
Semua pohon mulai berwarna putih tanpa terkecuali pohon Sakura. Yang biasanya berwarna pink serta menghujani bungannya saat musim semi.
Udara sekarang sudah mulai mendingin daripada biasanya. Tazu dan teman - temannya menyusuri jalan dengan mobil untuk mencari sosok temannya yang sudah berjalan terlalu jauh dari rumah.
16 menit kemudian Tazu menghentikan mobilnya, saat mereka sudah sampai dilokasi yang disebutkan oleh Fanya. Taman Odaiba Marine Park sudah dekat dengan pusat kota Tokyo.
Semua orang yang ada di mobil turun serta berpencar mencari keberadaan Fanya. Mereka langsung mencari Fanya yang berada di deretan orang-orang yang lagi liburan musim dingin di sana.
Hana menyusuri jalan setapak yang mulai memutih. Saat pandangannya berhenti tepat di bawah pohon sakura. Sosok wanita yang dikenalnya sedang duduk di sana sambil mendekap dirinya untuk menghangatkan badannya. Hana pun langsung menghampiri gadis itu.
"Fanya, kamu kedinginan ya? kamu nggak apa-apa kan?" kata Hana sambil berjongkok di sana. Dia melihat gadis itu begitu pucat. Dia langsung saja mendekap saudaranya. Sebelumnya, dia sudah menghubungi teman - temannya.
"Aku nggak apa-apa kok. Hana, maaf"
Hana tiba-tiba meletakkan jari telunjuknya di bibir saudaranya sehingga Fanya tidak bisa melanjutkan ucapannya. "Jangan banyak omong lagi! Apalagi bilang maaf! Lagian kamu nggak salah kok! kamu masih bisa jalan kan?" tanya Hana khawatir yang hanya dijawab oleh Fanya dengan anggukan pelan.
"Ya udah, aku bantuin kamu berdiri ya! Kita jalan pelan aja ke mobil, sebelum Tazu dan yang lainnya menemukan kita! Di sini sangat dingin, tidak cocok dengan keadaanmu saat ini!" Fanya hanya menuruti kata-kata Hana. Dia sekarang sudah benar - benar kedinginan. Rasanya salju - salju itu sudah masuk ke permukaan kulitnya hingga meresap ke tulangnya. Apalagi bajunya yang sedikit tipis membuat dirinya tambah kedinginan.
Beberapa menit kemudian Tazu, Alan dan Ferel menemukan mereka.
Alan pun dengan sigap mengangkat tubuh mungil Fanya dan langsung membawanya ke mobil. Sementara itu Tazu dan Hana mengikuti mereka dari belakang sedangkan Ferel merasa panas dingin melihat adegan itu di pelupuk matanya. Tapi mau tak mau dia mengikuti mereka dari belakang.
Di dalam mobil Alan langsung melepaskan jaketnya dan menyalipkan jaket itu di ketubuh mungil Fanya. Sementara itu Ferel juga melepaskan jaketnya dan juga ikut - ikutan memakaikan jaketnya ke tubuh Fanya. Alan cuma menatap tajam ke arah Ferel yang berada di bangku depan disamping Tazu yang sedang menyetir.
"Ka... kalian itu la... lama ba... banget jem... jemputnya, a... aku di... disana u... udah ja... jadi beku tahu" kata Fanya dengan susah payah mengatakannya dengan gigi yang gemetaran karena kedinginan.
"Ya maaf deh, lagian salah sendiri, udah tahu di Tokyo sedang musim salju. Kenapa nggak bawa jaket tebal lagi!" seru Tazu.
"Udah deh, kasihan Fanya dia itu kedinginan" kata Alan yang duduk di samping Fanya.
"Yaudah aku beliin dia sake dulu ya, supaya menghangatkan badannya" kata Tazu.
__ADS_1
"Sate? Emang di sini ada sate ya? Emang sate di sini seenak sate padang nggak? Setahu ku sate nggak bisa menghangatkan badan."
"Bukan sate Alan, tapi sake. Jangan dong Tazu, nggak usah dibeliin."
"Itu aja nggak tahu" sindir Ferel.
"Emang nggak ada yang beri tahu." Alan tidak terlalu menanggapi sindiran Tazu. "Oh iya, kenapa jangan Hana? Emang sake itu apa?" tanya Alan.
"Sake itu minuman keras seperti arak yang mampu menghangatkan badan" jelas Tazu.
"Ya jangan dong, kasihan Fanya. Lagian di agama kami juga nggak boleh minum itu walaupun setetes" kata Alan lagi sedangkan Ferel saja sambil menyesali perbuatannya tadi kepada Fanya.
Setengah jam pun berlalu, mereka pun akhirnya tiba juga di rumah Hana. Di sana sudah ada Ayah dan Ibu Hana yang menunggu kedua Putri mereka yang belum pulang.
Saat mobil yang sudah familier berhenti di depan rumah mereka. Dia pun langsung mengenali Tazu, Hana dan Ferel temannya yang dari Indonesia. Saat Alan dan Fanya tidak keluar dari mobil. Mereka pun akhirnya mengkhawatirkan keadaan keduanya, terlebih lagi keadaan Fanya.
Tak lama setelah itu, keluarlah Alan yang menggendong Fanya. Mereka berdua pun mengerti apa yang terjadi dengan Putri mereka. Ayah Hana langsung saja mendekati mobil dan membantu Alan membawa Fanya ke dalam rumah.
"Fanya kenapa?" tanya wanita paruh baya itu mengkhawatirkan keadaan anaknya.
