
"Hi" kata dua cowok yang berjalan mendekati Tazu yang sedang duduk di bangku, di bawah pohon rindang dekat taman sekolah.
Tapi, lagi - lagi Tazu tidak menghiraukan sapaan teman-teman sekelasnya.
"Can we stay here?" ucap Egi. Sementara itu, mereka berdua langsung duduk disamping Tazu, tanpa menunggu persetujuan Tazu yang lagi asyik dengan smartphonenya.
Saat teman - temannya duduk didekatnya, dia pun cepat-cepat memasukkan smartphonenya kedalam saku celananya.
"Why are you always busy with your phone?."
"It's not your affair."
Tak lama setelah itu, smartphone Tazu malah tiba-tiba berbunyi.
Dia pun langsung mengangkat telepon itu tanpa menunggu persetujuan dari kedua temannya. Ia tak mengira kalau yang menelpon itu adalah pacarnya yang berada di Jepang, karena dia memang sudah lama tidak menghubungi cewek itu.
"Moshi-moshi '(Hallo)'" terdengar suara lembut seorang cewek yang menyapa diseberang telepon.
"Moshi-moshi" kata Tazu dengan senyum mengembang di wajah.
"Kenapa kamu nggak ada kasih kabar selama seminggu ini??"
Tazu mendengar nada cemas dari seberang telpon.
"Gomaimasen '(Maaf)' Kisetsu-chan, aku lagi sibuk dengan les dan berbagai macam kegiatanku disini"
"Daijyoubu desu '(Nggak apa-apa)' Kaminari-kun, lain kali kamu kasih kabar aku ya!! Aku takut kamu kenapa-kenapa di sana!!."
"Hai '(iya)' Kamu nggak perlu khawatir dengan hal itu" ucap Tazu berusaha menenangkan Pacarnya.
"Ngomong-ngomong, gimana pemandangan di sana??"
"Sangat indah, lain kali kamu datang ke sini juga ya!!"
"Hai, mochiron desu (iya, tentu), aku kangen kamu Kaminari-kun."
"Aku juga Kisetsu-chan."
"Ya udah, kamu baik-baik saja di sana. Udah dulu ya, aku mau masuk kelas sekarang, by."
"By" kata Tazu sambil memutus panggilannya.
"Tazu, who is she??" tanya Ferel dan Egi hampir bersamaan. Saat Tazu sudah menyimpan kembali telpon genggamnya kembali.
"Not your problem"
__ADS_1
"We are friend, you can tell me about your secret."
Tazu yang merasa privasinya terganggu pun segera pergi dari sana tanpa menghiraukan kedua teman sekelasnya. Dia pun memutuskan untuk pergi ke kelasnya walaupun bel masuk, masih lama akan berbunyi. Tapi, sebelum tiba di kelas ada seorang cewek yang tiba-tiba memanggil Tazu.
"Tazu!!" panggil seorang cewek dari arah belakangnya.
"Nani??" kata Tazu reflek sambil membalikkan badannya ke arah cewek itu. Saat melihat cewek yang ada di depannya mengerutkan kening, Tazu pun sadar kalau dia ada di Indonesia bukan lagi di Jepang. Dia pun mengganti Bahasanya dengan Bahasa Inggris. "Sorry, are you call me??"
"Yes, can you Indonesian language" kata cewek itu sambil melempar senyum manisnya.
"Yeah, my be" kata Tazu malah menatap muak dengan senyum wanita itu. Sekarang dia tidak ingin diganggu. Tapi, ada - ada saja sesuatu mengganggunya. Semenjak gadisnya menelpon, dia malah merasa hatinya di aduk - aduk kembali. Padahal dari beberapa hari ini dia menata hatinya, supaya tidak memikirkan kekasihnya yang jauh di sana. Dia tidak tau, kapan dia akan kembali lagi ke sana.
"Oh, aku ingin kenalan sama kamu"
"Ta... Tadi kamu sudah manggil... Na... Nama Saya, berarti kita sudah kenal" kata Tazu dengan terbata - bata.
"Bu... Bukan itu, kan kamu belum tahu namaku kan?," kata cewek itu agak gugup.
