
Satu bulan kemudian pada saat ini Erina merasa kalau kepalanya pada saat ini benar-benar sangat pusing, dan juga terasa mual sekali seperti tidak biasanya.
"Kamu kenapa sayang?"
"Kepalaku terasa sakit mas, perutku juga mual seperti pengen muntah."
"Apa jangan-jangan kamu masuk angin?"
"Mungkin saja mas, karena aku kelelahan sepertinya apa lagi pada saat ini aku kurang istirahat."
"Mendingan kamu pergi kedokteran aja sayang!"
"Engga usah mas, nanti juga akan sembuh sendiri kalau misalnya aku rebahan sebentar lagian ini cuman sakit masuk angin biasa saja."
Memang Erina orangnya sangat jarang sakit, sehingga yang pastinya saat dia merasa sekujur tubuhnya sakit semua seperti ini menganggap kalau pada saat ini dia hanya masuk angin saja.
"Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat saja dan aku juga mau pergi ke kantor."
"Hati-hati yah mas."
Setelah Bram pergi berangkat pergi ke kantor, akhirnya Erina terus menerus berbaring di kasur karena merasa kalau badannya terasa sangat sakit sekali pada saat ini seperti ada sesuatu yang sangat aneh.
"Erina bangun kamu!!"
"Ada apa mah."
"Ini udah siang, kenapa kamu masih rebahan di kasur kaya begini seharusnya kamu kerjakan semua pekerjaan rumah. masih ada cucian dan juga sayuran yang belum kamu masak."
"Badan aku benar-benar engga enak mah, biarkan aku istirahat untuk hari ini aja yah mah."
"Engga ada istirahat, kamu itu terlalu sangat manja sekali sedikit aja merasa sakit maunya rebahan santai."
"Tapi mah??"
"Engga ada tapi-tapian, sekarang juga kamu harus melakukan semua pekerjaan rumah."
Karena mendapatkan perintah dari mertuanya akhirnya Erina pun langsung bangun dari tempat tidur, untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah seperti menyapu mengepel lantai dan juga memasak.
__ADS_1
Apa lagi setiap harinya Erni tidak pernah membantu menantunya untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah, dia sengaja menyiksa Erina agar nantinya Erina tidak betah untuk tinggal di rumah ini.
"Ayo dong Erina kamu segera bangun sekarang juga, karena Kapan lagi kamu mau menyiapkan saya sarapan? menantu seperti kamu itu saya tahu kerjaannya hanya bermalas-malasan saja, dan nggak pernah mau untuk belajar mengerjakan semuanya tanpa saya suruh."
"Sabar dong mah, karena saya pada saat ini benar-benar merasa sakit."
"Paling sakit kamu itu hanya sandiwara saja."
Sepertinya Erni tidak pernah percaya dengan semua apa yang dikatakan oleh Erina, kalau dia benar-benar mengalami sakit, dengan keluhan kepala yang sangat sakit dan juga perut yang terasa mual.
Erina yang langsung menuruti semua apa saja diperintahkan oleh mertuanya, Walaupun dia merasa kalau kepalanya sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit yang ada, sehingga dia pun langsung pingsan hingga tidak sadarkan diri.
Melihat Erina yang pingsan tergeletak di lantai, tentunya Erni sangat benar-benar panik dia tidak tahu harus berbuat apa pada saat ini melihat Erina yang pingsan.
"Aduh bagaimana ini, kalau misalnya terjadi sesuatu hal yang buruk kepada Erina bisa-bisa nanti aku yang akan disalahkan oleh Bram."
Akhirnya karena tidak ingin mengambil resiko, akhirnya Erni pun menelpon ambulans untuk datang ke rumahnya menjemput Erina, yang pada saat ini tergeletak di lantai pingsan tidak sadarkan diri.
[Halo tolong segera kirimkan ambulans ke rumah saya di Jalan Melati Nomor 51.]
[Baik kami akan segera mengirimkan ambulance ke alamat yang telah Ibu berikan kepada kami.]
Setelah ambulans datang Erni pun langsung menyuruh pihak suster untuk membopong Erina masuk ke dalam ambulans.
"Tolong sekarang juga kalian bawa menantu saya ini segera pergi ke rumah sakit."
"Baiklah kami akan segera memberikan pertolongan pertama kepada menantu ibu."
Karena merasa khawatir Erina sendirian berada di dalam ambulans, akhirnya Erni pun mulai menemani menantunya untuk masuk ke dalam ambulans juga, karena tidak tega kalau membiarkan Erina sendirian seperti ini.
Walaupun Sebenarnya dia juga tidak terlalu memperdulikan Erina, karena memang hati kecil Erni yang tadinya tidak percaya Erina sakit sekarang mau tidak mau harus menemani Erina pergi ke rumah sakit, untuk mendapatkan pertolongan pertama dari dokter.
