Mengejar Cinta Bu Guru

Mengejar Cinta Bu Guru
Episode 17


__ADS_3

sesampainya di kosan Febri masuk dan Fahri langsung kembali ke kompi tempat dia bertugas .


"huff malam ini gue sendiri biasanya ada Riri sekarang dia udah jadi istri mas Angga, Hem semoga kebahagiaan mengantar kan mereka amin" doa tulus Febri untuk sang sahabat.


"eh tunggu kok tiba-tiba bang Fahri bersikap manis ya sama gue bahkan tadi dia ngambilin gue makanan terus ngelapin bibir gue lagi argh.... kok jadi baper sih" kesal Febri mengingat tingkah laku mereka tadi.


sementara di kediaman Angga dan Riri saat ini mereka berada di kamar pengantin mereka dan Riri menjadi was-was takut jika sang suami meminta hak nya.


"is kok gue deg-degan ya Hem nggak mungkin kan mas Angga minta hak dia malam ini seraya besok dia mau berangkat satgas ,kok gue merinding ya" guman riri .


saking asik dalam lamunannya Riri tidak sadar jika Angga memeluk nya dari belakang dan melingkarkan tangannya di perut sang istri


"kamu kenapa sayang kok mas perhatiin kamu bengong , kamu takut malam ini mas akan mintak hak mas sama kamu Hem" kata Angga pelan .


mendapat pertanyaan sang suami Riri hanya mengangguk kan kepala saja serta tidak lama kemudian Angga tertawa dan itu membuat sang istri aneh .


"kamu kenapa mas , emang ada yang lucu" kata Riri ketus.


"nggak sayang aku tuh gemes sama kamu , gini ya aku nggak maksain kamu kalo belum siap dan aku juga kan besok mau berangkat jadi malam ini kita istirahat aja ya" jawab Angga penuh perhatian.


"iya mas " jawab sang istri.


akhirnya sepasang suami istri itu akhirnya tidur saling memeluk satu sama lain untuk menjemput mimpi bersama.


sementara Fahri setelah pulang dari mengantar kan Febri ia tidak bisa memejam kan mata karena bayangan Febri terus menari di pelupuk matanya. dan akhirnya dengan putus asa ia pun mencoba menghibur Febri.


Tut...Tut..... suara nada tersambung

__ADS_1


Febri yang kala itu sedang membaca novel di buat kaget dengan telpon masuk yang berasal dari Fahri.


"aduh bang Fahri nelpon gimana ini angkat nggak ya kata Febri ragu" akhirnya saking ke lama untuk mengangkat telpon sudah mati dan Febri mendesah kecewa "ya mati deh" .dan tidak lama kemudian terdengar lagu suara deringan hp, dan akhirnya terpaksa Febri angkata.


(Assalamualaikum dek)


(waalaikumsalam salam bang)


(adek udah tidur) kata fahri merutuki kebodohan atas pertanyaan sendiri, jelas Febri menjawab telpon nya berarti perempuan itu belum tidur dan Fahri dengan bodoh nya menanyakan pertanyaan seperti itu.


(belum kok bang, abg kenapa belum tidur)


(Abang rindu sama kamu dek)


hening dan tiba-tiba terdengar tawa seseorang siapa lagi kelakuan nya kalo bukan Febri.


(jadi kamu nggak rindu Abang dek)


(hehehe udah deh Abang istirahat aja besok kan mau berangkat satgas)


Dan akhirnya percakapan malam itu berakhir sementara Fahri masih sangat kesal dengan ulah Febri yang tidak percaya kata-kata nya kalo dia memang mencintai wanita itu.


"kok kamu nggak percaya sih dek sama Abang, apa karena Abang pernah nyakitin kamu sehingga semua kata-kata Abang kamu anggap bercanda, jujur dek saat ini abang hanya sayang sama kamu , Abang mau kamu yang jadi istri abang buka. perempuan lain" gumam Fahri dengan nada kecewa.


sebenarnya Fahri merasa sedih dan gagal menjadi seorang pria yang meyakini sang pujaan hati, dulu ia risih ketika Febri mengejarnya dan selalu menghubungi nya , sekarang di saat perempuan itu sudah mulai menjauh dari sisi nya dia yang kelipungan dan dia sendiri datang mengejar cinta perempuan itu, dia bertekad kan meluluh kan hati perempuan itu yang sudah kecewa dengan namanya cinta , maka dia kan menghapus kan rasa kecewa itu dan mengganti kan dengan kebahagiaan dan cinta untuk perempuan yang sangat berarti dalam hidupnya.


pagi hari di bataliyon mereka yang akan menjalankan tugas berkumpul di temani oleh istri dan keluarga mereka , begitu juga dengan Angga yang di temani oleh sang istri, sementara Fahri menunggu sang kekasih agar datang untuk mengantarkan nya untuk memberikan semangat dalam menjalankan tugas negara.

__ADS_1


"ri Febri nggak kesini apa" tanya Fahri lesu.


"nggak tahu bang soal nya nomor nya nggak aktif" jawab Riri apa adanya.


mendengar jawaban Riri Fahri nampak kecewa dan sedih.


"kamu mungkin nggak akan datang yank kamu mungkin tidak mau melihat aku , segitu benci nya kamu sama aku yankk, padahal sebelum aku berangkat aku mau lihat wajah kamu yankk supaya nanti aku semangat untuk menata masa depan kita, tapi sepertinya kamu memang tidak datang" kata hati Fahri senduh.


sementara Febri terbangun kesiangan dan bergegas mandi setelah itu ia pergi ke tempat Fahri berada dan sial nya jalan macet karena ada kecelakaan.


"is ini apa lagi kok macet sih pak bisa cepat sedikit nggak pak" kata Febri gelisah.


"aduh nggak bisa ini susah sekali macet nya manjang" kata sang supir.


"ya udah pak saya turun di sini". Akhirnya Febri turun dari taksi dan berlari menuju ke tempat Fahri , padahal napas nya sudah sesak tapi demi Fahri dia melakukan semua nya .


"huh capek gue lari ke gini , mana jauh lagi tapi harus semangat demi menyemangati calon imam harus kuat" kekeh Febri karena tanpa sadar menyebut Fahri sebagai calon imam nya.


sesampainya di bataliyon Febri masuk dan mencari fahri ketika pandangan nya melihat Fahri yang akan naik ke truk iya pun bergegas dan beteriak memanggil nama Fahri.


"bang Fahri tunggu" kata Febri mengejar Fahri tanpa melihat orang-orang melihat kearahnya semua, sementara Fahri yang samar-samar mendengar seseorang memanggil namanya segera ia tepis karena ia yakin itu hanya halusinasi nya saja , dan Fahri terus berjalan , hingga di panggilan terakhir ia menoleh ke Belakang dan betapa terkejutnya dia melihat sang pujaan hati telah duduk bersimpuh di tanah.


Febri yang kelelahan mengejar Fahri akhirnya terpaksa berhenti karena sudah sangat lelah, iya menyerah karena percuma jika ia berteriak-teriak tapi fahri tidak melihat ke arahnya .


"ya Allah capek banget gue ternyata gue udah telat dan ternyata bang Fahri nggak lihat gue , hiks...hiks... kok gue mewek sih" kata Febri sambil mengusap peluh dan air mata nya yang jatuh karena sedih akan di tinggalkan Fahri.


Fahri yang melihat Febri terduduk tidak berdaya segera berlari dengan cepat tanpa peduli orang-orang yang melihat nya berlari seperti orang gila, meski dia di pandang aneh dia tidak peduli demi bisa memeluk sang kekasih.

__ADS_1


__ADS_2