Mengandung Benih Selingkuhan

Mengandung Benih Selingkuhan
Pisah Ranjang


__ADS_3

Rasanya semua itu sangat amat mustahil, kalau sampai Erina mau menyetujui permintaan sang mertua.


Untuk mau melakukan test DNA, apa lagi Erina sudah tau kalau anak yang dia kandung sudah jelas bukan anak Bram melainkan anak dari Erik.


Kalau Erina mau melakukan test DNA sama saja dia bunuh diri, ingin membuka semua kedok perselingkuhan yang dia lakukan dengan Erik selamat ini.


"Baiklah aku mau, kalau misalnya melakukan test DNA, tersebut untuk membuktikan semua apa yang mamah katakan itu semuanya salah. Dan juga untuk membuktikan kalau anak yang aku kandung sekarang adalah anak mas Bram!!"


Erik yang mendengar semua itu terkejut, menurutnya Erina memiliki nyali yang cukup besar untuk menyetujui semua ini.


Lagian pastinya Erina punya rencana lain, sampai dia berani berkata seperti itu apa lagi Erik tau kalau Erina bukanlah perempuan yang bodoh, melainkan dia perempuan yang cerdas dan juga cermat.


"Baguslah kamu berani, maka kita akan test DNA dalam waktu dekat ini. Untuk mengetahui siapa ayah dari bayi yang kamu kandung itu."


Setelah merasa semua permasalahan selesai, akhirnya Erina ingin masuk ke dalam rumah tetapi sepertinya tidak diperbolehkan oleh Erni untuk tinggal satu rumah dengan Bram. Sebelum semuanya terbukti dengan sangat jelas siapa ayah dari bayi yang Erina kandung.


"Kamu mau kemana?"


"Mau istirahat di dalam rumah, memangnya kenapa?"


"Saya tidak memperbolehkan kamu tinggal di rumah ini lagi mulai hari ini, sebelum hasil test DNA itu nantinya keluar dan juga sudah terbukti jelas semuanya kalau yang kamu kandung adalah cucu saya."


"Apa mamah engga salah ngomong? kalau engga tinggal di rumah ini aku harus tinggal di mana?"

__ADS_1


"Pulang ke rumah kedua orang tua kamu!!"


Dengan tegas sekali lagi, Erni meminta kepada Erina untuk lebih baik pisah ranjang saja beberapa waktu dengan Bram sebelum semuanya jelas.


"Tapi mah??"


"Engga ada tapi-tapian, sekarang juga silahkan kamu bereskan semua pakaian kamu dan angkat kaki dari rumah ini."


Erina berjanji kalau dia pasti akan bisa membuktikan dan membuat mertuanya tidak bisa berkata-kata lagi, apa lagi Erni sangat benci dengan Erina.


Tentunya dia akan membuat Erni menyesal seumur hidupnya kalau sampai nantinya, dia benar maka Erni tidak akan pernah bisa bertemu dengan bayi yang ada dalam kandungan Erina ketika dia sudah lahir ke dunia ini.


"Baiklah kalau misalnya itu yang mamah mau, aku sama sekali tidak keberatan untuk angkat kaki dari rumah ini. Jangan sampai nantinya mamah dan juga mas Bram akan menyesal karena telah menyia-nyiakan anak yang ada dalam kandungan saya ini."


"Mah, apa yang telah kita lakukan sama Erina ini sama sekali tidak kelewatan batas?"


"Sudah mendingan kamu istirahat saja, karena pikiran kamu terlalu berlebihan biarkan saja wanita itu, menebus semua kesalahan yang telah dia lakukan dengan cara pergi dari rumah ini."


Bram hanya diam saja dan tidak bisa berkata apapun pada saat ini, karena semua keputusan ada di tangan Erni bukanlah kemauan dari Bram untuk menyuruh Erina pergi dari rumah.


Erik yang khawatir dengan keadaan Erina sekarang ini, tidak pergi meninggalkan kediaman Bram.Tetapi dia malah memantau dari kejauhan sampai merasa Erina baik-baik saja di rumah itu.


Seketika Erik melihat kalau Erina keluar dari rumah itu, membawa tas yang lumayan cukup besar pada saat ini.

__ADS_1


"Erina kamu mau pergi kemana?"


"Bukan urusan kamu!!"


"Apa kamu marah sama aku?"


"Sebaiknya kamu pergi dari sini, karena aku engga mau kalau sampai ada orang yang liat kita berdua lagi."


"Aku minta maaf kalau misalnya sudah bikin kamu sudah sekarang ini." ucap Erik yang merasa sangat bersalah kepada Erina.


Dengan rasa penyesalan yang teramat dalam Erik mengucapkan semua kata maaf yang dia punya, untuk membuat Erina luluh dan tidak marah kepada dirinya.


"Ya sudahlah, kalau misalnya semua ini sudah terjadi mau dikata apa lagi. Lagian semuanya juga sudah terlanjur terjadi."


"Sekarang kamu mau kemana?"


"Aku mau pergi pulang ke rumah kedua orang tuaku, karena tadi ibunya mas Bram sudah mengusir dan menyarankan kami berdua untuk pisah ranjang."


"Kalau begitu sebaiknya kamu aku antar saja, karena terlalu sangat bahaya untuk kamu perempuan hamil harus jalan sendirian seperti ini. Apa lagi saya tidak mau kamu nantinya kenapa-napa."


Erina menganggukkan kepala yang menandakan, kalau sekarang dia bersedia diantarkan pulang oleh Erik ke rumah kediaman orang tuanya.


Bagaimanakah nantinya sikap kedua orang tua Erina, ketika mengetahui kalau anak mereka dipulangkan dalam kondisi hamil??

__ADS_1


__ADS_2