
"Hana, aku pasti akan merindukanmu. Kamu teman terbaik yang pernah aku temukan di negeri yang nggak aku kenal ini" kata Hana yang sekarang sudah menyamar menjadi Fanya.
"Iya, aku akan merindukanmu juga. Lain kali, kalau liburan datang lagi ke sini, ya." Fanya pun memeluk saudaranya. "Aku sekeluarga akan selalu menunggu kedatanganmu"
"Iya lain kali aku akan ke sini lagi" timpal cewek itu sambil melepaskan pelukannya.
"Hana-chan, jaga dirimu baik-baik ya. Aku janji liburan besok, aku akan kembali ke sini. Kimi Ga Suki de." Tazu malah ikutan memeluk Fanya. Fanya tidak membalas pelukan Tazu.
"Iya, Kaminari-kun. Kamu hati-hati di jalan ya." Seketika Hana menatap tajam kearah Fanya. Fanya pun tidak berani bicara lagi.
Sementara itu Alan dan Ferel terdiam, tidak ada yang ingin mengeluarkan suara. Karena takut - takut nanti mereka salah bicara lagi.
"Alan, Ferel. Emang kalian nggak ingin pamit dengan Hana?" tanya Tazu yang sudah melepaskan pelukan eratnya.
"Tapi kan, nggak ada salahnya kan. Pertemuan yang begitu singkat ini kita layaknya seperti keluarga. Kalau pamit berarti mengakhirnya. Aku ingin menjalin hubungan seorang sahabat dengannya. Apa boleh lain kali kita ngobrol lagi, Hana?" tanya Alan dengan sehati-hati mungkin, supaya tidak menyinggung perasaan Tazu.
"Iya juga, beberapa hari ini adalah liburan yang menyenangkan yang mungkin nggak akan pernah aku lupakan. Mungkin suatu hari nanti kita juga akan bertemu lagi, kali ini aku sepedapat dengan Alan. Nggak ada salahnya untuk berteman" kata Ferel sambil mengembangkan senyum manisnya.
"Aku senang banget punya teman seperti kalian. Lain kali, jika kalian butuh tempat untuk menginap. Kalian boleh nginep di rumahku. Aku dengan senang hati akan menerima kalian" kata Fanya dengan senyum yang terkembang. "Apalagi kalian adalah teman - teman Tazu" tambahnya.
"Hana-chan, Kok kamu gitu sih" kata Tazu tak terima.
"Kan cuma bantuin teman kesusahan aja, masa nggak boleh?" ucap Fanya meyakinkan Tazu.
__ADS_1
"Ya udah, kami pergi dulu ya. Ini sudah waktunya untuk naik pesawat" kata Hana.
"Baik, Fanya. Sampai ketemu lagi Hana" kata para cowok serempak. Kemudian mereka berempat berjalan meninggalkan Fanya.
"Iya hati-hati di jalan ya" teriak Fanya kepada rombongan itu sambil melambai-lambaikan tangannya, hingga akhirnya dia tidak melihat sosok mereka. Barulah setelah itu dia pergi meninggalkan bandara.
*****
"Mama" ucap seorang cewek yang baru saja masuk ke dalam rumah tersebut.
"Fanya, apa kamu udah selesai liburan? Mama dengar kamu ke tempat tantemu bersama teman-temanmu, gimana dengan liburan kamu di sana? Apakah menyenangkan" tanya wanita paruh baya itu sambil tersenyum kepadanya.
"Mama, apa Mama nggak kenal dengan anak Mama yang lain? Mama sama Papa udah lama nggak pergi ke Jepang. Padahal aku sangat kangen dengan Mama dan Papa" kata Hana dengan raut wajah sedih.
"Iya, aku Hana. Anak mama yang tidak pernah Mama lihat selama ini. Fanya sekarang masih di Jepang" kata Hana dengan wajah yang terluka.
"Mama dan Papa bukannya nggak sayang sama kamu. Tapi, kami sekarang lagi banyak bisnis yang bisa membuat kalian berdua tercukupi, makanya..."
Hp Mamanya tiba-tiba berbunyi sehingga memotong percakapannya. "Tunggu sebentar ya, Hana. Mama angkat telepon dulu." Tanpa mendengar persetujuan dari Hana, Mamanya mengangkat panggilan itu.
5 menit kemudian telepon pun ditutup.
"Maaf Hana, Mama harus pergi sekarang. Mama nggak bisa nemani kamu sekarang. Nanti kita lanjutkan bicaranya lagi" kata Mamanya dengan raut wajah yang menyesal.
__ADS_1
Sementara itu, Hana langsung membalikkan badannya dari posisi tadi yang membelakangi pintu tanpa menghiraukan kata-kata Mamanya. Saat dia akan melangkahkan kaki, mamanya kembali bersuara. "Hana, kamu mau ke mana, Nak?"
"Mau pergi" kata Hana singkat lalu langsung berjalan.
Saat di depan pintu, tangan Hana ditahan oleh Papanya yang baru datang.
"Mau kemana, Fanya? Emang kamu besok nggak sekolah? Bukannya liburan sudah usai" ucap Papanya.
"Aku mau pergi ke hotel dan besok pagi, akan berangkat lagi ke Jepang. Lebih baik aku dan Fanya tinggal di sana aja untuk selamanya, daripada mengganggu pekerjaan Mama dan Papa di sini" kata Hana makin terluka sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Papanya. Dia tak percaya kedua orangtuanya tidak ada yang mengenalinya.
"Ka... kamu Hana? Papa minta maaf selama ini Papa nggak bisa ke sana. Papa dan Mama nggak bisa ngambil cuti saat ini, karena Papa harus memenangkan bisnis ini" kata Papanya dengan yang sendu juga.
"Mama sama Papa selama ini nggak pernah mikirin bagaimana keadaan kami. Bisnis.... bisnis, cuma itu yang ada di pikiran Papa sama Mama. Aku dengan susah payah pergi ke sini. Tapi, Papa dan Mama malah tidak menghiraukan aku. Aku masih bersyukur bisa tinggal sama Otosan dan Okasan yang menyayangiku. Tapi aku merasa sedih kalau Fanya nggak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya dan bisa jadi juara dengan usahanya sendiri, sedangkan aku yang masih sempat merasakan kasih sayang pun salut dengan Fanya. Tapi Papa dan Mama malah tidak pernah melihat perjuangannya dan prestasinya untuk mencapai semua itu. Aku sekarang tidak ingin bertemu kalian lagi. Urus aja pekerjaan Mama dan Papa serta nggak usah temui kami lagi" kata Hana dengan air mata yang sudah turun. Ia langsung keluar dari rumah itu sambil menghapus air matanya.
Hana pun memberhentikan sebuah taksi yang kebetulan melintas didepannya. Dia pun langsung masuk kedalam taksi lalu mengatakan tempat tujuannya dan taksi pun berjalan hingga dia tidak melihat rumah besar itu lagi.
*****
Masih semangat nggak nantikan kelanjutan ceritanya. Semoga saja para pembaca tidak bosan dengan ceritanya. Maklum masih amatiran nulisnya.
Terima kasih telah membaca karya saya. Semoga ceritanya pada menghibur. Jangan lupa ktitik dan saran supaya kedepannya saya bisa berkarya lebih baik lagi.
Jangan lupa juga baca novel Cinta dan Benci season 2, serta rekaman author yang berjudul Toxic.
__ADS_1