"Hm, Hana tolong Mama buatin susu panas untuk Fanya! Biar Mama yang menggantikan baju Fanya nantinya dan kalian cowok-cowok silakan tunggu di kamar kalian atau ruang tamu!" seru wanita itu.
"Baik Ma" kata Hana langsung berlalu dari sana menuju dapur.
"Tapi Tan, ada yang bisa kami bantu gitu?" tanya Ferel.
"Kalian pergi aja ke kamar kalian itu sudah membantu. Dari pada di sini. Kalian nggak mau kan lihat Tante lagi mengobati Fanya" kata wanita itu dengan tatapan tajam.
"Ya nggak Tan, sebaiknya kami pergi dulu. Lagian sekarang ada hal yang harus kami kerjakan di dalam kamar" kata cowok-cowok itu langsung menuju ke kamar mereka. Mereka merasa sangat takut melihat tatapan tajam Mama Hana itu.
"Oh yaudah" kata Mamanya Hana sambil mengunci pintu kamar itu. Lalu dia pun mengganti baju Fanya yang sudah basah karena salju. Dengan baju yang kering dan hangat. Sementara itu Fanya tertidur karena terlalu kedinginan. Tak lama setelah itu Hana mengetuk pintu kamar itu dan langsung dibuka oleh Mamanya. Hana pun meletakkan pesanan Mamanya di meja belajarnya.
__ADS_1
"Ma, gimana keadaan Fanya? Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Hana.
"Dia tidak apa-apa, dia cuma kedinginan, sekarang dia lagi tidur. Hana, tolong bujuk Fanya lagi untuk tinggal di sini."
"Aku udah mencobanya Ma, tapi alasannya dia nggak mau jauh dari Abangnya."
"Mama jadi kasihan sama dia. Dia nggak pernah dianggap di sana, Mama dan Papa kalian terlalu sibuk dengan kerjaan mereka. Mama khawatir sama dia. Dia akan kesepian di sana. Mama malah takut lagi, jika tiba-tiba kejadiannya kayak dulu Hana."
"Aku mengerti Ma, tapi aku nggak bisa maksa dia. Lagian kan dulu Mama juga mengasuhnya, tapi kenapa dia sekarang ada di Indo?"
"Oh Mama belum cerita ya soalnya ini ke kamu."
"Belum Ma" kata Hana sambil duduk di kursi meja belajarnya.
"Dulu Mama sebenarnya mengandung. Saat itu juga, saudara Mama juga mengandung. Tapi, saat melahirkan. Bayi Mama meninggal dunia. Sementara itu, Mamamu melahirkan kamu dan Fanya. Saat itu, Mama benar-benar terpukul dengan takdir yang Mama memiliki. Tak setelah itu, tiba-tiba saja, Mama dikabarkan tidak bisa hamil lagi. Saat itu Mama sudah putus asa dengan takdir yang Mama miliki." Wajah Mama Hana sudah di penuhi oleh air mata. "Tapi di saat yang bersamaan, saudara Mama mengatakan kalau dia mempunyai bisnis yang besar. Makanya, dia menitipkan kedua bayi mungilnya sama Mama." Seulas senyuman terparti di wajah Mamanya. "Mama sangat senang saat itu. Mama dengan senang hati merawat kedua bayi itu hingga suatu ketika, Fanya meminta pergi ke Indonesia. Kota tempat kelahiran Mama yang dikenal dengan tanah surga. Udara di sana sangat bersahabat. Apa saja yang ditanam di sana, semua bisa hidup. Saat Fanya minta kesana. Mama dengan senang mengajaknya berkeliling, hingga akhirnya dia ingin tetap tinggal di sana. Itu makanya Fanya bisa tinggal di sana."
"Oh gitu ya Ma. Tapi, kenapa nama aku dan Fanya itu beda Ma?" Hana makin penasaran.
"Awalnya Mama juga memberikan nama Jepang sama Fanya. Tapi, saat dia bilang ingin tinggal di Indonesia. Terpaksa semua berkas yang berhubungan dengan Jepang pun langsung diganti."
"Oh begitu ya. Berarti Mama dan Papa aku waktu itu belum memberikan nama kepada kami saat kami tinggal di Jepang Ma?" Pertanyaan Hana pun hanya dijawab gelengan kepala oleh Mamanya.
"Kapan Fanya mulai tertarik dengan wilayah Indonesia? Serta inilah sebabnya Mama dan Papa nggak ngizinin aku untuk pergi ke Indo?"
"Dia mulai tertarik dengan Indonesia berumur 10 tahun. Tapi, saat umur 12 tahun baru, dia tinggal di sana. Maafin Mama ya. Mama nggak bermaksud gitu sama kamu. Tapi, Mama nggak mau kehilangan anak Mama lagi" kata Mama Hana saat itu juga Hana langsung keluar dari kamar tersebut.
"Hana..., Hana. Kamu mau kemana?" tanya wanita itu. Tapi, tidak dihiraukan oleh Hana. Saat akan keluar kamar dia berselisih dengan Papanya yang baru membeli obat untuk Fanya.
"Hana kemana?" tanya suaminya saat ada di kamar Hana.
"Aku menceritakan semuanya kepada Hana, aku merasa Hana bisa memakluminya, tapi ternyata dia memang masih kecil" kata wanita itu diantara tangisannya.
__ADS_1
"Ya sudah biar saja dia tenang dulu." Papa Hana kemudian memeluk istrinya serta menenangkannya.
*****