
Bi Ijah yang pada saat ini sedang ingin mengantarkan minuman untuk Erina di ruang tamu, dia mendengar semua percakapan antara Erina dan Erik, tentunya Bi Ijah benar-benar sangat terkejut.
"Astagfirullah."
Seketika Bi Ijah yang sedang membawa teh panas ke ruang tamu menumpahkan semuanya, sampai gelas yang dia bawa benar-benar pecah karena memang Bi Ijah sama sekali tidak menyangka sampai sejauh ini hubungan Erina dan Erik.
Erik dan Erina pun langsung tertuju kepada Bi Ijah semua perhatiannya, karena mereka sangat kaget ketika di Ijah muncul tiba-tiba seperti ini, tidak pakai permisi terlebih dahulu.
"Apa yang Bibi lakukan di situ? kenapa bisa-bisanya Bibi nggak pakai permisi terlebih dahulu untuk mau ngantar minuman tersebut, apa jangan-jangan Bibi sudah mendengar semua pembicaraan antara saya dan Erina?"
"Maaf tuan muda, Bibi memang tidak sengaja mendengarkan semua pembicaraan antara tuan muda dengan non Erina."
Karena merasa tidak enak sudah mendengar semuanya dengan sangat menyesal, akhirnya Bi Ijah minta maaf kepada Erik dan juga Erina, karena semua ini benar-benar tidak sengaja.
Akhirnya Bi Ijah pun duduk bersama dengan mereka berdua, karena mungkin Bi Ijah sudah terlanjur mendengar semua pembicaraan antara Erina dan Erik, setelah ini Erina akan menjelaskan semua biduk permasalahan mereka semua.
"Mendingan sekarang bi Ijah duduk di sini sama kita berdua, karena Bi Ijah kan hanya dengar sekilas semua pembicaraan saya dengan Erik."
"Baik Non Erina."
Mau atau tidak mau Bi Ijah harus duduk dengan mereka semua pada saat ini, karena dia sudah terlanjur tahu kalau pada saat ini Erina sedang mengandung anak Erik.
"Apa Bibi tidak salah dengar atas semua apa yang telah tadi kalian berdua bicarakan, kalau pada saat ini Non Erina sedang hamil dan mengandung anak tuan muda?"
"Benar Bi, engga ada yang salah dengar."
__ADS_1
Bukannya mengelak dan tidak mengaku malah Erina berkata yang sejujurnya kepada Bi Ijah, kalau pada saat ini dia sedang hamil dan mengandung anak Erik.
"Terus bagaimana dengan nasib bayi yang ada di dalam kandungan non Erina, sedangkan pada saat ini kalian tidak mungkin bersama karena memang status Non Erina masih istri orang?"
"Saya mohon sama Bi Ijah untuk jangan pernah memberitahu semua ini kepada siapapun juga, karena memang kami berdua sudah sepakat tidak akan pernah mengungkit masalah status bayi ini, karena sampai kapanpun juga suami saya mengetahui, alau bayi yang ada di dalam kandungan ini adalah anak saya dan suami saya."
Erina mulai menjelaskan dari hati ke hati sesama perempuan kepada Bi Ijah, kalau yang diperlukan anak yang ada di dalam kandungannya pada saat ini adalah status soal nanti dirinya hingga dia besar.
Tentunya Bi Ijah sangat terkejut kenapa semua ini harus terjadi, lagian secara ekonomi dan finansial Erik sangat benar-benar mampu untuk menafkahi anak tersebut,
Dan juga bertanggung jawab kenapa sampai-sampai status anak itu harus dipertanyakan lagi, bukannya sudah jelas kalau dia adalah anak Erik.
"Bukan bermaksud Bibi untuk ikut campur terlalu dalam perihal masalah kalian berdua pada saat ini, tetapi Bibi hanya ingin bertanya apakah tuan muda nantinya siap kalau harus kehilangan anak ini, dari dia kecil hingga nantinya sampai dia dewasa? "
Erik hanya diam saja, dan mulai berpikir kalau apakah nanti dia siap harus kehilangan anak itu untuk selama-lamanya, secara status dan lainnya karena tidak mungkin rasanya saat anak itu nantinya lahir dan sudah besar.
