Menggapaimu Kimi Ni Todoke

Menggapaimu Kimi Ni Todoke
Bab 22


__ADS_3

Bab 22


Percakapan mereka terhenti, karena ada seseorang yang masuk ke kamar itu.


"Hai" sapa cowok ganteng yang masuk itu sambil tersenyum.


"Mau apa lu kemari?" tanya Fanya ketus.


"Emang lu nggak dengar! Apa yang disampaikan Hana? Apa lu budeg?"


"Kenapa aku nggak boleh ke sini? Sedangkan Tazu aja boleh ke sini"


"Gua nggak punya masalah dengannya, gua juga nggak punya masalah dengan Alan. Jika, dia mau ke sini juga, nggak apa - apa. Tapi, gua punya masalah dengan lu. Emang lu udah pikun ya atau pura-pura lupa sih?"


"Nggak, aku masih ingat apa yang terjadi kemarin. Aku ke sini mau...." kata Ferel pun dipotong oleh Fanya.


"Gua takut sama lu, gua nggak ingin bicara lagi sama lu"


"Tuh kan, kamu bicara sama aku."


"Lu yang keluar dari sini atau gua yang keluar dari sini!?"


"Tapi..."


Fanya memotong kata-kata Ferel. "Baiklah itu mau lu." Fanya pun melangkah untuk keluar. Tapi, dihalangi oleh Hana dan Tazu.


"Kenapa kalian halangi aku? Aku nggak mau bicara dengannya!"


"Iya - iya, kamu memang nggak mau bicara dengannya, kami nggak bermaksud menghalangimu" kata Hana.


"Terus apa ini?" tanya Fanya.


"Kamu itu masih sakit, nanti kalau keluar kamu tambah sakit loh" kata Tazu.


"Hana tolong usir dia dari kamar ini" kata Fanya memohon kepada Hana sambil menangis layaknya anak kecil yang merengek meminta di penuhi keinginan.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu pergi, nanti panas badan Fanya tambah tinggi. Bicara sama dia, setelah semuanya membaik!" seru Hana masih dengan keramahannya.


Ferel masih tidak berkutik dari tempatnya berdiri, sebelum Tazu menariknya keluar dari kamar


.


"Kamu itu ngerti dikit dengan perasaan cewek, dia itu bilang nggak ingin bicara sama kamu. Jadi, kamu keluar aja dulu, sebelum dia mengacak-ngacak kamar Hana gara-gara kamu. Ferel pun tersadar dari lamunannya.


"Tapi aku mau bicara sama dia."


"Udah kita nonton aja diruang tamu, setelah dia baikan baru deh, kita bicara sama dia" kata Tazu sambil menutup pintu kamar itu.


Sesampainya mereka di ruang tamu, di sana sudah ada Alan yang langsung menohok mereka dengan pertanyaan.


"Fanya kenapa?" tanya Alan dingin.


"Dia nggak apa-apa kok" kata Ferel.


"Kalau nggak apa-apa, kenapa dia teriak-teriak gitu?! Untungnya Om sama Tante udah nggak ada di rumah."


"Kalau di rumah kenapa?" tanya Tazu.


"Pu? Pu apa?" tanya Tazu malah penasaran.


"Maksudnya Fanya yang ceria, jadi teriak-teriak gitu" kata Alan meralat kata-katanya.


"Oh." Tazu malah tidak ingin menunjukan kepenasaranannya di depan teman - teman. Dia tidak ingin dibilang seseorang yang suka mengurusi urusan orang lain.


"Apa jangan-jangan, lu lagi yang buat dia kayak gitu? Jika sampai lu nyakitin dia, gua nggak akan segan-segan mengubur lu di salju itu!" ancam Alan menatap tajam kearah Ferel.


"Lagian ini semua juga gara-gara lu, jika lu nggak nembak dia kemarin, pastinya ini semua nggak akan terjadi." Ferel membela dirinya. Dia tidak ingin terus - terusan disalahkan. Walaupun dia tau kalau dia yang salah.


"Suka-suka gua dong. Mau gua nembak dia, mau nggak. Itu bukan urusan lu. Lagian selama ini, selalu aja lu yang nembak dia, kan gua jadi kasihan sama dia, kayak nggak ada cowok lain yang suka sama dia. Lagian, jika gua nggak nyatain perasaan gua kemarin, mungkin gua nggak akan punya kesempatan lagi. Asal lu tahu, Adana juga menyukainya"


"Apa? Adana suka dengan dia."

__ADS_1


"Ya iyalah, kayak lu nggak pernah suka aja. Dia itu kan, selalu memberikan perhatiannya secara diam-diam kearah Fanya."


"Gila tuh ketua kelas, pantasan waktu lomba kemarin, dia terus mengamati Fanya. Terus apa bedanya dengan lu?"


"Ada kok bedanya, buktinya gue nembak dia lebih cepat dibandingkan ketua kelas."


"Tapi kan, lu udah tahu kalau gua sangat suka sama dia. Kenapa lu tembak juga dia?


"Emang kita sahabatan itupun karena dia, tapi gua udah suka sama dia jauh sebelum lu datang dengan kekonyolan lu itu."


"Terus, kenapa lu baru nembak dia kemarin?"


"Itu karena selama ini, gua mikirin perasaan lu, hingga kemarin, gua udah nggak tahan lagi dengan perasaan gua"


"Emang tidak ada cewek lain yang akan kalian pada perebuatkan?" gumam Tazu. "Jika tidak ada, biar aku cariin cewek - cewek Jepang yang putih untuk kalian"


"Emang perasaan itu bisa digantikan sesuka hati, apa? Perasaan itu muncul dengan sendirinya" kata Alan.


"Betul tuh, kali ini gua sependapat dengan lu, Alan" kata Ferel.


"Gua ingin lihat keadaan Fanya sekarang. Kali aja, gua dibolehin masuk oleh Fanya" kata Alan sambil beranjak dari ruang tamu menuju kamar Fanya.


Setibanya di pintu kamar Fanya, Alan mengetuk - ngetuk pintu tersebut. Taklama kemudian, Hana pun membukakan pintu itu.


"Apa aku boleh masuk, Hana?" tanya Alan.


"Kayaknya, kamu nggak usah masuk. Soalnya Fanya sekarang baru aja tidur. Setelah kelelahan menonton film anime"


"Oh gitu. Ayo kita ke ruang tamu, Tazu juga ada disana"


"Oh baiklah." Mereka berdua pun pergi ke ruang tamu. Hana langsung duduk di dekat kursi Tazu, sementara itu Alan duduk di kursi lainnya.


Mereka semua berniat untuk pergi dari rumah. Tapi, mengingat Fanya masih sakit, mereka merasa tidak enak. Jika, meninggalkannya sendirian. Apalagi mereka takut akan membuat Mama dan Papa Hana marah, karena membuat Fanya sendirian. Jadi, mereka semua membatalkan niat mereka. Sehingga seharian itu, mereka habiskan untuk menonton TV di rumah.


*****💗💗💗💗💗🔮🔮🔮💗💗💗💗💗*****

__ADS_1


Terima kasih telah membaca karya saya. Semoga ceritanya pada menghibur. Jangan lupa ktitik dan saran supaya kedepannya saya bisa berkarya lebih baik lagi.


Jangan lupa juga baca novel( Cinta dan Benci )


__ADS_2