Setelah sampai di rumah sakit Erina pun langsung dibawa ke ruangan unit gawat darurat, karena memang dia harus mendapatkan pertolongan pertama dari dokter yang berjaga di rumah sakit tersebut.
"Mohon maaf sekali Ibu tidak bisa masuk ke dalam ruangan unit gawat darurat, bersama dengan menantu Ibu karena yang diperbolehkan masuk hanya pihak rumah sakit, dan juga pasien tidak ada yang lain."
"Tapi dia menantu saya suster saya, dan lalu saya harus mengetahui keadaan dia apakah baik-baik saja atau tidak."
__ADS_1
"Sebaiknya Ibu tunggu saja di ruang tunggu, nanti kalau misalnya ada kabar mengenai kondisi dan perkembangan dari menantu Ibu, pastinya kami akan mengabari segera mungkin."
Karena memang tidak bisa berbuat apa-apa pada saat ini, dan hanya bisa menunggu kabar dari suster yang mencoba untuk memberikan pertolongan pertama kepada Erina, akhirnya Erni hanya bisa duduk dan menunggu saja di ruang tunggu.
Setelah itu pihak rumah sakit langsung memberi kabar kepada Bram yang pada saat ini sedang berada di kantor, karena memang Bram harus Mengetahui bagaimana kondisi dan keadaan istrinya pada saat ini.
[Halo Bapak saya dari pihak Rumah Sakit Kasih Bunda, hanya ingin mengabarkan kalau pada saat ini istri bapak yang bernama Erina sedang dirawat di rumah sakit ini.]
[Apa Istri saya sedang dirawat di rumah sakit?.]
Bram pun ketika mendengar kabar dari pihak rumah sakit, mencoba untuk tidak berdiam diri begitu saja. Dia langsung sekarang juga berangkat ke rumah sakit karena dirinya tidak punya banyak waktu lagi untuk ngobrol lewat telepon.
Lebih baik dia langsung ke rumah sakit dan melihat keadaan secara langsung bagaimana saat ini kondisi Erina.
Saat Bram bertemu dengan Erni pada saat ini terlihat sekali wajah Erni nampak pucat, dan dia sangat takut kalau Bram akan menyalahkan dirinya, tentang semua apa yang terjadi pada saat ini kepada Erina.
"Mah, apa yang sebenarnya terjadi sama Erina kan aku bisa-bisanya dia masuk rumah sakit seperti ini?".
"Mama juga kurang tahu jelasnya bagaimana, mengapa Erina sampai masuk rumah sakit seperti ini karena terakhir mama lihat dia cuma tergeletak di lantai, dan lalu pingsan setelah itu mama pun menelpon pihak rumah sakit untuk mengirimkan ambulans segera ke rumah kita."
Sepertinya Bram sendiri tidak percaya dengan semua apa yang telah dikatakan oleh Erni, karena memang terakhir Bram bertemu dengan Erina pada saat itu dia sudah bilang kalau pada saat ini Erina merasa kalau tubuhnya tidak enak badan.
Lalu Bram sudah menyuruh istrinya untuk beristirahat, tetapi kenapa dia bisa sampai pingsan seperti ini dan bra menaruh curiga terhadap ibunya sendiri, kalau pingsannya Erina ada sangkut pautnya dengan Erni.
"Sepertinya aku curiga sama mama, kalau pingsannya Erina pada saat ini ada sangkut pautnya sama mama, yang selalu saja menyuruh Erina untuk mengerjakan pekerjaan rumah.".
Erni hanya diam saja dan tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang keluar dari mulut anaknya, dan sampai pada saat ini karena memang semua apa yang terjadi kepada Erina adalah kesalahan Erni yang sudah sangat keterlaluan sekali.
"Kenapa mamah hanya diam saja, dan tidak mampu menjawab semua pertanyaan yang telah aku berikan?"
"Kamu jangan menyalahkan mama kayak gitu dong, lagian kalau bukan karena mamah yang telah membawa istri kamu itu pergi ke rumah sakit, mungkin nyawa Dia nggak akan tertolong pada saat ini Seharusnya kamu sadar."
"Aku benar-benar berterima kasih atas semua pertolongan yang telah mama berikan kepada Erina, tetapi satu hal yang perlu mama tahu kalau semua apa yang telah mama lakukan kepada Erina itu sudah sangat keterlaluan sekali."
"Keterlaluan dari mana coba?"
"Buktinya sampai Erina sakit dan pingsan kayak gini itu sudah cukup jelas mah!!"
__ADS_1
"Terserah sekarang juga Kamu mau ngomong apa mau percaya atau enggak atas semua apa yang telah mama bicarakan sama kamu, lagian mama nggak ada maksud membuat Erina sampai jatuh sakit kayak gini."
Apakah Bram akan percaya dengan semua apa yang telah dikatakan oleh mamanya pada saat ini mengenai kondisi Erina??