekarang ini bagaimana?"
"Rasanya kondisi seperti ini kurang cocok, kalau misalnya kita ingin pergi ke rumah Livi karena aku merasa aku sendiri juga punya masalah yang cukup besar dalam rumah tanggaku."
__ADS_1
"Untuk apa lagi kamu memikirkan istri seperti Erina itu, lupakan dia dan bayi yang ada dalam kandungannya."
Dengan tega Erni bicara kalau bagi dirinya, Erina dan anaknya hanya benalu dan juga pembawa sial di rumah ini.
Lagian hati dan perasaan Bram selalu saja, terpacu pada perempuan itu walaupun pada saat ini raga mereka sudah dipisahkan sekuat tenaga oleh Erni.
"Walau bagaimanapun juga, aku dan Erina belum resmi berpisah dan tuduhan yang mamah omongkan belum tentu juga benar. Kalau anak yang Erina kandung bukan anak aku jadi sebaiknya bersabar aja dulu jangan gegabah dalam mengambil tindakan dan juga keputusan."
"Kamu selalu saja seperti itu."
"Kenapa mamah menangis, dan juga bersedih seperti ini."
"Mamah malu, kalau misalnya kamu engga jadi pergi ke rumah Livi. Mau ditaruh di mana wajah mamah kalau sampai nantinya kita engga melihat kondisi Livi yang juga perlu perhatian dari kamu."
"Baiklah kalau itu yang menjadi kemauan mamah, kita pergi sekarang juga ke rumah Livi."
"Baik sekali kamu sayang, mamah sangat senang ketika kamu menurut dengan semua apa yang mamah katakan."
"Ini semua aku lakukan demi mamah, engga ada seorang anak yang tega melihat orang tuanya sendiri bersedih di dunia ini karena keinginan tidak terwujud."
"Makasih anak mamah sayang."
"Sama-sama mah, yang penting mamah bisa senang dan juga happy."
__ADS_1
Akhirnya mereka langsung melakukan perjalanan selama dua puluh menit untuk menempuh perjalanan ke rumah Livi, setelah melihat Erni dan Bram datang untuk melihat keadaan dirinya tentunya Livi sangat senang dan juga gembira.
"Siapa yang datang, bu?"
"Bram sama mamahnya datang ke rumah kita."
"Apa Bram??"
Rossa dan anaknya saling bicara, kalau Bram datang ke rumah mereka untuk melihat secara langsung kepada Livi. Dan Erni sudah memenuhi semua janjinya untuk bertanggung jawab atas semua keadaan Livi saat ini.
Yang stres ketika harus gagal menikah untuk yang kesekian kalinya, sehingga mental yang dia miliki pada saat ini down.
"Silahkan masuk, saya benar-benar senang dan juga tersanjung ketika keluarga kalian mau datang dan juga berkunjung seperti ini ke rumah saya."
"Ah kamu bisa saja Rosa, lagian saya dan Bram ke sini memang sengaja ingin menjenguk dan melihat secara langsung bagaimana keadaan Livi."
"Boleh, kalau begitu tunggu sebentar saya akan panggilkan Livi untuk segera turun kebawah. Biar dia saja yang menghampiri kalian."
"Apa kondisi Livi sudah stabil? kalau misalnya belum biar kami saja yang naik keatas untuk melihat kondisi Livi di dalam kamarnya."
Erni menawarkan diri untuk naik ke lantai dia kamar Livi, kalau misalnya Livi belum kuat untuk jalan dia bersedia jalan untuk menengok keadaan Livi.
Sebaik itu Erni kepada orang lain, berbeda dengan sikapnya kepada menantunya sendiri yang sangat teramat menjengkelkan seperti nampak tidak suka.
__ADS_1
Bagaimanakah pertemuan antara Bram dan Livi??