
Setelah setengah perjalanan, akhirnya Erik menghentikan mobil yang dia kendarai pada saat ini.
"Kenapa berhenti?"
"Apa kamu sudah yakin ingin pulang ke rumah kedua orang tua kamu?"
"Kalau bukan pulang ke rumah kedua orang tua, aku harus kemana lagi karena aku sendiri engga tau mau tinggal di mana sekarang ini."
"Bagaimana kalau kamu tinggal di rumah aku saja?"
"Tidak, aku tidak akan pernah mau menerima tawaran dari kamu karena bisa-bisanya nanti Bram akan semakin marah dan tau, kalau sekarang ini anak yang aku kandung bukan anak dia melainkan adalah anak kamu."
"Tapi sayang, kalau misalnya kamu pulang ke rumah kedua orang tua kamu nantinya aku akan susah bertemu dengan kamu dan mengetahui kondisi anak kita."
Erik sangat memperhatikan kondisi kehamilan Erina pada saat ini, kalau bukan dirinya yang memperhatikan Erina siapa lagi nantinya yang akan membuat Erina merasa nyaman.
Sedangkan Bram dan Erni sudah tidak memperdulikan Erina dan kehamilannya lagi, sekarang ini Erik hanya ingin fokus dengan Erina yang memerlukan bantuan dan perhatian dari dirinya.
"Kita bisa bertemu kapan saja dan juga di mana saja Erik!"
"Tapi Erina."
"Aku mohon, untuk kamu jangan mempermasalahkan semuanya lagi."
Setelah dipikir-pikir bagaimana kalau lebih baik Erik mencarikan rumah kontrakan saja untuk Erina, dari pada nantinya Erik harus mengantarkan Erina untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya, maka dia sendiri nanti yang akan kesulitan ketika ingin berjumpa dengan Erina.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita cari kontrakan saja!"
"Kontrakan?"
"Iya, bagaimana apa kamu setuju dengan usulku sekarang ini?"
"Kalau memang itu adalah keputusan yang terbaik agar kita bisa terus bertemu, maka aku setuju saja kalau sebaiknya aku tinggal di rumah kontrakan saja."
"Kita akan cari rumah kontrakan dekat sini saja."
"Baiklah kalau begitu."
Sehingga Erik batal dan tidak jadi mengantarkan Erina pulang ke rumah kedua orang tuanya, dan meminta Erina untuk tinggal di rumah kontrakan saja dan semuanya Erik yang akan menanggung, dari biaya dan lainnya selama biaya hidup Erina untuk kedepannya nanti.
Setelah berkeliling mencari rumah kontrakan tetapi mereka tidak menemukan rumah yang cocok, dan juga pas untuk ditempati oleh Erina sekarang ini.
"Gimana ini dari tadi kita berdua muter tetapi engga ada rumah yang mau dikontrakin."
"Kamu sabar dulu, aku yakin nanti kita sebentar lagi akan menemukan rumah yang pas dan cocok untuk kamu."
"Ya sudahlah kalau begitu."
Sampai akhirnya Erina ketiduran di dalam mobil, karena dia merasa hari ini sangat lelah sekali sehabis berkeliling mencari rumah yang mau dikontrakkan.
"Apakah rumah ini dikontrakkan?" tanya Erik kepada yang punya rumah.
__ADS_1
"Iya rumah ini bakalan dikontrakkan, tetapi harus bayar satu tahun ke depan biar engga bolak balik saya nagih uang kontrakan."
"Tetapi saya mau kontrak selama 6 bulan depan aja, kalau misalnya nanti cocok maka saya perpanjangan lagi sewa rumahnya."
"Baiklah kalau begitu, silahkan ajak istrinya masuk karena di dalam rumah juga sudah lumayan lengkap ada kasur dan juga lainnya."
Pemilik rumah yang mereka kontrak malah mengira, kalau Erik dan Erina adalah sepasang suami istri yang sekarang ini ingin mengontrak rumah.
"Baiklah saya akan mengajak istri saya masuk ke dalam rumah, karena dia juga sudah kecapean sekali."
Bahkan Erik juga sama sekali tidak membantah kalau saat pemilik rumah kontrakan tersebut menyebut mereka berdua suami istri.
Setelah bapak itu pergi, Erina langsung mencubit Erik karena merasa kalau Erik sudah keterlaluan berbohong seperti ini.
"Aduh sakit banget!!"
"Kamu apa-apaan sih, pakai acara bilang dan juga iyakan kalau aku ini adalah istri kamu segala. kalau sampai bapak itu tau kita ini bukan suami istri bagaimana?"
"Mana mungkin bapak itu sampai tau kalau, kita berdua ini adalah suami istri sedangkan dia juga engga mungkin tanya lagi."
"Bisa aja, kalau nantinya dia minta bukti data pernikahan kita gimana? soalnya aku engga mau kalau semua orang nanti salah mengira dan juga salah sangka."
Erina terlalu panik dan juga berlebihan menurut Erik, sehingga dia mencoba membuka pikiran Erina kalau yang dia pikirkan itu tidak akan pernah mungkin terjadi rasanya.
"Kamu tenang aja engga usah panik dan khawatir, kalau sampai nantinya pak Rt atau para warga di sini bertanya apa status kita bilang aja kalau kita suami istri dan aku yang akan hadapi mereka semuanya."
__ADS_1
"Terlalu beresiko, kalau misalnya kita melakukan semua ini."
Erina juga masih memiliki ketakutan yang sangat mendalam kalau sampai nantinya ada yang mengetahui, kalau misalnya mereka bukan suami istri lalu mereka akan diusir dari kampung di mana sekarang mereka ngontrak rumah.