
Akhirnya Bram pun menyebarkan undangan acara syukuran kehamilan Erina kepada seluruh kerabat, dan juga saudara yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini di kediaman mereka.
Dan ternyata undangan itu juga sampai ke tempat Livi, kalau memang dia mengundang semua teman-teman dan kerabat untuk ikut bergembira atas kehamilan yang dialami oleh Erina pada saat ini.
"Apa sekarang Erina sudah hamil??"
Melihat undangan acara syukuran kehamilan Erina sampai di rumahnya itu tinggal Livi sangat terkejut, karena memang kemarin dia sempat berekspektasi untuk bisa menjadi istri kedua dari Bram, tetapi sekarang semua harapannya sudah pupus karena mana mungkin bram akan mau menikah lagi.
Kalau sekarang ini mana mungkin rasanya Bram mau menikah lagi seperti apa yang telah direncanakan oleh Erni, karena memang sekarang Erina sudah hamil dan mengandung pastinya semua rencana untuk menikah lagi tidak akan terlaksana.
Melihat Livi yang marah, dan membanting semua barang yang ada di rumahnya tentunya mamahnya menjadi heran.
Ada apa yang sebenarnya terjadi dengan Livi pada saat ini, mengapa emosi dan juga amarahnya sama sekali tidak terkendali.
"Livi apa yang terjadi sama kamu? kenapa kamu merusak semua barang yang ada di rumah ini?"
__ADS_1
"Aku merasa sangat kesal mah, karena semua tingkah laku tante Erni yang hanya bisa ngomong dan janji saja ingin membuat aku dan Bram dekat bahkan bisa sampai menikah."
"Terus masalahnya apa kalah misalnya Erni sudah ngomong dan janji kaya begitu sama kamu?"
"Sekarang menantunya sedang hamil, jangankan untuk menepati semua janjinya sama aku bahkan sekarang ini tante Erni sudah lupa tentang apa yang dia bicarakan."
"Lagian dia itu sudah punya istri, untuk apa lagi kamu berharap kepada laki-laki yang sudah berkeluarga nak."
"Engga bisa begitu mah, karena aku merasa sekarang kaya dibohongi sama tante Erni dan anaknya."
Lantas Livi yang merasa tidak terima mencoba untuk marah-marah kepada mamanya pada saat ini, karena bisa-bisanya Erni hanya membohongi dirinya untuk menjadikan dirinya sebagai istri kedua Bram, lalu sekarang sejak tahu kalau Erina sudah hamil mengandung membuat Livi tersinggung lalu sangat marah.
"Livi kamu seharusnya tidak bersikap kayak gini, lagian kalau misalnya Bram sudah bahagia dengan istrinya dan dia sudah bisa mendapatkan keturunan, seharusnya Kita sebagai orang terdekat dari keluarga mereka bisa ikut senang."
"Mana bisa aku ikut senang dan bergembira atas semua kebahagiaan yang terjadi kepada keluarga mereka, sedangkan aku sudah berharap bisa masuk dalam keluarga mereka dan menjadi istri kedua Bram."
__ADS_1
"Kubur semua niat kamu karena menjadi istri kedua itu sama sekali tidak enak."
Selaku orang tua tentunya dia tidak ingin ketika anaknya menjadi istri kedua, kalau masih ada laki-laki yang single yang mau dengan Livi kenapa dia harus memilih menjadi istri kedua, karena walau bagaimanapun nantinya ada perasaan yang tersakiti itu perasaan istri pertama.
"Aku pokoknya nggak mau tahu, Erni harus bertanggung jawab atas semua apa yang telah dia lakukan sama aku."
Atas semua kekesalan Erni akhirnya livi minta pertanggungjawaban, karena dirinya sudah erlanjur baper dan menaruh perasaan kepada Bram pada saat ini.
Sedangkan Erni sudah tidak ada menghubungi Livi lagi untuk berkomunikasi lebih lanjut, karena memang dia sudah tidak merasa ada urusan lagi dengan Livi pada saat ini.
"Coba nanti mama akan bicara sama tante Erni, dan kamu sebaiknya diam saja nggak perlu marah-marah seperti ini biar semuanya nanti akan menjadi urusan mama, karena walau bagaimanapun kita semua masih teman dekat."
"Terserah mamah saja gimana baiknya."
Selaku orang tua tentunya dirinya hanya bisa untuk membuat anaknya lebih tenang, tetapi melihat kelakuan Erni yang seperti ini membuat Livi merasa kesal dirinya juga tidak tinggal diam begitu saja, dan tidak membenarkan semua perlakuan yang telah Erni lakukan kepada Livi.
__ADS_1
Pikirnya lebih baik dia yang turun tangan selaku orang tua dari pada nanti Livi marah-marah kepada Erni, dan bicara pakai emosi karena walau bagaimanapun juga dia masih menghargai Erni karena mereka sudah berteman cukup lama sekali.
Apakah nanti berhasil mamahnya Livi, memberikan Erni pelajaran??