"Kenapa kalian berdua diam saja tidak ada yang menjawab satu orang pun pertanyaan yang bibi lontarkan."
"Bukannya seperti itu Bi Ijah tetapi saya hanya tidak ingin merusak kebahagiaan Erina dan suaminya,
walaupun saya sudah mengakui apa yang telah kami berdua lakukan itu benar-benar kesalahan besar."
"Kalau memang tuan muda sudah melakukan kesalahan besar, tolong Bibi mohon sama tuan muda jangan pernah melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya, jangan sampai nantinya tuan muda akan menyesal kehilangan anak itu untuk selama-lamanya."
Walaupun Erik harus mengorbankan dirinya, untuk merelakan Erina dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya untuk Bram, tetapi dia juga harus memikirkan dirinya sendiri dan juga kebahagiaan dirinya walau bagaimanapun Erik juga masih punya hati dan perasaan.
__ADS_1
Ketika dia sudah rela mengorbankan semuanya demi Erina dan juga anak mereka, tetapi Erik sudah menyatakan kalau dirinya menyesal dan akan memperbaiki semuanya.
"Saya benar-benar ikhlas ketika melihat Erina bahagia bersama dengan Bram suaminya bahagia, walau bagaimanapun yang berhak atas Erina dan bayi ini adalah suaminya bukanlah saya."
Melihat ketulusan Erik yang pada saat ini benar-benar menyentuh hati, tentunya di Ijah meneteskan air mata walaupun mereka berdua sudah berbuat dosa, tetapi Erik rela mengalah dan menyerahkan bayi tersebut untuk Bram.
"Bibi benar-benar terharu atas semua perjuangan tuan muda, yang sudah benar-benar ikhlas dan merelakan untuk melihat Erina dan anaknya, bahagia dengan suaminya. Nanti tuan muda akan bisa bahagia juga seperti mereka."
Walaupun dirinya bukan siapa-siapa di rumah ini dan hanya pembantu tetapi memang Bi Ijah dan Erik sampai sedekat Itu, karena memang Erik tidak punya sanak, saudara, ataupun kerabat selain di Ijah yang sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.
"Saya mohon sekali sama Bi Ijah, jangan sampai ada orang lain yang mengetahui kalau bayi yang ada di dalam kandungan saya ini adalah anak Erik.".
Sekali lagi Erina mencoba untuk memohon kepada Bi Ijah, Karena dia sudah mengetahui semuanya tentunya Erina harus meminta keikhlasan hati Bi Ijah untuk tutup mulut, dan tidak membongkar semua rahasia ini.
"Baiklah kalau begitu bijak akan tutup mulut dan tidak akan pernah mengatakan kepada siapapun juga, mengenai rahasia besar ini semoga nantinya kalian berdua bisa mendapatkan jalan keluar yang terbaik."
Karena memang dasarnya Ketika seseorang sangat tulus mencintai, maka dia akan rela melihat orang yang kita cintai berbahagia bersama dengan orang lain, di situlah letak cinta yang sesungguhnya.
Setelah mendapatkan jawaban dari Bi Ijah tentunya Erina merasa benar-benar lega, karena mereka semua bisa menjaga rahasia ini dan Erik juga sudah menyetujui kalau misalnya dia mau menyerahkan anak ini nantinya untuk Bram dan Erina, tidak mempermasalahkan semuanya lagi.
"Kalau begitu saya izin mau pamit pulang dulu."
"Kalau begitu saya antarkan saja."
"Jangan Erik!! kalau misalnya nanti Bram mengetahui kalau kamu mengantar saya pulang ke rumah, bisa-bisa nanti dia akan marah dan cemburu."
__ADS_1
"Kamu tidak usah perlu khawatir, karena saya mempunyai berbagai macam alasan agar dia tidak marah kepada kamu dan saya."
Saat melihat nantinya Erina diantarkan pulang oleh Erik, apakah Bram tidak menaruh curiga kepada mereka berdua??