
Menggapaimu
Malam ini...
Aku termenung memikirkanmu
Bulan dan bintang menjadi temanku saat itu
Padahal...
Awalnya kamu yang terus menolakku
Tanpa memberi kesempatan dan peluang untuk masuk ke hatimu
Ingin sekali...
Jika diberi kesempatan
Aku bisa memilikimu
Tapi.....
Ada satu pikiran yang membuatku terdiam
Dan sangat ku takut jika hal tersebut sampai terjadi
Seandainya kau bersama orang lain, Akankah Aku Sanggup Melihatnya
Dan seandainya, aku tidak bisa melupakanmu
Ku kan selalu menunggumu
Ku yakin ...
__ADS_1
Pasti tidak seperti diriku!!!
Kuharap....
Aku bisa menggapaimu
Dan menggenggam erat tanganmu
untuk selamanya
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Sepanjang lorong menuju kelas banyak sekali para kaum hawa yang bersorak-sorak pada sosok pria tampan yang berjalan di sana, dia adalah murid pindahan dari Jepang yang baru masuk kemarin tapi sudah mengerti Bahasa Indonesia sedikit berkat les privat selama seminggu ini.
Plakk, plakk
Sebelum masuk kelas, pria itu dikejutkan dengan pukulan yang mendarat di bahunya.
"Ternyata salju itu sangat dingin sehingga membuat sifat seseorang menjadi dingin," seru Ferel melihat sikap dingin Tazu.
"Eh... Somplak mana ngerti tuh anak Bahasa lu," kata Egi menyindir Ferel.
"What do you say?" Tazu akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Tuh jawab deh lu ngerti nggak sih." Egi kembali menyudutkan Ferel.
Merasa tak mengerti dengan apa yang terjadi, Tazu memilih pergi ke bangku paling sudut yang ada di belakang. Tempat dimana dia duduk selama hari kemarin. Hari dimana dia masuk ke sekolahnya ini
Tak lama kemudian Fanya masuk ke kelas yang diikuti oleh Alan yang membawa banyak buku.
"Hai Alan, yang baik hati, tidak sombong, dan pintar. Lu sahabat terbaik gua, kita udah temenan lama, jadi lu pasti nggak mau kan sahabat lu ini diusir dari kelas cuma karena nggak bikin tugas," kata Fanya sambil menghampiri Alan yang sedang sibuk dengan bukunya serta di ikuti dengan bibir yang sedang melengkung ke arah Alan.
"Enggak usah muji-muji deh, bilang aja lu mau nyontek PR gua kan," seru Alan sambil memberikan sebuah buku pada Fanya.
__ADS_1
"Hehehe... Tahu aja lu." Cengir Fanya.
Tazu sempat melihat ke arah mereka berdua, dia tidak mengerti pada Alan yang mau saja membiarkan Fanya menyontek bukunya. Ia pun mengalihkan perhatiannya ke layar ponselnya.
Fanya tidak menyadari sudah ada cowok yang duduk di bangku depannya, karena keasyikan membuat PR, cowok itu memandangnya sambil bertopang dagu dengan tangannya.
"Serius amat sih kamu membuat PRnya!!," seru Ferel yang membuat Fanya terkejut dan mendongakkan kepalanya ke atas, sehingga kepala Fanya membentur dagu Ferel, yang membuat mereka meringis kesakitan.
"Eh, sejak kapan lu ada di situ??, " tanya Fanya dengan nada membentak dengan wajah kesal kepada Ferel sambil mengusap keningnya yang terasa berdenyut - denyut.
Sementara itu Tazu terkejut di tempatnya duduk. Karena bentakkan Fanya.
"Nggak usah marah-marah kali, aku kan cuma menatap bidadari yang ada di depanku ini," goda Ferel malah melayangkan senyuman tak berdosanya.
"Lu mau natap bidadari, mati aja kali," seru Fanya yang nggak seneng dengan rayuan Ferel.
"Cantik-cantik kok galak," sela Egi yang sudah duduk di samping Fanya dengan di ikuti senyum konyolnya.
"Kok lu udah bertengger di situ sih," geram Fanya yang kembali menyiapkan PR-nya. Dia tidak ingin, PRnya tidak hanya karena dua orang idiot di depannya.
"Tazu... Grill ini Angry banget lebih parah dari game Angry Birds," seru Egi dengan bahasa yang tidak jelas yang tidak ditanggapi Tazu.
"Oh... Jadi itu anak barunya," seru Fanya yang baru menyadari kehadiran makhluk asing dari planet antah - berantah. Dia melihat kearah Tazu yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Fanya lu keterlaluan banget, emang kemarin-kemarin lu ke mana aja sih, sampai-sampai lu nggak tahu ada anak baru di kelas ini," kata Egi yang terkejut dengan reaksi Fanya, saat mendengar ada anak baru di kelas mereka.
"Udah deh, gua kan kemarin nggak sekolah, lagian gua kan baru tahu tadi pagi, saat Alan menceritakannya," jawab Fanya mengingatkan Egi. Dia masih sibuk mengerjakan PR nya sedikit lagi siap.
Obrolan mereka pun terhenti, karena bel waktu jam pelajaran pertama berbunyi. Ferel dan Egi langsung kembali ke bangku mereka masing-masing, sedangkan Fanya mengembalikan buku PR Alan kepada Alan yang sudah selesai dia catat.
Tak lama kemudian Ibu Guru pun masuk ke kelas mereka yang seketika suasana di kelas menjadi hening seperti kuburan.
***
__ADS_1