
Keesokan harinya Fanya sudah kelihatan segar dan ceria kembali. Bahkan panas badannya, sudah turun ditambah lagi dia sudah berdandan yang cantik yang menandakan dia akan pergi keluar. Tapi, saat dia lagi asyik-asyiknya merapikan rambutnya. Pintu kamar itu pun, diketuk dari luar. Fanya pun membuka pintu itu. Alangkah terkejutnya dia, saat melihat ada Ferel di depan pintu. Dia tadi sempat mengira, kalau yang mengetuk pintu adalah Hana. Hana sudah keluar kamar sejak 5 menit yang lalu.
"Hai Fanya" sapa Ferel ramah diiringi senyum yang terkembang disudut bibirnya.
"Un, Nan desuka?" (Ya, ada apa?)
"Kamu bisa pakai bahasa Indonesia, kan?" tanya Farel ragu-ragu.
"Hmm, ada apa?" tanya Fanya kembali yang sudah lumayan hangat daripada kemarin.
"Aku mau minta maaf. Untuk soal yang kemarin,.."
"Udah lupakan aja." Fanya memotong kata - kata Ferel.
"Kamu mau kemana? Kok udah cantik aja?"
"Emang ada masalah buat lu?"
"Nggak sih. Tapi, apa kamu beneran udah maafin aku? Kok nada suara kamu masih dingin aja?"
"Emang ada masalah buat lu?"
"Nggak sih"
"Emang masih ada yang mau lu bicarakan?"
"Nggak, nggak ada
"Terus, kenapa masih di sini?"
"Emang nggak boleh?"
"Boleh aja. Tapi, jangan ganggu gua"
"Emang kamu nggak mau nyuruh aku untuk masuk kamar"
"Untuk apa?"
"Aku ingin nunggu kamu untuk pergi sama yang lain"
"Oh, ya udah" kata Fanya.
__ADS_1
Kemudian Fanya kembali menyisir rambutnya yang basah sedangkan Ferel duduk di tepi tempat tidurnya. Setelah menyisir rambut, Fanya pun tiba-tiba ingin buang air. Dia pun kembali ke kamar mandi. Saat itu, Ferel masih duduk di kasur.
Setelah keluar dari kamar mandi, Fanya mendapati kedatangan seorang tamu yang tak di undang lagi.
"Hai Fanya. Gimana keadaanmu?"
"Hai juga, Alan. Gua udah baikan kok"
"Kamu hari ini cantik, deh"
"Masa sih?" Fanya pun tersipu malu akibat pujian Alan.
"Beneran deh"
"Oh ya, makasih ya"
"Ya, Fanya. Ferel, ngapain lu di sini? Yang lain udah nungguin di luar tahu"
"Mau nunggu Fanya"
"Fanya nggak ikut tahu"
"Kenapa?"
"Karena dia belum sehat. Jadi, nggak boleh ikut. Ikut belanja keperluan tahun baru"
"Ya udah, gua juga nggak ikut deh"
"Nggak boleh, lu harus ikut. Gua aja yang nggak ikut, untuk jagain dia"
"Itu mah, maunya lu. Biar dekat - dekat dengan dia.
"Udah ah, kalian berdua harus ikut. Gua nggak perlu dijagain. Gua udah gede tahu"
"Nggak, kamu harus ada yang jagain. Jadi, aku akan selalu jagain kamu."
"Jika, kalian ingin aku ada yang jagain. aku memilih Hana untuk disini bersamaku. Jadi, kalian berdua bisa pergi dengan Tazu"
"Nggak ah, dia itu cewek. Mana mungkin bisa jagain kamu?"
"Ikatan, dengan ikatan saudara tidak akan pernah bisa dilawan oleh siapapun, lagian siapa juga yang mau celakain orang di siang hari gini, nggak adakan?!"
__ADS_1
"Baiklah, tapi nanti setelah aku belanja, kamu mau ya makan bareng di luar bersama aku."
"Aku juga ingin makan berdua sama kamu, kamu nggak usah peduliin dia" kata Ferel.
"Fanya ada apa? Kok mereka berdua ada disini?" tanya Hana yang juga diikuti oleh Tazu.
"Nih 2 orang ini membuat aku repot aja. Mereka ingin jagain aku, terus ngajak makan berdua aja. Kan badan aku cuma satu, lagian keduanya nggak ada yang mau ngalah. Oh iya Hana, kamu di sini aja ya untuk jagain aku, sedangkan mereka berdua pergi kepasar untuk membeli perlengkapan tahun baru bersama Tazu. Bolehkan, Hana?"
"Jagain kamu, emang siapa yang berani jahatin saudara aku?" tanya Hana sambil tertawa bersama Tazu.
"Ya tentunya mereka lah siapa lagi?"
"Saudara? Hana kamu saudaraan sama Fanya?" tanya Tazu sambil mengerutkan keningnya.
"Ya iyalah, kita semua kan saudara. Kita kan tinggal satu rumah, berarti kita satu keluarga" kata Hana dengan gugup mencari alasan.
"Iya juga sih" kata Tazu yang langsung merangkul bahu kedua temannya sambil membawa mereka berdua pergi dari sana.
"Aku nggak mau pergi, aku mau jagain Fanya" kata Ferel.
"Kenapa musti aku yang juga ikut pergi sih" teriak Alan masih tidak terima.
Suara mereka berdua, semakin lama, semakin tidak terdengar di telinga Fanya dan Hana lagi.
"Wakatta (syukurlah), akhirnya aku bisa terbebas dari 2 cowok itu" seru Fanya. "Makasih ya, Hana. Udah bantuin"
"Iya, lagian mereka berdua itu benar-benar tergila-gila sama kamu. Emang kamu pakai mantra apa? Aku ingin juga! Tapi, nggak jadi. Nanti aku nggak bisa hidup dengan tenang lagi"
"Aku nggak ada pakai mantra apa-apa. Oh iya maaf, Hana. Karena aku, kamu nggak bisa lagi bersama Tazu lebih lama."
"Ya, nggak apa-apalah. Lagian tadi, waktu keduanya disini. Aku bisa berdua-duaan sama Tazu.
"Menurutmu, sebaiknya aku menginap di Villanya Papa aja, ya? Supaya kedua cowok itu nggak mengganggu aku"
"Emang kamu berani?"
"Ya beranilah, malah aku takut sama kedua cowok itu lagi."
"Kalau iya, nanti aku hubungi Otosan, kan kuncinya ada di Otosan"
"Iya, makasih Hana." Fanya pun memeluk Hana.
__ADS_1
*****
Masih ada yang nungguin cerita ini up. Cerita ini baru saja mau masuk konflik. Maaf jika baru di up. Mulai sekarang insyaallah akan di up hari selasa. Terimakasih telah membaca novel saya. Dan jangan lupa untuk like dan komen serta kritik dan saran. Serta mengikuti karya saya lainnya. Semoga kedepannya karya saya dapat menghibur.😊😊😊😊