"Oh seperti itu, memangnya... Nama..... Kamu.... Siapa?," kata Tazu dengan terbata-bata.
"Namaku Khalisa dari kelas XI IPS 1," kata Khalisa sambil mengulurkan tangannya.
"Oh, hallo Khalisa, salam kenal," kata Tazu sambil menjabat tangan Khalisa, lalu menarik kembali tangannya sambil berkata. "Sampai ketemu lagi."
Kemudian dia pun berlalu ke dalam kelasnya. Dia tidak menyangka hari ini, hari yang paling berat di dalam hidupnya dia tidak menghiraukan lagi panggilan cewek yang tadi berkenalan dengannya.
Di tempat yang lain, tepatnya di kantin Ferel kembali mendekati Fanya yang lagi makan sendirian.
"Apa aku boleh duduk di sini??" tanya Ferel sambil mengembangkan senyumnya.
"Ya boleh, nggak bayar kok."
Ferel pun duduk di depan Fanya yang lagi makan bakso. Sebelum duduk, dia sudah memesan makanannya. Selama pesanan Ferel belum datang, Ferel tidak mau membuka obrolan dengan Fanya, karena jika pesanannya datang saat berbicara penting itu akan mengacaukan obrolannya dengan Fanya.
Tak lama kemudian pesanannya datang, mereka berdua makan dalam diam.
"Makin hari kamu makin cantik aja," kata Ferel membuka obrolan.
"Udah deh nggak usah gombal."
"Aku nggak gombal kok, emang kenyataan."
"Lu kalau mau gombal, sama cewek lain aja deh, gua nggak bakalan ngaruh dengan gombal murahan lu itu."
"Kamu kok segitu bencinya sama aku, emang apa aku punya salah sama kamu?."
__ADS_1
"Ya lu sih nggak punya salah, tapi gua nggak suka sama cowok yang suka gombal kayak lu itu."
"Aku bukannya gombal tapi emang kenyataan."
"Udah deh nggak usah mulai lagi, kalau lu mulai lagi gua akan pergi dari sini sekarang juga."
"Jangan, iya mulai sekarang aku nggak bakalan gombal ataupun muji kamu, tapi mau kan terima aku jadi pacarmu?."
"Gua pergi," kata Fanya sambil berdiri, tapi sebelum berjalan tangan Fanya sudah digenggam Ferel sehingga menahan Fanya dan nggak bisa pergi.
"Jangan, maaf kalau kali ini aku buat kamu marah."
"Ya, gua bukannya nggak mau terima lu, tapi gua nggak ada perasaan sama lu, makanya gua selalu nolak lu," kata Fanya duduk kembali.
"Pliss deh kamu terima aku ya, aku nggak masalah kamu menyukai aku atau enggak, Apa perlu aku bawa bunga untuk kamu kesini?."
"Nggak usah, kita lebih baik berteman aja."
"Kenapa??."
"Kenapa apanya?."
"Kenapa kamu nggak mau terima aku?."
Sebelum Fanya menjawab, bel pun berbunyi menandakan jam istirahat sudah habis.
"Sekarang gua mau ke kelas dulu, emang lu mau bareng nggak."
"Eh iya, lagian aku udah selesai kok makannya,l." Fanya yang melihat nasi goreng Ferel yang masih tinggal setengah piring. Mengerutkan kening, tanda tidak mengerti apa yang telah selesai.
"Yakin, kalau lu masih mau makan gua tungguin deh?."
"Nggak usah, aku udah selesai kok, aku yang bayarin makananmu ya?."
"Nggak usah gua punya uang kok."
Mereka berdua berjalan beriringan menuju kasir.
"Bu berapa nasi goreng, bakso dan 2 jus jeruk??."
"Semuanya Rp.43.000 dek."
Kemudian Ferel pun menyerahkan uang Rp.50.000 ke Ibu kantin setelah menerima kembaliannya dia dan Fanya pergi dari kantin.
"Kenapa lu bayarin gua, kan gua udah bilang kalau gua nggak mau dibayarin oleh lu ngerti nggak sih."
__ADS_1
"Nggak apa-apa, sekali-sekali aku traktir kamu".
"Ya udah deh".